Slider

Referensi Bacaan

kajian

Buletin

Informasi

Hikmah

Ibrah

Dokumentasi

Puasa; Pembuka Pintu Hidayah

Sumber  iqf.com
Diceritakan dalam manaqibnya, saat al-Syeik ‘Abd al-Qadir al-Jailani tenggelam dalam mujahadah kepada Tuhan, tiba-tiba muncul sinar cemerlang yang memenuhi cakrawala penglihatan. Sinar tersebut berkata: “Wahai Abd al-Qadir, Aku adalah Tuhanmu, setelah beribadah selama puluhan tahun, amalmu sangat banyak sehingga memehuni antara Timur dan Barat, menyesakan antara bumi dan langit, dan memberatkan timbangan mizan di akhirat. Oleh karenanya, mulai sekarang ini, Aku cukupkan ibadah kepadamu. Kamu tidak perlu beribadah lagi kepadaku, karena telah cukup amalmu”.

Mendengar perintah sinar yang mengaku Tuhan seperti itu, Abd al-Qadir berfikir sejenak, benarkah ini wahyu Tuhan khusus kepadaku, benarkah Tuhan memberiku keistimewaan untuk tidak menjalankan perintahNya? Abd al-Qadir sempat ragu, antara meyakini suara Agung nan cemerlang tersebut atau menolaknya. Hatinya yang sedang dilingkupi keterharuan merasa menerima suara tersebut, tetapi akal rasionya tidak menerimanya, mana mungkin Tuhan mencabut perintahNya untuk beribadah, sementara Muhammad Sang Nabi sendiri masih tetap diperintahkan beribadah hingga akhir hayat?

Dalam kebimbangan tersebut, Abd al-Qadir memutuskan untuk memilih akalnya, ia segera ambil terompahnya dan dilemparkan pada sinar agung yang bergulung tersebut; “Pergi, engkau adalah syetan bukan Tuhan, Tuhan tidak mungkin membatalkan firmannya”. Seketika itu juga, sinar putih keperakan tersebut hilang, diiringi dengan suara yang menggema; “ Wahai Abd al-Qadir, engkau selamat dari godaannku, ketauhilah, sudah ribuan salik yang berhasil aku sesatkan dengan cara seperti ini. Engkau selamat karena menggunakan akalmu, sedangkan para salik yang geblinger tersebut karena mereka mengabaikan akalnya.

Puasa sebenarnya merupakan media terbagus manusia berhubungan dengan Tuhan. Puasa menjadi ritual mediator yang menghubungkan keinginan hamba dengan kehendak dan petunjuk Tuhan. Allah dalam hadis qudsiNya mengatakan sendiri: “al-shaumu li wa ana ajzi bihi” (Puasa itu ibadah privat antara hambaKu dengan Aku, dan Aku yang akan membalasnya secara langsung).

Berkaitan dengan ini, seorang hamba yang melakukan puasa jasmani dan rohani, maka dia sebenarnya semakin dekat dengan Sang Pemberi Hidayah (al-Hadi). Oleh karenanya, hidayah, ilham dan petunjuk Allah akan semakin sering menyapanya, membimbingnya dalam jalan yang benar melalui berbagai cara dan dimensi.

Puasa yang benar akan membimbing pelakunya mudah menerima hidayah-hidayah Allah yang tersebar di alam raya ini. Dengan puasa, maka hidayah Allah akan semakin terbuka dan disematkan oleh Allah kepada mukmin yang berpuasa, sebagai ganjaran atas puasanya.

Berkaitan dengan hidayah Allah, Ibn Katsir membagi hidayah menjadi lima, yaitu pertama, hidayah naluri, yaitu petunjuk Allah yang diberikan pada manusia dan binatang, seperti rasa lapar, sakit kalo dipukul, haus dan sebagainya. Hidayah ini menempati hidayah paling bawah.

Kedua, hidayah hawassi, yaitu petunjuk Allah melalui pancaindera, seperti kemampuan melihat, mendengar, membau, dan mengecap. Indera ini diberikan kepada hewan dan manusia. Dengan hidayah hawassi ini manusia mampu melahirkan ilmu-ilmu empirik.

Ketiga, hidayah akal, yaitu petunjuk Allah yang diberikan kepada manusia melalui perantara akal. Akal hanya diberikan kepada manusia, tidak kepada hewan. Keempat, hidayah agama, yaitu petunjuk Tuhan yang diberikan kepada manusia dengan melalui perantara agama. Kelima, hidayah taufiq, yaitu petunjuk Allah yang paling besar, yaitu hidayah yang menggerakan hati hambaNya untuk memeluk Islam.

Kelima macam hidayah Allah ini akan semakin mudah ditangkap oleh hati seorang mukmin yang benar-benar berpuasa di Bulan Ramadhan. Puasa menjadikan hatinya bening dan bersih laksana batu pualam yang mampu menangkap sinar-sinar ketuhanan di alam semesta ini. Puasa adalah medan tempaan jiwa seorang mukmin, sehingga ia berubah dari “tembaga” menjadi “emas” berharga. Maka tidak salah ketika Jalaluddin Rumi, seorang sufi agung dalam kitab Matsnawi-nya mengatakan:
Selalu periksa keadaan batinmu
Menggunakan Sang Raja dari hatimu.
Tembaga tidak pernah mengetahui dirinya tembaga,
Sebelum ia berubah menjadi emas.
Cinta kasihmu tidak akan mengenal Rajanya,
Sebelum ia menyadari ketidakberdayaannya.
Ust. M. Roy Purwanto
Tafakur Ramadlan #5 1436 H.
Pertapaan Kawah Condrodimuko
(Amha/)



Ngaca Dulu, Biar Gak Ngaco

Benda yang satu ini sangat familiar, sering dijual di toko bangunan, bahkan di pinggir jalan. Tetapi sadar atau pun tidak, benda ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan, bagaimana rasanya jika hidup ini tidak ada cermin, tentu kita tidak akan pernah tahu akan rupa diri kita sendiri. Bahkan bagi sebagian perempuan, keberadaan cermin itu tidak bisa lepas dalam aktivitas keseharian, kemana-mana biasanya cermin itu selalu dibawa.

Misalnya saja, untuk membetulkan kerudung yang kurang pas, mereka (perempuan) tak segan untuk izin ke kamar kecil. Padahal tujuannya cukup simple, ya hanya untuk membetulkan kerudungnya. Tanpa ada bantuan cermin rasanya terkesan ribet. Bagi sebagian wanita yang senang dandan tentu cermin kecil selalu menemani kemana pun mereka pergi.

Ketika make-upnya dirasa sudah luntur, alisnya mulai tipis, lurus dan lain-lain, tak segan mereka mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas mungilnya. Sebetulnya, tak jauh berbeda juga dengan laki-laki yang senang dengan fashion. Hanya saja laki-laki biasanya cukup bercermin di rumah, atau malah lebih berani, apapun yang bisa memantul bisa dijadikan cermin.

Inilah fenomena kecil yang sering kita jumpai, yang begitu penting dalam kehidupan sehari-hari dan tak bisa dipisahkan dari hidup kita. Apa jadinya jika hidup ini tidak ada cermin, tentu rasanya ada sesuatu yang hilang. Penulis sempat merasakan pengalaman yang luar biasa dan tidak mengenakkan.

Salah seorang teman pernah mengalami hal ini. Kala itu selama sepuluh hari Ia ditugaskan untuk menjalankan salah satu program dari kantornya. Ia ditempatkan di desa terpencil dan di puncak sebuah bukit yang diapit oleh dua gunung menjulang ke langit. Karena berada di atas ketinggian, rasa dingin adalah santapan setiap hari, tak peduli siang maupun malam hari.

Karena mengalami kondisi alam yang berbeda, banyak sekali perjuangan yang harus dihadapi. Harus terbiasa dengan cuaca dingin, jarang mandi (sehari cukup satu kali, itu pun mandinya dilakukan pada siang hari). Perjuangan yang lain yaitu tidak menemukan cermin, hanya ingin sekedar melihat wajah atau melihat keadaan rambut. Maklum karena akses ke kota lumayan jauh dan jalannya yang rawan.

Ada rasa rindu dan kangen dengan wajah. Bagaimana bentuk dan perubahan, apa saja yang sudah terjadi selama ini. Rasa keingintahuan  itu luar biasa muncul. Alangkah kaget bukan kepalang ketika ia bercermin, ternyata wajahnya mengelupas seperti kulit ular, ada sisik-sisiknya juga. Setelah dicek, ternyata hanya faktor air dan iklim saja, sehingga menyebabkan wajahnya demikian.

Cermin Diri
Itulah pentingnya cermin. Selain untuk mengetahui perubahan dan perkembangan yang ada pada manusia. Cermin juga sering digunakan untuk aktivitas lain, dan pekerjaan itu sangat simple. Merias wajah misalnya, dan ini kebiasaan perempuan. Kalau laki-laki paling mencukur kumis, dan janggut. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw agar selalu merawat diri, salah satunya ilah mencukur rambut, kumis dan lain-lain.

Jika pekerjaan yang satu ini tidak dibantu dengan cermin, tentu harus menggunakan jasa orang lain. Bayangkan jika pengerjaan yang sederhana ini harus dilakukan oleh dua orang saja, terkesan ribet bukan? Dengan adanya cermin, pengerjaannya bisa lebih mudah dan ringan, karena tidak perlu dilakukan dengan banyak orang.

Makna bercermin yang dimaksud adalah cermin yang bermakna  hakiki (hakikat), yaitu cermin yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun bercermin yang bermakna majazi (majas) adalah cermin diri. Cermin ini sering diartikan sebagai introspeksi diri (bercermin ke diri sendiri, setelah melihat/membandingkan ke orang lain yang lebih baik).

Tujuannya ialah membandingkan diri dengan orang lain, apakah yang kita lakukan itu sudah seperti mereka ataukah belum (dalam hal ini terkait kebaikan). Sehingga dengan adanya cermin diri ini, memacu seseorang untuk menjadi lebih baik lagi. Sebagaimana perintah Rasulullah untuk memiliki prinsip, “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin…”

Cermin adalah benda yang paling jujur sedunia. Apa yang ada didepannya ditampilkan secara utuh. Tidak ada manipulasi, atau disembunyikan darinya. Dan yang paling penting adalah, cermin tidak pernah sekalipun memberikan komentar tentang apa yang didepannya. Keistimewaan inilah yang dimiliki oleh sebuah cermin. Apa jadinya jika cermin itu bisa berbicara dan mampu memberikan penilaian bagi siapapun yang ada di depannya?.

Bercerminlah !
‘Bercermin’ ini tentunya harus kita tanamkan dalam diri. Sebab tanpa cermin inilah kita tidak mungkin bisa membandingkan semuanya. Bahkan kita bisa dibuat lupa untuk bercermin, sehingga melahirkan pribadi-pribadi yang sombong, angkuh, congkak dan lupa diri. Inilah sebabnya kebiasaan bercermin harus kita galakan.

Bercermin tidak asal bercermin, tetapi harus betul-betul kepada orang yang baik. Sebab jika bercermin kepada orang yang salah bisa menyebabkan salah jalan. Misalnya seorang tetangga yang selalu bercermin kepada tetangganya yang hidup mewah, sedangkan penghasilannya pas-pasan.

Kalau hal ini dipaksakan bisa merusak dirinya sendiri dan akhirnya menimbulkan masalah yang luar biasa dalam dirinya. Untuk itu, bercermin itu harus bisa menempatkan diri, kepada siapa dan kapan. Dalam hal kebaikan tentu kita sangat dianjurkan untuk iri, tetapi dalam hal keduniaan agama pun melarangnya dengan keras.

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu; Siapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal siapa tuhannya. Ini adalah salah satu cermin diri yang baik. Mengetahui dirinya sendiri dalam rangka mengetahui siapa sang penciptanya. Dengan mengetahui kekurangn diri, maka akan semangkin merasa lemah dan tidak berdayannya diri.

Mengenal Diri, itulah suluk. Suluk adalah fase-fase perjalanan hidup untuk pada akhirnya mengalami realitas sejati. Hanya dengan mengenal jatidiri, maka makhluq mengenal Khaliq. Hanya dengan menyadari ia hina, maka ia mengerti Allah Maha Tinggi.

Hanya dengan mengenal jatidiri, maka makhluq mengenal Khaliq.  Dengan menyadari ia najis, maka ia mengerti Allah Maha Suci. Hanya dengan mengaku telah berbuat salah dan dosa, serta bertobat, maka manusia akan mengerti bahwa Allah Maha Pengampun.

Ihtitām
Orang yang bahagia yaitu orang yang ‘ngaca’ terhadap dirinya. Dai sejuta umat, Alm. Zainudin Mz pernah menyampaikan tausiah tentang ciri-ciri orang yang bahagia. Pertama, ingat akan kesalahan yang pernah diperbuat. Mengingat kesalahan dan dosa untuk menjadi lebih baik, baru kemarin berbuat dosa, ini nambah lagi. Kedua, melupakan kebaikan yang pernah dilakukan (merasa kebaikannya belum cukup). Ia merasa belum pernah berbuat baik, sehingga merasa rugi kalau tidak berbuat baik.

Ketiga, dalam urusan dunia melihat kebawah. Artinya timbul rasa syukur. Masih banyak yang sengsara dari dirinya, ketika menemui kesulitan, ia berpikir masih banyak yang merasakan kesulitan dibandingkan dengannya. Keempat, dalam urusan akhirat ia melihat ke atas. Si Pulan bisa puasa sunah, kenapa saya tidak. Dia bisa ngaji, kok saya enggak. Iri terhadap dunia dilarang, iri dalam kebaikan sangat dianjurkan.

Untuk itu mari bersama-sama kita bercermin, tentunya dengan menggunakan cermin yang baik. Jika selama ini cermin yang kita gunakan itu belum baik, mari mulai detik ini juga diubah dan perlahan untuk meninggalkannya. Semoga kita diberikan kemudahan dan kekuatan oleh Allah SWT untuk selalu berada di jalan yang lurus, wa ihdinsshiratha al-mustaqiim.

Amir Hamzah
Ngaji di UII - Yogyakarta

Gelar itu Perlu Gak Sih?

"Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan hidup dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa". (QS. Al-Furqan [25] : 74)
Ketika mengikuti perkuliahan di kampus, banyak karakter dosen pemberi mata kuliah yang berbeda-beda. Dosen A seperti ini, dosen B beda dari A, bahkan dosen C berbeda dari A dan B. Banyak sekali karakater perbedaanya, terutama cara mengajar, menyampaikan materi yang diajarkan, dan ketika ngobrol di luar kelas.

Dari sekian banyak dosen yang mengajar di kelas, tidak sedikit yang sudah sampai menempuh gelar doktor, dengan kata lain sudah dan sedang menempuh strata tiga (s3). Kenapa harus ada gelar yang dijadikan acuan dan tolak ukur seorang dosen. Sebab gelar itu merupakan pencapaian tertinggi yang pernah ditempuh ketika menjalani studinya.

Tak heran jika suatu ketika ada dosen yang jelas-jelas mengatakan bahwa penulisan, peletakan, gelar untuk dirinya tidak boleh salah. Sebab kalau salah, maka nilai Ujian Tengah Semester (UTS) maupun Ujian Akhir Semester (UAS) tidak akan keluar. Sebagai mahasiswa kami merasa takut dan manut saja, toh gelar itu memang buah kerja keras, tidak salahnya kita menghargai kerja keras tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan orang (mesti tidak semuanya) ketika memilih melanjutkan ke jenjang perkuliahan yang pertama kali dicari yaitu untuk mendapatkan gelar. Perjuangan untuk mendapatkan gelar itu tidak mudah, butuh waktu, perjuangan dan konsentrasi tingkat tinggi.

Oleh karenanya, maka gelar tersebut adalah reward atau hadiah dari kerja keras yang sudah ditempuh selama bertahun-tahun. Tidak salah memang ketika ada dosen yang meminta dan begitu mempersoalkan gelar yang sudah diraihnya tersebut. Kerja keras yang sudah dijalaninya harus dihargai dan diapresiasi.

Dalam kisah lain, tapi masih seputar tentang dosen juga. Cerita singkatanya kurang lebih seperti ini. Kala itu salah seorang sahabat (boleh disebut teman dekatlah) yang meminta bantuan untuk dibuatkan dsain sertifikat acara pelatihan. Kebetulan sahabat ini juga sebagai panitia inti dalam acara tersebut.

Setelah dsain dibuat dan dikirim, sahabat tadi mengirimkan balasan. Inti tulisannya adalah meminta supaya gelar dosen yang menjadi pimpinan di kantornya tersebut meminta dihapus. Padahal gelar yang sudah dituliskan tidak bermasakah dan sesuai dengan semestinya. Ketika dikonfirmasi langsung, “katanya buat apa sih pake gelar-gelar segala, tidak terlalu penting”. Demikian jawaban yang saya terima dari salah seorang sahabat.

Gelar Sesungguhnya
Prof. Komarudin Hidayat (mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) pernah menyampaiakan dalam tausiaH. Inti dari tasusiahnya adalah : sebuah kesuksesan itu sebetulnya bukan terletak pada sesuatu yang dimiliki. Sebab sesuatu yang dimiliki itu menyangkut kepada sesuatu yang melekat. Sesuatu yang melekat itu tidak selamanya bisa kita bawa, dalam artian suatu saat akan kita lepaskan.

Pada hakikatnya sesuatu yang saat ini kita miliki bukanlah sebuah kesuksesan. Jabatan, gelar, dan apapun itu hanyalah tempelan semata. Kelak itu akan kita tinggalkan kala jasad dengan ruh telah berpisah. Gelar keduniaan tidak lagi menjadi berarti, tetapi gelar akhiratlah yang paling dicari.

Khusnul khatimah (meninggal dalam keadaan baik) adalah harapan kita, terutama bagi seluruh umat islam (muslim). Hanya saja, ketika mengikuti peroses penjelajahan menapaki khusnul kahtimah, banyak sekali duri, naik turun, tikungan tajam dan lain sebagainya. Sehingga banyak yang akhirnya tersesat bahkan salah jalan.

Perangkap yang ada di dalamnya begitu sulit untuk dibedakan. Jalan kebaikan terasa begitu berat dan susah untuk dijalani ketimbang jalan keburukan yang terkesan lebih mudah dan terbuka lebar. Akhirnya banyak yang memilih jalan keburukan, karena terasa lebih nyaman, enak, dan ada juga karena sudah terlajur jatuh di dalamnya.

Ketika sudah di batas penghujung jatah kehidupan, banyak yang menyesal dan ingin mengubah jalan hidupnya. Kata-kata penyesalan tak lagi berarti, sebab maut sudah datang di depan mata, waktu tak bisa bergulir lagi mengulang masa lalu. Semua keluarga sudah berkumpul dan tak sedikit menangisi. Tetangga berkumpul untuk berta’ziah dan siap mengantakan ke liang lahat. Saat itulah gelar almarhum/ah telah sah kita dapatkan.

Tetapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah gelar almarum/ah itu mendapatkan indeks prestasi cumlaude atau tidak? Ketika semasa hidupnya banyak melaksanakan amal shalih maka predikat cumlaude bisa diterimanya. Tetapi jika sebaliknya, banyak bolosnya, indeks prestasinya hanya 2,0 predikat itupun belum bisa diraihnya.

Taqwa 
Suatu ketika dalam sebuah kelas, seorang sahabat bertanya dengan lantang di depan teman-teman yang lainnya. Siapa yang tau gelar paling tinggi di atas orang yang bertaqwa? Semua teman-teman terdiam dan tak ada yang memberikan jawaban. Salah seorang teman yang duduk di belakang menjawab tidak ada gelar yang paling tertinggi di atas ketaqwaan.

Karena hanya satu orang yang merespon, akhirnya sahabat ini pun menjelaskan kepada teman-teman yang lainnya. Sebetulnya gelar yang paling tinggi di atas orang yang bertaqwa adalah imamnya orang yang bertaqwa. Sebagaimana dalam bait doa yang sering kita memohon kepada Allah SWT.

Rabbanā hablanā min azwajinā wa durriyatinā qurrata’ayun waj;alnā lil muttaqina imamā "Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan hidup dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa". (QS. Al-Furqan [25] : 74)

Taqwa itu menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Inilah makna taqwa yang sudah sangat kita dengar ketika khutbah jum’at. Tapi secara aplikasinya belum tentu bisa dengan mudah. Butuh perjuangan dan tantangan, untuk bisa mencapai tingkatan taqwa yang sebenarnya. Ketaqwaan seseorang terhadap tuhannya tidak bisa ditawar-tawar. Tapi bagi siapa yang betul-betul bertaqwa maka ia balasannya adalah pahala syurga dan rizkinya tidak akan pernah putus.

Makna taqwa yang menurut Sayyidina ‘Ali ra lebih spesifik. Takut akan Allah, Menjalankan isi al-Quran. Qanaah dengan rizqi meskipun sedikit, dan yang terakhir adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan masa depan yang lebih kekal (akhirat). Dari keempatnya ini manakah yang sudah betul-betul kita amalakan?

Ihtitam
Banyak yang dibuai oleh gemerlap dunia. Matanya silau dan tak mampu membedakan mana yang betul-betul baik untuk dirinya hingga jangka panjang atau hanya sesaat saja. Dunia ini membuatnya menjadi terbalik dan orientasinya sudah berubah 180 derajat dibandingkan ketika ia masih duduk di bangku pesantren.

Status seseorang bukan jaminan untuk menjadikannya baik atau malah sebaliknya. Banyak yang awalnya baik, taat dan begitu haus dengan keagamaan, tetapi ketika sudah jatuh kedalam masalah keduniaan semuanya lepas begitu saja. Seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Tak sedikit pula yang awalnya menentang, menolak bahkan terang-terangan menghina agama, nyatanya kini ia menjadi seorang muslim yang taat.

Gelar manusia yang diberikan oleh allah adalah khalifah/pemimpin yang dipasrahi alam dunia untuk dijaga dan dirawat sebaik mungkin. Tapi dengan gelar itu pula ternyata mansuia merusak dan mengeksploitasi anamat yang sudah Allah berikan. Gelar khalifah yang sudah Allah berikan jelas-jelas disalahgunakan, apalagi gelar yang hanya disematkan oleh manusia. Makhluk tempatnya salah dan lupa.

Oleh karena itu, gelar yang disematkan oleh manusia jika dioptimalkan dengan baik dan digunakan untuk menjalankan, mentaati dan mengimani gelar yang sudah Allah berikan maka bukan tidak mungkin predikat cumlaude itu akan didapatkan. Allahu’alam. [Zah]

--------
Terbit di buletin alrasikh.uii.ac.id edisi/Jum'at, 06 Feb 2015



Keutamaan Membaca Alquran

REPUBLIKA.CO.ID.- Siapa pun yang berinteraksi dengan Alquran dengan baik pasti akan mendapatkan pahala yang besar dan balasan yang berlipat-lipat. Orang yang membaca, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan isinya akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT.

Berikut ini beberapa keutamaan membaca Alquran. Pertama, menjadi perniagaan yang tidak akan merugi. Allah berfirman: "Sesungguhnya orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi." (QS al-Fathir: 29).

Kedua, merupakan amal yang terbaik. Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya." ( HR Bukhari).

Ketiga, mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah bersabda: "Orang yang membaca Alquran dengan mahir akan bersama-sama malaikat yang mulia lagi taat (HR Bukhari dan Muslim).

Keempat, mendapat sakinah (ketenangan jiwa) dan rahmat (kasih sayang). Rasulullah bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Alquran kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat serta diliputi oleh malaikat serta Allah sebut di hadapan malaikat (sisi-Nya)." (HR Muslim).

Kelima, mendapat sebaik-baik anugerah Allah SWT. Rasulullah bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Barang siapa yang sibuk dengan Alquran dan zikir dari meminta-Ku, aku akan memberikan kepadanya sebaik-baik anugerah-Ku. Keutamaan kalamullah (Alquran) atas kalam-kalam selainnya seperti keutamaan Allah atas semua makhluk-Nya." (HR Tirmidzi)

Keenam, seperti buah utrujah yang wangi dan lezat. Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang beriman yang membaca Alquran seperti buah utrujah; aromanya wangi dan rasanya lezat, perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Alquran itu seperti kurma; tidak beraroma tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran itu seperti buah raihanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah handhalah (semacam labu) ; tidak beraroma dan rasanya pahit." (HR Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, mendapat kebaikan berlipat ganda. Rasulullah bersabda: "Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah baginya satu kebaikan. Satu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).

Kedelapan, memberikan syafaat ketika hari kiamat kelak. Rasulullah bersabda: " Bacalah Alquran, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan memberikan syafaat kepada pembacanya." (HR Muslim).

Dengan memahami beberapa keutamaan membaca Alquran di atas, semoga kita terinspirasi dan bersemangat dalam menjaga rutinitas kita dalam membaca Alquran. Semoga Allah merahmati kita semua dengan wasilah Alquran yang kita baca.

Oleh: Ahmad Syaiful Anam

Yuk Ngaji Lagi....

Beberapa minggu yang lalu, saya dan teman-teman sempat diminta salah satu sekolah negri untuk ‘ngajar ngaji’ (membaca al-quran) ditingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Untuk lembaga sekolah yang dimaksud sengaja kami sembunyikan identitasnya.

Para guru mengeluhkan bahwa anak muridnya kebanyakan belum bisa mengaji. Ditambah lagi, dari depag ada peraturan baru, yaitu untuk kenaiakan tingkat dari kelas tujuh ke kelas delapan mereka harus sudah ‘bisa’ mengaji. Kami diminta mengajar seminggu sekali, tepatnya setiap hari kamis pukul dua sore.

Awal ketika kami tes, murid-murid bilanganya secara serentak bisa, katanya. Tetapi begitu diminta untuk membaca ayat yang kami tunjukan, hanya beberapa saja yang bacaanya sudah baik dan benar, selebihnya masih banyak yang salah. Inilah fenomena saat ini, sudah usia di atas 12 tahun belum bisa mengaji.

Miris memang, tetapi sebagai kakak, pembimbing, guru atau orangtua, maka tugas kita yaitu terus mengajari mereka sampai betul-betul bisa membaca alquran. Agar adik-adik ini pintar dan cepat bisa, maka kegiatan mengaji ini harus dilakukan setiap hari (pembiasaan). Usahakan waktunya sehabis shalat magrib, karena waktu menjelang Isya ini cukup pendek, atau jika tidak bisa silakan cari waktu yang enakanya kapan saja.

Metode pembiasaan merupakan cara tercepat untuk mengingat dan mengenal huruf. Sehingga akan cepat dan mudah untuk membaca alquran dengan baik dan benar. Proses ini sudah terbukti dan digunakan tempat pengajian kampung-kampung. Meski yang dipelajari hanya sedikit, tetapi karena terus diulang akhirnya cepat bisa.

Lain halnya dengan hanya seminggu sekali, tentu akan lebih sulit. Selain lambat, pelajaran yang ditangkap juga menjadi faktornya. Bahkan, pelajaran yang sudah ia dapatkan di minggu kamarin akan lupa ketika berjumpa di pertemuan hari ini. Belum lagi ditambah dengan rasa malas, hal itu semakin menambah daftar kesulitan yang dijalani.

Dua Metode
Dalam ‘belajar ngaji’ ada dua metode yang digunakan. Keduanya sudah terbukti ampuh dan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bukan kekeurangan lebih tepatnya, tetapi lebih didasarkan kepada sifat ‘malas’nya orang zaman sekarang. Toh metode itu sudah betul-betul ampuh dan teruji.

Pertama, Metode Baghdadiyah. Metode ini menggunakan buku sendiri, bentuknya tipis terdiri dari pengenalan huruf (tanpa syakl), kemudian huruf berharokat pisah-pisah, setelah itu baru huruf berharokat dan bersambung, dan biasanya kalau sudah melewati tahap tersebut langsung ke juz amma.

Metode ini lebih menitikberatkan kepada metode eja. Metode yang menyebutkan huruf dan sekaligus harokatnya (tanda bacanya) ini, terbukti lebih sulit, kata orang zaman sekarang. Tetapi, dari unsur pengenalan huruf, jenis dan bentuknya lebih melekat kuat dalam ingatan. Tak hanya itu, pelajaran tajwid dan panjang pendek bacaan pun bisa mudah dimengerti.

Meskipun pelajaran tajwid itu ada waktunya sendiri waktunya. Bahkan ‘parukunan’ (belajar sholat) itu juga ada waktunya sendiri. Biasanya langsung dipimpin oleh guru ngaji dan diikuti oleh santri-santrinya.

Setiap murid yang sudah dianggap lancar, baik dan benar bacaanya akan mengajari yang belum bisa, setelah semuanya selesai mengaji maka giliran dirinya yang mengaji ke guru ngaji. Ia betul-betul lulus kalau sudah selesai khatam satu alquran, atau 30 juz. Pengesahan itu diberikan oleh guru ngaji sendiri, bukan oleh dirinya sendiri.

Kedua, Metode Iqra. Metode ini diperkenalkan oleh tim dari MM-Yogyakarta. Metode ini menggunakan jenjang bertahap, dari tahap satu hingga tahap enam. Tiap-tiap tahapan memiliki tolak ukur yang jelas, ada penilaian indicator yang jelas.

Siapa yang belajar iqra pasti akan lebih cepat bisa membaca, tapi kelemahannya ialah pengenalan hurufnya kurang kuat. Kebanyakan orang yang sudah menyelesaikan iqra tahap enam, sudah merasa bisa membaca al-quran, sehingga ia enggan untuk melanjutkan ke tahap yang lebih tinggi, yaitu al-quran.

Apapun metodenya asalakan tekun dan terus mengulang pasti bisa. Begitu dianggap bisa, maka jangan pernah berhenti membaca alquran. Silakan cari guru yang lebih fasih dan lebih aqra' dalam membacanya. Pelajari juga Makharijul huruf, Shifatul huruf, Ahkamul huruf, Ahkamul maddi wal qasr, dan Ahkamul waqaf wal ibtida’.

Di tempat saya sendiri, motivasi anak untuk ‘ngaji’ khususnya usia menjelang dewasa (sudah masuk SLTP) sangat kurang. Hanya beberapa orang tua saja yang sadar dan peduli akan pentingnya pendidikan agama ini. Padahal ini adalah modal untuk mereka suatu hari nanti, terlebih untuk dirinya sendiri dan syukur bisa diajarkan kepada orang lain.

#YukNgaji…

Penulis : Amir Hamzah

Ber-Qurban Dengan Perasaan

Tujuan menyembelih hewan pada bulan Dzulhijah, ialah menyembelih sifat kehewaniahan yang terdapat pada diri manusia. Inilah makna mazaji dari ibadah yang satu ini. Tetapi tak hanya itu, tujuan menyembelih hewan juga merupakan bentuk ketaatan/kepatuhan manusia kepada sang khaliq atas apa yang sudah diperintahkan dalam al-Qur’an.

Lalu bagaimana bagi yang tidak mampu untuk menyembelih? Salah satu khotib jum’at beliau menyampaikan bahwa dibolehkan berhutang kepada siapa saja yang tidak mampu untuk berqurban. Tetapi jangan khawatir, saat ini ada yang namanya arisan qurban dan ini merupakan cara alternatif yang diperbolehkan oleh agama. Jika dirasa berhutang itu sangat berat.

Saat ini tidak ada yang sulit jika kita punya kemauan dan kerja keras. Tetapi jika betuli-betul miskin dan tidak punya, maka tidak diwajibkan. Toh perintah ini diwajibkan bagi mereka yang mampu dan berkecukupan. Bagi yang tidak mampu silakan ‘iri’ dengan mereka dapat melaksanakan berqurban. Tetapi iri yang dimaksudkan di sini ialah iri yang positif dan berorientasi kepada kebaikan.

Dengan merasa iri yang baik, dan berkeinginan kuat akhinya ia berniat untuk bisa berqurban tahun depan, dan mulai hari ini ia berjanji yntuk giat dan menabung supaya bisa berqurban. Sikap inilah yang harus kita tiru, bukan malah sebaliknya; yaitu timbul sikap iri yang pasif. Iri yang hanya bisa mengumpat dan menjelek-jelekan kebaikan orang lain, padahal dirinya belum tetntu bisa melakukannya. Hati-hati dengan sifat ini, jangan sampai dipelihara.

Berqurban Perasaan
Ketika menyaksikan orang lain bisa berkurban, sedangkan kita tidak tentu secara emosi kita merasa terbebani. Beban perasaan lebih tepatnya. berarti secara tidak langsung perasaan kita telah ikut berqurban. Bisa jadi inilah berqurban yang sesungguhnya, makna pengorbanan yang sesunguhnya adalah seperti ini. Disaat orang lain merasa mampu melakukan kebaikan, tetapi kita belum bisa, dan lain sebagainya. Yuk mari berdoa kepada Allah supaya diberikan kesempatan berkurban tahun depan.

Tidak usah khawatir dengan tidak bisa berkurban tahun ini disebabkan tidak punya uang yang cukup. Yakinlah kelak Allah akan cukupkan, dan waktunya berkurbanpun tiba. Asal kuncinya mau dan tetap berusaha untuk merealisasikanya. Ungkapan ini terkesan keluar dari orang-orang yang pesimis dan hanya untuk berapologi semata, tetapi bagi orang yang betul-betul percaya dengan kemahakuasaan allah, baginya taka da yang tak mungkin.

Boleh jadi, berkurban perasaan jauh lebih berat ketimbang berkurban dengan harta. Tak sedikit orang yang rela mengelurkan uangnya hanya untuk memperoleh ketenangan, rasa puas dan sebagainya. Tujan mereka hanya satu, yaitu ingin memuaskan perasaan yang mereka rasakan. Bisa jadi orang yang hartanya berlimpah-ruah, tetapi perasaan mereka tidak tenang.

Bahkan sebaliknya, banyak orang yang sederhana tetapi perasaan mereka tentram, tenang dan damai. Meski semuanya serba kekurangan, mereka mampu hidup dengan penuh kebahagiaan, semua kekurangan tersebut bagi mereka hanyalah perhiasan kehidupan yang hanya sesaat saja. Toh kehidupan yang sesungguhnya bukan disini, jadi tak perlu risau dan khawatir.

Orientasi Akhirat
Apapun permasalahannya, jika dikembalikan kepada sebuah hakikat tentu semuanya jadi beres. Begitu pun dengan permasalahan yang saat ini kita hadapi, tersenyum lah dan biarkan semuanya mengalir apa adanya. Masalah itu penting dan dengan masalah itu kita akan belajar akan sebuah arti kehidupan.

Semua permasalahan sejatinya adalah kenikmatan, hanya saja rasanya pahit. Seperti kita minum jamu, rasanya pahit dan cenderung tidak enak. Tetapi dibalik rasa pahit itu ternyata ada nikmat yang tiada tara. Badan menjadi sehat, kuat dan bugar. Jika kita bandingan dengan orang yang meminum anggur, rasanya manis dan wangi. Tetapi dibalik rasa manis itu justru kerusakan lah yang timbul. Pikiran tidak fokus, menjadi mabuk dan jika sudah mabuk apapun bisa saja terjadi.

Orang yang cerdas ialah orang yang berpikir jauh kedepan. Orang yang cerdas dapat dilihat dari caranya mengambil sebuah keputusan, berorientasi pendek atau jangka panjang. Sebab sesuatu yang sifatnya pendek itu tentu memiliki kemanfaatan yang singkat tetapi sebaliknya jika orientasinya jauh ke depan maka nilai kemanfaatannya lebih lama juga.

Penutup
Berqurban pada hakikatnya mudah dan sederhana. Tetapi dibalik kesederhanaan dan kemudahan tersebut ada sebuah nilai yang memiliki makna yang cukup dalam. Berkurban merupakan sebuah ibadah yang memiliki keterkaitan antara ibadah yang sebelumnya. Masih ingat dengan bulan Rajab, Syaban, Ramadhan, Syawal dan Dzul Qo’dah. Kelima bulan ini berkaitan erat dengan bulan Dzulhijah.

Isi dari keenam bulan ini bermakna sebuah penyucian, pengorbanan, penghapusan sifat-sifat hewaniyah yang terdapat dalam tubuh manusia. Dengan adanya bulan ini manusia ‘dipaksa’ untuk bisa keluar dari sifat-sifat yang buruk dan berubah menjadi manusia yang seutuhnya.

Untuk itulah pengorbanan ‘kemanusiaan’ yang sesungguhnya telah diuji. Jika ia mengaku benar sebagai manusia maka akan sadar diri, bahwa selama ini dirinya telah menjadi seekor hewan yang hanya memikirkan perut dan dibawah perut. Orientasinya hanya untuk dunia semata, bukan untuk kehidupan akhirat yang lebih abadi. Allahu’alam []

Yuk Berkurban

Sesungguhnya kami telah memberimu “ al-kautsar “ karena itu, maka shalatlah engkau demi tuhan engkau dan potonglah hewan, sesungguhnya orang yang mencela engkau itulah sebenarnya orang yang terputus dari rahmat. (Qs. Al-kautsar )

Dari kata-kata “wanhar” dalam ayat ini oleh kebanyakan ulama dijadikan dasar tentang qurban. Kata ‘inhar” berasal dari kata “nahara - yanharu” yang berarti menusuk leher”. Maksudnya memotong onta dengan menusuk pisau ke lehernya sebagai salah satu cara penyembelihan onta. Kalau selain onta di pergunakan kata “dzabaha”, yang berarti “menyembelih”. Jadi, kalimat “wanhar” itu bisa diartikan dengan ‘sembelihlah binatang’. Sementara kalimat “fashalli” diartikan dengan salat ‘Id. Sehingga shalat ‘Id itu diteruskan dengan penyembelihan hewan.

Penyembelihan hewan dengan niat ibadah ini disebut ‘qurban’, diambil dari kisah dua anak Adam as Qabil dan Habil, firman Allah : “Ceritakanlah (Muhamad)kepada mereka (penduduk Mekah) tentang cerita dua putera Adam dengan sebenarnya, tetkala mereka berdua mengadakan pendekatan kepada Allah dengan qurban, lalu diterima dari salah satunya sedang yang lain tidak diterima…….” (Qs. Al-maidah : 27).

Sementara arti ‘qurban’ itu sendiri berarti ‘sangat dekat’. Maksudnya menyembelih hewan sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Cara seperti ini tidak asing dalam semua agama dan adat. Ini karena hewan yang disembelih itu disedekahkan kepada fakir miskin, sedang sedekah itu termasuk perintah agama, dan melaksanakan semua perintah agama itu adalah cara mendekatkan diri kepada Allah. Dalam surat At-taubat ayat 99 misalnya dikatakan: 

“Diantara orang-oramg Arab Badui ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta menjadikan apa yang dia infaqkan itu sebagai qurban (jalan mendekatkan diri) kepada Allah dan (mendapatkan) do’a Rasul. Ketahuilah sesungguhnya infaq mereka itu adalah qurban bagi mereka (yang dengan itu)maka Allah akan memasukan mereka kedalam (kelompok orang-orang yang akan mendapatkan) rahmatNYA. 

Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang . Disini ”nafaqah” atau ‘infaq’ dijadikan sebagai ‘qurbah’, jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah . hewan yang disembelih didistribusikan kepada fakir miskin, tak ubahnya dengan infaq sosial yang menurut ayat diatas dinilai sebagai ‘qurbah’. 

Namun, penyebutan ‘qurban’ bagi hewan yang disembelih dalam rangka bertaqarrub/berqurbah kepada Allah ini, di kalangan ulama fiqih dan orang-orang Arab, tidak populer. Yang populer adalah “udhhiyah” berasal dari kata ‘dhuha’ artinya tampak siang, waktu dhuha. Juga diambil dari kalimat ‘Id al-adhha’. 

Kemudian ‘udhhiyah’ bermakna binatang yang hendak disembelih. Karena binatang ini harus disembelih pada waktu dhuha, usai salat ‘Id al-adhha. Hari penyembelihan disebut “yaumu an-nahr” (hari penyembelihan), yaitu tanggal 10 Dzulhijjah.

Hukum Qurban
Kebanyakan ulama mujtahidin menganggap hukum qurban itu sunnat, kecuali Imam Abu Hanifah menganggapnya wajib, berdasarkan hadis : “Siapa yang mampu tetapi tidak berqurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat salat kami.”(HR. Ahmad dan Ibnu Majah, disahkan oleh Hakim). Kebanyakan ahli hadis menganggap hadis ini mauquf, yakni semata-mata perkataan Abu Hurairah perawi hadis tersebut. Kendatipun wajib, terbatas bagi orang yang mampu. Tak ubahnya haji, yang hanya wajib bagi yang mampu.

Kemampuan ini diisyaratkan juga oleh Qur’an surat Al-kautsar di atas, dalam kalimat : “sesungguhnya kami memberimu ‘alkautsar’ yang bermakna “ sangat banyak” atau ‘nikmat yang sangat banyak’ diantaranya adalah harta atau kekayaan. Sehingga surat tersebut bermakna . “karena kami telah memberi engkau kekeyaan yang banyak, maka shalatlah dan berqurbanlah.” Nabi saw. telah mengimplementasikan surat ini dengan berqurban setiap ‘Id al-adhha, padahal beliau tidak tergolong kaya, tetapi cukup. 

Kiranya sunnah fi’liyah (perbuatan) beliau ini dapat dijadikan uswah oleh kalangan kita yang mampu. Perintah shalat dan qurban sehubungan dengan kekayaan ini, sebagai salah satu bukti kesyukuran, sebagaimana Rasulullah saw. yang menyatakan “bukankah aku ini tergolong hamba yang paling banyak bersyukur ?” dalam jawaban beliau kepada Aisyah yang menanyakan gerangan mengapa beliau shalat malam dengan bacaan yang panjang sehingga bengkak kaki beliau, bukankah Allah telah mengampuni beliau ? artinya, Nabi saw. shalat malam sebagai tanda kesyukuran beliau kepada Allah atas limpahan nikmat yang diberikan kepada beliau.

Qurban juga merupakan salah satu sarana mempertahankan iman yang sangat efektif. Ini dapat dibuktikan dari qurban yang kita distribusikan kepada fakir miskindi daerh terpencil atau pedesaan yang biasanya menjadi objek missionaris, yang sangat mudah terpikat oleh ajakan mereka melalui santunan-santunan. Dengan santunan yang kita berikan berupa daging qurban itu mereka dapat mempertahankan iman mereka. 

Melihat hal seperti itu qurban ini perlu digalakan dan didistribusikan kepada orang-orang yang sangat membutuhkan. ‘Ali ra. Pernah dilarang Rasul saw. menyimpan daging qurban, bahkan diserukan untuk menyembelih semua hewan qurban pada hari itu juga, lantaran masa susah. 

Ini, memberikan isyarat pengutamaan qurban untuk ‘fuqara’-masakin, sekalipun boleh juga dimakan sendiri dan oleh orang kaya. kalau kita hubungkan dengan pertahanan iman (baca: tauhid) sebagai hal yang wajib, maka qurban dalam konteks ini adalah wajib. Ulama fiqih mengatakan “ma adda alan al-wajib fahua wajibun” (sesuatu yang menjadi jalan pada perbutan wajib maka dia itu adalah wajib). 

Kini, ummat Islam yang kebetulan kurang mampu, khususnya di pedesaan, perlu dipertahankan keimanannya. Qurban adalah salah satu bentuk pertahanan. Pada akhirnya para missionaris itu akan lemah, atau dalam alquran di sebut ‘al-abtar’ (putus harapan dari rahmat Allah). Dalam konteks ini adalah putus harapan dari memurtadkan orang mu’min, atau putus asa dari merekrut hati orang mu’min untuk simpati pada agama mereka.

Pengertian ini tidak terlalu jauh, kalau kita kaitkan dengan sabab nuzul ayat /surat itu sendiri, yaitu Nabi Muhamad saw. oleh kaum kuffar dianggap ‘putus dari rahmat’ (al-abtar) karena kematian putera-putera beliau yang berarti pembela, pendukung dan pelanjut risalah beliau sangat naïf. Namun kenyataannya tidak demikian. Bahkan pencinta, pendukung dan pembela beliau semakin banyak. 

Karena itu kemudian mereka yang mencela dan mengejek-ejek Nabi Muhamad tadi dibalas oleh Allah dengan telak : “Inna syani aka huwa al-abtar” (sesungguhnya orang-orang yang mencela itu sendiri sebenarnya yang Abtar). Kaum missionaris pun berambisi demikian. Dengan antisipasi qurban ini akhirnya mereka menjadi “al-abtar”. 

Disini qurban mempunyai implikasai yang multi dimensional, karena penanganannya perlu banyak tangan, tidak cukup satu tangan.misalnya pendataan daerah minus, pendataan ‘fuqara wal-masakinnya’, jumlah kurban yang hendak disalurkan, tenaga yang mengusirnya dsb. Semua itu perlu koordinasi yang baik.

Beberapa Hal Yang Perlu Diketahui Seputar Qurban
Qurban sebagai ibadah yang berdimensi ‘mahdah’ (ritual) dan ijtima’iyah (sosial) maka perlu diperhatikan syarat-syaratnya. Binatang yang boleh dijadikan hewan qurban diantaranya, unta, sapi, kerbau dan kambing (harus cukup umur). 

Tidak boleh menggunakan hewan yang buta sebelah matanya, kurus yang tak mempunyai lemak, pincang dan sakit (cacat). Albara Bin Azib bercerita, rasulullah berdiri di tengah-tengah kami seraya bersabda “ empat macam yang tidak boleh terdapat pada hewan qurban yaitu, buta sebelah matanya yang benar-benar nyata butanya, sakit yang benar-benar nyata sakitnya, pincang yang benar-benar nyata kepincangnya dan yang kurus yang tidak berlemak. (HR. Abu Daud dan Hakim dengan isnad shasih).

Adapun waktu penyembelihan hewan qurban itu setelah shalat ‘Id al-adha Rasulullah bersabda : barangsiapa menyembelih (hewan qurban) sebelum shalat (‘Id al-adha) maka hendaklah ia mengulanginya. (mutafaqun’alaih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu). 

Sedangkan akhir penyembelihan itu pada hari tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah). Bacaan yang dibaca ketika hendak menyembelih hewan qurban ialah dengan mengucapkan “bismillahi allahuakbar” dan dilanjutkan dengan “allahuma hadza ‘an …….(sebutkan nama orang yang berqurban).

Dalam membaca ‘bismillah’ tidak di perkenankan untuk membacanya secara lengkap cukup dengan mengucapkan ‘bismillahi dan di sambung dengan kalimat ‘allahuakbar’ karena menyembelih itu berifat melukai. Pahala qurban dinilai sebanyak bulu qurban semakin banyak yang diqurbankan maka semakin banyak pula pahala yang didapat. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang beruntung. allahu’alam bi sawab.

Teman Yang Baik

"Sebaik-baiknya teman adalah yang menunjukan kepada kebaikan." (Kata-kata Hikmah)

Pada suatu sore, sebelum beranjak untuk mandi, sejenak saya menatap ke arah handphone nokia jadul yang saya beli tahun 2010 lalu. Ternyata ada satu pesan yang masuk. Saya tekan tombol paling kiri sebelah pojok atas, ternyata setelah dilihat, pengirim SMS [Short Message Sending] tersebut adalah Suci Hati. Teman sekelas dan sekaligus masih satu kecamatan, kami dulu sekolah di Madrasah Aliyah.

Isi pesan itu cukup singkat kira-kira berbunyi seperti ini, “Ass,, pie kabare tmen2 smua??” dengan reflek saya pun membalas  SMSnya. Kebetulan pada waktu itu masih ada sisa pulsa, jadi bisa saya balas dengan cepat. “Alhamdulillâh baik, Ci... kabar ente juga gimana..?” Saya pun mencoba menanyakan balik tentang keadaannya.

Sekilas pesan itu sangat pendek, tidak terlalu bermakna atau bahkan tidak berguna sama sekali. Tetapi menurut kaca mata saya, pesan ini sangat dalam, menyimpan beribu-ribu makna yang sangat-sangat penting. Bisa saja ketika pesan itu dikirim, sang pengirim sedang merasa kesepian karena butuh teman untuk mengobrol, bercanda dan lain sebagainya.

Bahkan pesan ini dapat memiliki makna yang begitu besar ketika dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu karena terpisah oleh jarak, kesibukan, bahkan karena sudah memiliki keluarga sendiri. Teman, ialah orang yang begitu berjasa ketika hidup ini terasa sunyi, sepi dalam keheningan. Teman bisa dianggap melebihi keluarga, bahkan teman dapat menggantikan posisi orang tua itu sendiri. Lebih tepatnya ketika kita jauh dari saudara dan orang tua.

Begitu besar arti teman dalam kehidupan ini, tak terbayang jika ada orang yang dalam kehidupannya tidak memiliki teman. Seorang istri tak lain merupakan teman hidup bagi suaminya. Selalu menemani dan menjadi tempat berbagi dikala susah mau pun senang. Teman yang sejati adalah teman yang setia menemani apapun kondisinya, dikala senang tetap bersama dan begitu pula ketika masalah menimpa. “Mawaddatu ash-shodiqi tadzharu waqta adh-dhiqi” artinya : kecintaan seorang teman itu akan terlihat pada saat kesulitan.

Seorang teman merupakan cerminan dari temannya yang lain, pepatah yang sering kita dengar juga adalah “jika ingin mengetahui seseorang seperti apa dan bagaimana sifat dan kelakuannya, maka lihat saja siapa temanya.” Sudah sangat jelas, jika teman yang baik akan memberikan dampak yang baik terhadap teman yang lainnya. Tetapi jika teman itu “tidak baik” maka hanya akan bedampak pada hal-hal yang buruk pula.

Pepatah yang familiar kita dengar “berteman dengan pedagang minyak wangi otomatis akan kebagian wanginya.” Sudah bukan rahasia umum lagi jika berteman dengan yang berperilaku bejad/buruk tentu akan berdampak buruk. Tetapi tidak sebaliknya, ketika kita berteman dengan orang yang baik, tentu kebaikan itulah yang akan kita terima.

Memilih Teman
Bergaul dengan memilih teman itu harus dilakukan, karena demi kebaikan serta manfaat yang akan diperoleh nantinya. Kenapa harus milih-milih teman? Analoginya sederhana.  Ketika Kita membeli sebuah barang tentu ada proses memilah dan memilih. Barang yang lebih bagus, besar dan kualitasnya baik itu yang dipilih. Tujuan dari memilih itu adalah untuk memperoleh hasil yang maksimal, tahan lama, awet dan kuat. Tetapi jika asal dalam membeli, (tidak pandai memilih) tentu yang ada malah “kecolongan.” Setelah sampai di rumah ternyata baranganya rusak, penyok, cacat dan sebagainya. Itulah akibat tidak pandai memilih.

Teman yang baik adalah yang mengajak kepada kebaikan, tetapi jika teman malah menjerumuskan dan mengajak kepada hal-hal yang tidak baik, maka sesungguhnya ia adalah musuh. “Khairu al-ashẩbi man yadulluka ‘ala al-khoiri” artinya : sebaik-baiknya teman adalah yang menunjukan kepada kebaikan. Harus dipahami betul pepatah ini. Kebanyakan kita salah kaprah. Mentang-mentang teman tetap saja dibela, padahal sudah jelas-jelas salah. Hal-hal sepert inilah yang seharusnya diluruskan.

Dari satu sisi ada juga yang mengatakan bahwa, sebetulnya ketika berteman itu tidak mesti memilah dan memilih. Pendapat seperti ini tidak salah, dan saya pun tidak menyalahkan. Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda, gaya berfikir berbeda pula. Sehingga akan berpengaruh terhadap aplikasi orang tersebut. Bagi yang setuju dengan pendapat seperti ini silakan saja.

Hemat saya, jika posisi pertahanan sudah kita kuat, atau dengan kata lain kita sudah betul-betul matang dalam bergaul ya kenapa tidak. Kita sudah tidak terpengaruhi oleh orang lain dan sudah mantap secara lahir maupun batin. Tak hanya itu, memiliki ketegasan serta komitmen yang kuat terhadap ajakan yang menyimpang, menjadi catatan juga. Berani mengatakan tidak dengan tegas.

Jika teman berbuat salah, maka sebagai teman harus berani mengatakan salah, dan ketika benar maka katakanlah itu benar. Tetapi ini sangatlah sulit. Secara tidak langsung kita sendiri mengalami perang batin. Bahkan tak jarang hanya karena hal seperti ini pertemanan tersebut menjadi renggang dan kemudian berakhir. Ketika mengatakan tindakan yang teman kita lakukan itu salah, berarti kita sudah bisa menjalankan pepatah “Qul al-haqqo walau kẩna murron” Katakanlah kebenaran itu walaupun pahit.

Mendapatkan Teman
Tidak ada gading yang retak. Tak ada manusia yang sempurna, istilah bahasa inggrisnya no body one is perpect. Ya, kata-kata itu paling tepat untuk diungkapkan. Dalam hal pertemanan. Mencari teman yang sempurna tentu tidak akan pernah ada. Walau pun dicari hingga ke ujung dunia pastilah tidak akan pernah menemukannya. Ingat, karena setiap manusia memiliki sisi kelemahan dan kekurangan.

Pepatah arab mengatakan “Man tholaba akhon bilẩ‘aibin baqiya bilẩ akhin” artinya : siapa saja yang mencari teman yang tidak bercela maka ia tidak akan mempunyai teman selamanya. Misal, lantaran teman-temannya tidak ada yang baik, akhirnya kemudian memilih untuk tidak memiliki teman. Tentu sikap seperti ini salah. Alangkah lebih baiknya jika kita tetap berteman, dan menjalin tali silaturahmi. Bagaimana pun teman itu penting dan kita butuhkan. Manusia itu makhluk sosial jadi butuh dengan teman. Dengan demikian justru disinilah kita bisa saling mengingatkan, ketika teman salah atau pun sebaliknya.

Rata-rata teman yang saya miliki semuanya baik. Hanya beberapa yang belum baik (bukan tidak baik). Saya tahu dan mengerti kenapa ia seperti itu, sehingga sebagai seraong teman sebisa mungkin saya pun mengingatkan dan mengajaknya ke arah yang lebih baik lagi. Alhamdulillâh dengan izin Allâh sedikit demi sedikit akhirnya mau berubah.

Jika memiliki teman yang sedang mengalami masalah, maka rankulah dan berilah motivasi. Katakan bahwa kita adalah temannya. Jika ia mengatakan tidak memiliki siapapun maka kita katakan bahwa kita bersamanya. Itu adalah dukungan, dan secara tidak langsung itu adalah tanda sebuah perhatian kita sebagai seorang teman yang baik. Minimal ada ketika teman kita mendapatkan musibah.

Teman yang saat ini kita miliki, jaga dan sayanghilah mereka. Jauhnya jarak yang memisahkan, bahkan waktu yang berbeda, bukanlah halangan untuk terus menjaga per-teman-nan jauh disana. Teman merupakan keluarga, tatkala merangkai sejarah perjuangan hidup kita. Tak terasa sudah berapa banyak kita memiliki teman, seratus, seribu, atau bahkan lebih. Teman-teman kecil, teman-teman bermain dulu, kini hanya menjadi kenangan terindah, dan tak dapat dilupakan.

Berbuat baiklah terhadap teman. Kelak karena kebaikan itulah kita akan tetap dikenang, diingat dan menjadi bagian terindah dalam sejarah bagi teman-teman yang lain. Teman-teman saya sudah sangat banyak, sehingga banyak juga yang terlupkan. Teman dikampung dulu, teman Sekolah Dasar (SD), MTs, MA hingga kini. Terima kasih buat kalian yang telah menjadi bagian dari sejarah hidup ini. Semoga kelak kita dipertemukan dan semoga diberikan jalan kemudahan oleh Allâh swt.

Ikhtitâm
Teman merupakan bagian yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan ini. Tanpa kehadiran teman kita bukanlah apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Dalam cakupan yang luas, teman juga bisa diartikan sebagai orang yang menemani kebersamaan dan membantu kita, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pertemanan dijalin atas dasar kedekatan. Itulah yang saat ini pahami, dan itu makna yang sangat sempit sekali. Teman adalah yang membersamai kita, tidak mesti harus ada dasar kedekatan. Misal, saya ini mahasiswa angkatan 2013. Jadi, bagi yang masuknya tahun yang sama berarti kita adalah teman. Dari proses teman itulah kemudian ada istilah pertemanan yang kemudian semakin akrab dan lebih mengenal antara satu sama lain, dan akhirnya jadilah teman yang akrab atau teman dekat.

Siapapun teman kita saat ini maka jagalah, sayangilah, cintailah dan hormatilah seperti kita menyayangi keluarga kita sendiri. Jika teman sedang kesusahaan maka bantulah. Jika teman sedang bersedih maka hiburlah. Jika teman sedang sedang sakit maka jenguk dan perhatikanlah. Sudahkah kita melakukan hal yang demikian? Semoga kita termasuk dalam kategori teman yang baik. Amîn. Wallâhu’alam []

Amir Hamzah
Div. Pendidikan
Lembaga Pengabdian Masyarakat PONPES UII

Siapakah Orang Yang Egois?

Artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

Dalam kata-kata serapan asing dalam bahasa Indonesia, kata egois yang berarti orang yang mementingkan diri sendiri, tidak peduli akan orang lain atau masyarakat. Dalam kamus bahasa online,  egois berari tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri dari pada untuk kesejahteraan orang lain atau segala perbuatan atau tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri.

Ketika ada orang yang lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri ketimbang orang lain, maka kita sebut ia adalah orang egois. Begitu juga, ketika ada orang yang selalu ingin menang sendiri kita sebut orang itu dengan sebutan yang sama, yaitu egois. Pernahkah kita melaukan tindakan yang menurut orang lain itu egois? Padahal dalam diri kita sendiri, tindakan itu sama sekali bukan egois.

Tak jarang keegoisan seseorang membuat orang lain menjadi benci terhadap dirinya, bahkan tak sedikit yang memusuhinya pula. Ketika belum lama berteman, sifat keegoisannya belum kelihatan, tetapi setelah ia tahu bahwa temannya itu memiliki sifat egois, bisa jadi ia menjaga jarak atau memilih tidak menjadi temannya lagi.

Coba kita bayangkan jika keegoisan tumbuh sebuah keluarga. Biasanya, ketika masih  menjadi pengantin baru, sifat egois tidak kelihatan, tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya kelihatan juga. Jika tidak pintar dalam menyikapinya bisa dipastikan hubungannya tidak bertahan lama, dan berakhir dengan perceraian.

Nabi Juga Pernah Egois
Semua manusia pernah egois, tetapi dalam perakteknya kadang secara sadar ataupun tidak sadar. Menurut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, demikian juga riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari Ibnu Abbas: “Sedang Rasulullah menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal dan Abbas bin Abdul Muthalib dengan maksud memberi keterangan kepada mereka tentang hakikat Islam agar mereka sudi beriman, di waktu itu masuklah seorang laki-laki buta, yang dikenal namanya dengan Abdullah bin Ummi Maktum.

Dia masuk ke dalam majlis dengan tangan meraba-raba. Sejenak Rasulullah terhenti bicara, Ummi Maktum memohon kepada Nabi agar diajarkan kepadanya beberapa ayat Al-Qur’an. Mungkin oleh karena terganggu sedang menghadapi pemuka-pemuka itu, kelihatanlah wajah beliau masam menerima permintaan Ibnu Ummi Maktum itu, sehingga perkataannya itu seakan-akan tidak beliau dengarkan dan beliau terus juga menghadapi pemuka-pemuka Quraisy tersebut. Akhirnya allah menurunkan surat ‘Abasa [80] :

Artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

Setelah ayat itu turun, sadarlah Rasulullah SAW akan kekhilafannya itu. Lalu segera beliau hadapilah Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang dia minta dan dia pun menjadi seorang yang sangat disayangi oleh Rasulullah SAW. Allah SWT begitu halus mengingatkan rasulullah ketika beliau sedikit saja melakukan kesalahan karena menurut rasulullah melobi para pembesar quraish lebih penting dibandingkan dengan Ummi Maktum.

Apakah anda tipe orang egois?
Sikap egois bisa kita temukan dimana pun, lebih tepatnya adalah dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satu ciri orang yang egois; pertama, mendustakan ayat-ayat allah. Kedua, ingin menang sendiri. Ketiga, Suka mengatur tapi tidak mau diatur. Keempat, Keras kepala.

Pertama,mendustakan ayat-ayat allah swt. Dalam hal ini cakupannya sangat luas sekali. Orang kafir bisa dikategorikan oang yang egois, karena mereka enggan memeluk islam. Padahal agama islam adalah agama penyempurna bagi agama – sebelumnya. Sehingga jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dikatakan orang yang super egois.

Orang yang mengaku muslim (orang islam) tetapi tidak melaksanakan perintah-perintah allah maka termasuk kedalam orang-orang egois. misalnya saja tidak melaksanakan sholat lima waktu, dan amalan-amalan yang lain yang allah perintahakan, serta tidak menianggalkan apa yang allah larang, misalnya mabuk-mabukan, berfoya-foya, dan lain sebagianya.

Pengertian egois yang dimaksud disini mereka egois terhadap dirinya sendiri dan seolah tidak peduli dengan pahala dan ancaman allah swt. Padahal akibat ke-egois-an merekalah allah swt memberikan sebuah peringatan melalui tentara-tentaranya. Misalnya saja allah mengirimkan tentara air, tanah, angin, dan sebagainya. Sehingga timbullah banjir, angin puting beliung, longsor, gempa bumi dan lainnya.

Kedua,ingin menang sendiri. Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan merupakan hal yang lumrah, tetapi menjadi bermasalah ketika ada orang yang ingin menang sendiri. Buat apa menang kalau tidak sportif, menang seperti ini sama saja kalah. Kemenangan sesungguhnya adalah menang secara sportif, tentu lebih terhormat. Orang yang ingin menang sendiri, kurang lebih bisa dianalogikan seperti itu. Akibat sifatnya inilah ia dijauhi serta di musuhi teman-temannya.

Orang yang ingin menang sendiri biasanya tidak peduli dengan apa yang ia lakukan, walaupun itu sebetulnya salah. Untuk itu berhati-hatilah bila memiliki teman yang seperti ini, sedini mungkin untuk diiangatkan sebelum hal-hal yang diinginkan terjadi. Jika bukan anda sebagai sahabatnya maka siapa lagi.

Ketiga,Suka mengatur tapi tidak mau diatur. Seorang pemimpin dituntut untuk mempu memimpin anggotanya. Tetapi masa menjadi seorang pemimpin itu ada batas dan jangka waktunya. Ketika menjadi seorang pemimpin ia bisa mengatur anggotanya seperti apa yang diinginkan, tetapi ketika ia sudah kembali menjadi anggota maka harus siap diatur seperti dirinya mengatur ketika menjadi seorang pemimpin.

Saat ini, banyak sekali kita temukan orang-orang yang siap memimpin tetapi tidak siap dipimpin. Ketika ia sudah tidak lagi memegang jabatan sebagai pemimpin, ia memilih keluar. Inilah potret yang saat ini terjadi dan sudah membudaya. Akhirnya bermusuhan dan saling menjatuhkan satu sama lain sehingga perseteruan ini tanpa akhir alias jadi “musuh bebuyutan”.

Keempat,keras kepala. Keras kepala identik dengan sebutan kepala batu, artinya isi kepalanya sangat keras sehingga sangat sulit untuk dihancurkan. Orang bekepala batu yaitu orang yang tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Orang yang berkepala batu biasanya berpasangan dengan muka tembok dan tangan besi. Jika tiga unsur ini sudah menyatu, maka sangat sulit untuk mengubahnya apa lagi untuk diingatkan.

Orang yang keras kepala pada masa Nabi Musa adalah fir’aun, dan akhirnya Allah swttenggelamkan fir’aun dan tentaranya di tengah lautan. Tak hanya itu, pada masa Nabi Nuh. umatnya juga sangat keras kepala. Sehingga Allah swt mengirimkan banjir bandang yang sangat dahsyat, sehingga tak ada yang selamat dari umatnya Nabi Nuh walau pun lari ke atas gunung. Kecuali yang ikut naik kapal dengan Nabi Nuh.

Penutup
Egois adalah sifat yang tumbuh alami dari dalam diri manusia. Karena benar-benar alami, sampai manusia tidak menyadari kehadiran sifat egois itu sendiri. Dan sampai sekarang pun belum ada obat yang bisa menghilangkan sifat egoisme dari dalam diri manusia. Setiap orang pasti pernah bertindak egois, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Untuk mampu menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri manusia, sebabnya Rasulullah SAW bersabda : " Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar...’, yang membuat para Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ?" Rasulullah berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu." (Riwayat Al Baihaqi)

Perang melawan hawan nafsu adalah perang yang sesungguhnya. filsafat kuno juga menyebutkan, musuh terbesar adalah diri sendiri. Karena bisa di lihat, dalam diri manusia terdapat sifat-sifat yang buruk. Amarah, dendam, benci adalah contoh sifat manusia yang buruk. Begitu juga dengan egois.

Maka sebenarnya mau tidak mau kita secara tidak langsung juga berperang melawan diri sendiri. Berperang melawan sifat sifat buruk yang timbul secara alami di dalam diri kita. Mungkin hanya kebesaran iman kita lah yang mampu melawan itu semua, dan  iman kita lah, sebenarnya obat untuk melawan egois itu sendiri.

Abu  Bakar Al-Warraq berkata :“Jika hawa nafsu mendominasi, maka hati akan menjadi kelam, Jika hati menjadi kelam, maka akan menyesakkan dada. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaknya menjadi rusak. Jika akhlaknya, maka masyarakat akan membencinya dan iapun membenci mereka”.

Dengan mengedepankan iman, tentu sifat-sifat egois yang terdapat dalam diri kita akan bisa diredam. Bantuan allah swt lah yang menjadi tumpuan terakhir agar kita terbebas dari sifat-sifat buruk tersebut, dan selalu dalam bimbingan-NYA. Semoga kita termasuk kedalam hamba-hamba yang mendapat perlindungan allah swt. Amiin [amr]

Amir Hamzah
divisi Pendidikan
Lembaga Pengabdian Masyarakat


Ramadhan, Stabilitas Emosi

“…Hanya orang-orang yang bersabar-lah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS al-Zumar [39]: 10)
Setidaknya ada empat (4) hal yang dapat digunakan untuk mengukur ‘stabilitas emosi’ seseorang. Sebelum melangkah lebih jauh, hal yang harus dipahami adalah bahwa emosi tidak melulu soal amarah atau kemarahan. Emosi sebenarnya adalah terminologi yang sangat general (universal). Emosi—juga—berarti kesedihan, kegembiraan, kegalauan, keriangan, dan seterusnya. Namun tidak dimungkiri pula bahwa dalam realitas sosial kita, emosi lebih dekat dengan makna ‘(a)marah’ atau ‘murka’.

Seorang yang sedikit-sedikit marah biasanya dijuluki dengan pribadi yang ‘emosian’. Orang yang emosian biasanya malah menjadi bahan guyonan, dan bahkan ejekan. Orang yang biasa marah, hanya karena masalah (yang) sepele, sudah kebakaran jenggot. Tentu ini adalah makna kiasan. Tidak semua yang kebakaran jenggot punya jenggot beneran. Simpelnya dapat dipahami bahwa berbicara masalah ‘emosi’ maknanya adalah perihal kemarahan, dan yang senada dengannya.

Lalu, apakah empat (4) hal yang penulis maksudkan di awal? Pertama, stabilitas emosi dapat dilihat dari sudut pandang geografis. Maksudnya, dari mana kita berasal. Contoh sederhananya, antara orang kota dan orang desa. Kalau boleh jujur, kira-kira antara ‘orang kota’ dengan ‘orang desa’ mana yang lebih stabil emosinya? Meskipun belum berdasarkan penelitian yang valid, nampaknya emosi orang desa yang lebih stabil. Emosi orang kota dengan segenap setting kulturalnya biasanya (lebih) tidak stabil.

Kedua, dilihat dari jenis kelamin (gender). Sekali lagi ini adalah renungan bersama, yang tidak memerlukan kernyitan dahi. Jawabannya biarlah mengalir, seperti air sungai yang ‘berjalan’ dari hulu ke hilir. Penulis tekankan lagi ini hanyalah ‘kira-kira’. Kira-kira, antara laki-laki dan perempuan, mana yang lebih stabil emosinya? Jawaban pertanyaan ini memang beragam. Tetapi kalau dipersentase, nampaknya laki-laki yang emosinya lebih stabil. Emosi wanita cenderung fluktuatif.

Mari kita buktikan. Ada satu keluarga. Sudah lima tahun berumah tangga tetapi tidak juga dikaruniai ‘buah hati’. Alhamdulillāh, di tahun ke-6 pernikahannya, Allah menganugerahkan seorang anak laki-laki yang normal sekaligus tampan. Saat berusia sekitar 5 tahun, sang anak sudah biasa bermain-main dengan teman sebayanya. Tanpa pengawasan langsung yang intensif dari kedua orang tuanya. Tanpa dinyana-nyana, suatu siang datang kabar bahwa anak tadi mengalami kecelakaan.

Dalam kasus di atas, siapa yang pertama kali menitikkan air mata: sang ayah atau ibu? Dengan mudah, kita dapat menjawab: pastilah ibunya. Kemudian, mereka berdua memastikan kebenaran kabar tidak baik itu dengan datang ke lokasi. Ternyata benar musibah itu menimpa anaknya, anak satu-satunya. Siapakah yang kemudian menangis (bahkan langsung pingsan) kala itu? Sang ayah atau ibu? Jawaban yang paling logis dan realistis adalah sang ibu. (Ini hanyalah analogi semata)

Setelah itu, sang anak yang terluka tersebut dibawa-lah ke rumah sakit. Selama sebulan dia dirawat dengan intensif. Berkat usaha dokter dan tentu karena pertolongan Allah, sang anak sembuh. Ia dapat tersenyum-bahagia kembali, mampu beraktivitas seperti sebelumnya. Saat itu, siapa yang pertama kali tersenyum? Jawabannya adalah: sang ibu. Lalu, ayahnya kemana dan ngapain? Ayah “menangis” karena harus melunasi tagihan rumah sakit yang lumayan mahal. (Kalimat terakhir ini sekadar guyonan)

Kisah tadi menjadi penegas bahwa antara laki-laki dan perempuan, yang lebih stabil emosinya adalah laki-laki. Laki-laki mengedepankan akal, sementara perempuan mendahulukan perasaan. Dan hal itu tidaklah menunjukkan bahwa perempuan tidak lebih mulia dari laki-laki. Itulah fitrah dan dalam banyak kasus tidak berlaku mutlak. Boleh jadi dalam formasi pasangan suami-istri, yang lebih tahan emosi adalah sang istri. Tetapi dalam tulisan ini, kita berbicara yang (in) general, yang umum, aghlabiyyah.

Ketiga, stabilitas emosi dapat ditilik dari kualitas (ke)ilmu(an). Dalam bahasa yang lebih keren, ‘gizi intelektualitas’ menentukan stabilitas emosi. Pertanyaan yang menegaskan hal itu adalah sebagai berikut. Kira-kira (sekali lagi, kira-kira), antara orang yang pintar dengan yang bodoh (tidak, atau kurang pintar) mana yang lebih stabil emosinya? Sepertinya, orang yang pintar yang lebih stabil. Sebab dia tahu bahwa marah itu ada tempatnya, dan semakin banyak marah semakin menunjukkan kalau dia “bodoh”.

Oleh karena itu, kalau pendidikan seseorang sudah tinggi tetapi tetap saja emosian berarti masih diragukan kepintarannya. Benarkah dia sudah pandai secara hakiki atau sekadar pandai-pandaian. Dalam masalah agama, orang yang lebih tahu khilafiyyah (dalam masalah cabang, furu’iyyah) dia semakin mampu menghargai perbedaan yang ada. Dia paham bahwa orang lain memiliki dalil yang kuat sehingga amaliyyah ibadahnya berbeda. Dia tidak mudah menghakimi, tidak buru-buru menganggap orang lain salah.

Dalam konteks lain, orang yang masih sering marah, tidak kuat mengendalikan emosi, semestinya lebih banyak belajar. Ilmu, pengetahuan, pengalaman, wawasan, dan hal positif lainnya insya Allah akan menghantarkannya pada stabilitas emosi. Logika terbaliknya, supaya kita cepat menjadi orang yang pintar maka mari mengendalikan emosi. Ini memang sukar tetapi akan segera terwujud kalau kita terus belajar. Singkatnya, (karena) derajat kepintaran sebanding dengan stabilitas emosi.

Keempat, masalah isi perut yang menjadi ukuran. Poin terakhir inilah yang sangat relevan untuk dibahas (sedikit) lebih dalam di bulan yang sangat mulia (Ramadhan). Sebelumnya, mari kita bertanya. Kira-kira nich, antara orang yang lapar dengan orang yang kenyang, mana yang lebih stabil emosinya? Nampaknya, orang yang kenyang yang lebih stabil. Sebab, dia sudah selesai dengan urusan perutnya dan dapat menatap hidup secara lebih utuh. Sementara untuk orang yang lapar, urusannya menjadi lain.

Bagi orang yang lapar, jangankan berpikir untuk bekerja dan berkarya, urusan perut saja belum kelar. Bagaimana mau berbuat yang baik dan benar kalau perut dalam keadaan lapar. Begitulah kira-kira kondisi orang yang lapar. Para pembaca yang budiman, disinilah menariknya puasa yang akan atau sedang kita jalankan. Kita justru diminta untuk lebih mengendalikan emosi di saat perut dalam keadaan tidak terisi. Kita harus bersabar dalam kondisi haus dan lapar. Menarik sekali bukan?

Sangat wajar kalau Allah sangat mengistimewakan ibadah puasa. Puasa adalah milik Allah, tidak semata-mata milik hamba-Nya. Dan karena puasa itu milik Allah maka Dia-lah yang akan memberikan pahala langsung. Orang yang ‘kuat’ berpuasa adalah orang yang luar biasa. Merekalah yang mampu menahan dirinya dalam kondisi yang lemah dan tidak berdaya. Merekalah yang berupaya berbuat baik secara terus-menerus meskipun keadaan perutnya sedang tidak ‘terurus’.

Ketika seseorang sudah pandai men-stabilkan emosinya dalam kondisi perut tidak terisi maka pastinya dia lebih bersabar di saat perutnya kenyang. ‘Pesantren Ramadhan’, kalau begitu, akan menghasilkan pribadi yang penyabar dan tahan uji. Pribadi yang karena masalah sepele atau besar sekalipun tetap mampu menahan emosi. Kalau puasa diorientasikan ke sana maka hikmah Ramadhan akan semakin terasa. Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah pandai menahan emosi atau amarahnya.

Puasa: ‘Menahan’
Kalau kita kembali kepada makna dasar puasa maka akan ketemu titik simpulnya. Puasa, sudah sangat jelas dan lugas, secara bahasa artinya menahan. Menahan saat berpuasa dalam kacamata fikih berarti: menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri. Tetapi kalau boleh dikaitkan dengan ‘mudik lebaran’, yang demikian itu hanyalah ‘kelas ekonomi’. Muslim yang baik tentu ingin mendapatkan tiket yang lebih baik: bisnis atau (bahkan) eksekutif.

Lalu bagaimana untuk melampaui ‘kelas ekonomi’? Caranya dengan berpuasa yang bukan hanya ragawi tetapi juga maknawi. Tidak makan, tidak minum, dan tidak bersetubuh itu adalah yang kasat mata. Dengan bahasa lain, itu adalah simbol. Makna filosofisnya tentu lebih dalam. Bahwa yang harus ditahan (di-imsāki) sangatlah universal. Termasuk bagaimana menahan diri kita agar tidak mudah marah, dan sebaliknya berusaha untuk senantiasa bersikap ramah.

Menahan (al-imsāku) dalam artian yang luas adalah menahan diri kita dari hal-hal yang tidak baik. Semakin kuat ‘ketahanan’ kita maka semakin sukses puasa yang kita jalankan. Hal ini mungkin diperoleh dengan penghayatan yang mendalam terhadap substansi dari shaum Ramadhan itu sendiri. Dalam bahasan ini, titik tekannya lebih kepada pencapaian stabilitas emosi, sebagai buah manis Ramadhan. Stabilitas emosi (kesabaran) akan menjadikan manusia lebih mulia dan terjaga.

Demikianlah hikmah Jumat minggu ini. Izinkan penulis mengucapkan terima kasih kepada Ust. Sudarmaji, S.Pd atas inspirasinya. Apa yang tertulis di buletin ini adalah ceramah (jelang) terawih beliau, dengan beberapa improvisasi. Paling terakhir, kita berdoa semoga puasa Ramadhan tahun ini benar-benar mendidik kita untuk lebih tahan uji, lebih mampu menahan (men-stabilkan) emosi, alias semakin pantas disebut sebagai pribadi yang sabar atau ‘penyabar’. Wallāhu a’lamu bi ash-shawāb. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Staf Prodi Hukum Islam FIAI UII

Editor : Hamzah/
Sumber : http://alrasikh.uii.ac.id/

Ramadhan Bulan Kontemplasi

Salah satu aspek puasa adalah mengubah satu variabel jadwal makan dan minum, tetapi ternyata dampaknya sangat besar bagi kaum muslim di seluruh dunia.

Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah mahdlah atau ibadah pokok yang menjadi kewajiban perseorangan sehingga tidak bisa diwakilkan sekalipun kepada orang terdekatnya. Ini menjadi salah satu indikasi bahwa ibadah puasa merupakan ibadah yang menuntut tanggung jawab pribadi. Keberhasilan menjalaninya pun menjadi indikasi keberhasilan individu dalam menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas rutin sehari-hari yang merusak puasa seperti makan dan minum di siang hari.

Banyak sekali aspek puasa yang telah digali para ahli dengan berbagai perspektif, misalnya aspek psikologis, keagamaan, dan kesehatan. Dari sisi psikologis, puasa memiliki dampak positif karena dianggap mampu membantu mengasah rasa empati kita terhadap mereka yang tidak mampu dan terpaksa harus menahan lapar dan haus hampir setiap hari. Bagi golongan yang kurang beruntung secara ekonomi, derita tidak makan dan minum bukan lagi kewajiban, tetapi menjadi sesuatu keniscayaan pahit yang ditemui setiap hari.

Adapun dari sisi keagamaan, puasa tentu saja hukumnya wajib. Menjalankannya akan mendapatkan pahala dan meninggalkannya adalah dosa. Namun yang lebih penting adalah puasa merupakan sebuah bentuk ibadah yang paling private antara Tuhan dan manusia. Hanya Tuhanlah yang tahu apakah seseorang betul-betul menjalankan ibadah puasa dengan sempurna ataukah tidak. Bisa saja seseorang berpura- pura menahan lapar dan haus di hadapan sesamanya, tetapi dia tak akan bisa menipu Tuhan dalam menjalani ibadah puasanya.

Adapun dari aspek kesehatan, puasa dianggap memiliki dampak positif karena dengan menjalani puasa, organ pencernaan kita rehat sesaat dan ibarat mobil dia mengalami turun mesin setelah bekerja tanpa henti dalam jangka waktu yang cukup panjang. Dengan demikian, ada efek rejuvinasi atau penyegaran yang membuat mesin tersebut akan berfungsi lebih baik dari sebelumnya. Masa jeda tersebut ternyata bukan menurunkan daya, tetapi melipatgandakannya.

Berhenti sejenak dari sebuah rutinitas dan menaruh rutinitas tersebut dalam tanda kurung or bracketing out sesungguhnya menjadi sebuah kebutuhan dan keniscayaan agar kita memiliki kesempatan untuk berkontemplasi menemukan makna dan nilai dari sesuatu yang kita anggap biasa karena saking sudah sedemikian akrabnya.

Sebagaimana halnya dalam berhubungan dengan pasangan, kawan maupun dengan atasan atau bawahan, bila semuanya dijalani hanya sebagai sebuah rutinitas, tanpa upaya menaruhnya dalam sebuah ruang untuk kita renungkan, maka apa yang didapatkan dari hubungan tersebut hanyalah keterpenuhannya sebuah ”kewajiban” atau ”kebiasaan” atau ”kelaziman” semata tanpa kedalaman makna.

Ibarat membaca lembaran-lembaran tulisan dalam buku, kedekatan atau proximity antara pandangan kita dan buku yang kita baca justru bisa mengaburkan apa yang tertulis di sana sehingga tak ada kalimat yang bisa terbaca, apalagi memahami maknanya. Demikian pula halnya dengan cara kita menjalani rutinitas hidup sehari-hari seperti makan, minum, mengekspresikan emosi secara spontan, semuanya seolah sesuatu yang tak memiliki signifikansi apa-apa selain terpenuhinya kebutuhan fisik saja.

Dalam kondisi seperti itu, manusia cenderung untuk menganggap semuanya itu sebagai sebuah kelaziman. Dengan adanya kewajiban puasa, karenanya, manusia diberi kesempatan berhenti sejenak untuk mengobjektivikasi, merenungkan betapa kehilangan kebiasaan makan, minum yang selama ini dianggap rutinitas tersebut ternyata tidak mudah dan betapa dibutuhkan kesabaran untuk menjalaninya.

Dengan demikian, akan tumbuh sebuah penghargaan dan memosisikan aktivitas yang biasa tersebut menjadi sesuatu yang istimewa. Setiap ada kesempatan untuk menikmati hidangan atau minumantidaklagi hanyasebuah aktivitas yang sifatnya pleasure saja, tetapi akan menciptakan ruang-ruang untuk bersyukur dan memetik makna yang lebih mendalam lebih dari sekadar menghilangkan lapar dan haus.

Lewat puasa kita diajak memasuki spektrum kehidupan yang lebih luas dan dalam, tentusaja bagi mereka yang mampu melakukan transendensi diri, bukan sekadar berpuasa secara formal dan rutin. Kalau ini yang terjadi, tak lebih hanya perubahan jadwal makan dan minum belaka.

Ditulis oleh :
Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Sumber : http://www.uinjkt.ac.id/

Leadership dan Followership

Rakyat yang cerdas akan memilih pemimpin yang cerdas. Pemimpin yang cerdas akan membuat rakyatnya ikut cerdas. Jadi, terdapat hubungan kausalitas timbal-balik antara kualitas seorang pemimpin (leader) dan pengikutnya (follower).

Jadi, kalau ada seorang pemimpin dinilai tidak bagus, itu menunjukkan kualitas rakyat yang memilihnya juga tidak bagus. Kalau ada seorang pemimpin memenangi pertarungan karena kekuatan uang, artinya rakyatnya juga bermental mata duitan. Ustaz di kampung saya sering membuat analog hubungan antara pemimpin dan pengikut dengan sembahyang berjamaah. Di situ ada pemimpin (imam) dan ada pengikut (makmum) yang berdiri di belakangnya.

Menurut norma yang berlaku, siapa pun yang menjadi imam diutamakan yang paling baik akhlaknya, paling luas ilmunya, paling senior umurnya, paling baik bacaannya. Setelah imam terpilih, makmum harus taat mengikuti aturan yang berlaku agar prosesi salat jamaah berlangsung baik dan khusyuk.Tentu salat jamaah akan rusak suasananya kalau imamnya tidak benar bacaan dan jumlah rakaatnya atau makmumnya membuat kegaduhan.

Kualitas salat berjamaah ditentukan oleh imamnya dan makmumnya. Ketika makmum mendapati imamnya salah, makmum yang terdekat wajib memperingatkan. Jika masih juga salah berulang kali, padahal telah diperingatkan, ada dua pilihan. Makmum memisahkan diri lalu membuat jamaah sendiri atau imamnya yang menyatakan mundur, lalu makmum yang terdekat menggantikannya maju ke depan tanpa membatalkan salat jamaahnya.

Begitulah hubungan leadership dan followership dalam salat berjamaah, semuanya berlangsung damai tanpa keributan atau huru-hara. Tentu saja dalam panggung politik, variabelnya lebih banyak dan kompleks. Hubungan antara pemimpin dan pengikut terdekatnya saling memengaruhi. Bisa jadi ada seorang pemimpin yang kurang bagus, tetapi rakyatnya bagus sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara berlangsung baik-baik saja.

Atau sebaliknya, berkat pemimpinnya yang hebat dan bagus, rakyat yang semula brengsek tidak taat aturan berubah jadi bagus. Menurut cerita, Singapura berubah begitu tertib berkat kepemimpinan Lee Kuan Yew yang cerdas, berkarakter, dan tegas sehingga perilaku rakyatnya berubah drastis. Dengan pelaksanaan otonomi daerah, sesungguhnya kita memiliki peluang dan tantangan untuk membangun sinergi hubungan yang kreatif, konstruktif, dan produktif antara leadership dan followership untuk memajukan daerah.

Yang repot adalah ketika ruang demokrasi dibuka, rakyat bebas memilih pemimpinnya, tetapi kualitas rakyatnya rendah sehingga pemimpin yang tampil juga kurang bermutu. Akibatnya implementasi dan hasil demokrasi bukannya mendongkrak kesejahteraan dan kemajuan daerah, tetapi malah ramai-ramai menurunkan indeks pembangunan daerah. Pemimpin dan rakyatnya samasama mata duitan, sementara kinerjanya di bawah standar.

Bagaimana dengan kepemimpinan tingkat nasional? Hubungan leadership dan followership yang paling mudah diamati adalah pada lapisan terdekat presiden, yaitu jajaran menteri dan pembantu-pembantunya di lingkaran istana. Komunikasi seorang presiden dengan lingkaran terdekatnya tidak terbatas melalui bahasa verbal, tak kalah pentingnya adalah gestur.
Bagaimana suasana batin dan emosi seorang presiden menjadi bacaan yang lebih penting ketimbang apa yang diucapkan. Lebih dari itu,pembicaraan di luar acara resmi juga menjadi referensi penting bagi orang-orang terdekatnya. Sebaliknya, kepribadian dan mentalitas para follower di seputar presiden akan berpengaruh besar pada hasil kinerja sang leader.

Sepandai-pandai seorang presiden, jika jajaran terdekatnya tidak cepat, tangkas, terampil, dan berani menerjemahkan gagasannya dalam kebijakan dan tindakan, kepemimpinannya tidak akan banyak membawa perubahan dan perbaikan dalam kehidupan bernegara dan masyarakat. Jadi, hubungan leadership dan followership antara presiden dan rakyatnya sesungguhnya akan sangat ditentukan oleh kualitas hubungan pada lingkaran yang lebih kecil, yaitu leadership dan followership antara presiden dan orang-orang terdekatnya di seputar istana dan dengan jajaran para menterinya.

Meminjam ungkapan Pak Jusuf Kalla, memimpin Indonesia yang demikian besar penduduknya dan luas wilayahnya sesungguhnya tak lebih dari mengatur sekitar 500 orang saja. Pegang dan jalin komunikasi yang baik dengan tokoh-tokoh kunci di Republik ini, maka rakyat yang jumlahnya puluhan atau ratusan juta itu akan ikut di belakangnya.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 02 Maret 2012 08:22
Sumber : http://www.uinjkt.ac.id/

Tiga Pilar Kebahagiaan

Sebuah penelitian psikologi sosial menyebutkan, terdapat tiga pilar utama kebahagiaan seseorang, yaitu having a good family life, having a good job, dan having good friends and community.

Ketika diteliti, sebagian besar umur seseorang akan dihabiskan di dalam tiga zona pergaulan dan aktivitas di atas. Tiap zona aktivitas dan pergaulan akan saling melengkapi dan menutupi kejenuhan dan kekurangan yang lain. Yang pertama dan paling dasar adalah keluarga yang baik (a good family life). Secara emosional, keluarga memiliki daya gravitasi paling besar bagi kehidupan seseorang. Apa pun yang dilakukan seseorang di luar rumah pada akhirnya akan kembali kepada keluarga sehingga rumah tangga sering diibaratkan tempat berlabuh bagi sebuah kapal setelah mengembara ke lautan lepas.

Oleh karenanya, karier seseorang yang otentik dan kokoh hanya akan mungkin diraih kalau basis keluarganya solid. Soliditas keluarga dibangun terutama oleh hubungan cinta dan iman. Cinta bagaikan pupuk atau air yang akan membuat pohon rumah tangga selalu tumbuh segar, sedangkan iman memberikan ikatan moral yang kuat bahwa rumah tangga adalah amanat suci dan sebuah bahtera yang jangkauannya sampai di akhirat nanti. Rumah tangga bukan sekadar transaksi administrasi layaknya jual-beli, melainkan juga sebuah perjalanan dan pertumbuhan moral-spiritual. Kedua, having a good job.

Seseorang bekerja tidak semata untuk mengejar uang, tetapi menyangkut harga diri, aktualisasi diri, dan bersosialisasi di luar zona keluarga. Bisa dipastikan, orang yang menganggur, meski memiliki banyak uang, tidak akan bahagia. Orang yang hidup semata mengandalkan harta warisan tidak akan bangga dengan dirinya. Begitu pun mereka yang bekerja, tetapi tidak merasa cocok dan bangga dengan pekerjaannya, hatinya akan tersiksa. Ruang kerja bagaikan ruang tahanan.

Kerja akan terasa nyaman jika sesuai dengan bakat dan minatnya serta kulturnya bagus, tidak koruptif, dengan imbalan gaji yang cukup, syukur berlebih, untuk mendukung kehidupan keluarga. Sebuah lingkungan kerja akan dianggap sehat kalau para karyawannya memiliki peluang dan dorongan untuk tumbuh, baik skill, pengetahuan maupun kepribadiannya. Apalah artinya gaji tinggi jika ternyata tidak halal dan budayanya koruptif. Semua itu akan merongrong kualitas kebahagiaan yang dibangun dalam rumah tangga. Ketiga, lingkungan pertemanan dan komunitas.

Kita semua mengalami bahwa umur kita tidak hanya dihabiskan dalam urusan rumah tangga dan kerja, tetapi juga bermasyarakat. Itu suatu kebutuhan sosial dan psikologis. Makanya muncul komunitas “alumni” di luar jaringan keluarga dan kerja. Hanya, penting dicatat bahwa lingkungan pergaulan yang tidak sehat akan menggerogoti aset kebahagiaan yang kita bangun lewat zona keluarga dan kerja.

Sering terjadi sebuah keluarga terjerat masalah oleh jaringan pertemanan yang tidak sehat. Ini paling mudah diamatipadaremaja, tetapibisa juga terjadi pada orang dewasa. Keburukan itu mudah menular, bahkan kadang lebih cepat dari kebaikan. Olehkarenanya, having good friends and community merupakan satu pilar penting untuk meraih kebahagiaan hidup seseorang. Demikianlah, tentu saja banyak pilar lain yang memengaruhi kebahagiaan seseorang. Namun ketiga aspek tadi begitu dominan.

Di atas ketiganya, menurut hasil penelitian dimaksud, adalah personal values. Nilai-nilai hidup seseorang akan sangat berpengaruh dalam memaknai hidup ini. Bagi orang yang taat beragama dan tidak, tentu akan berbeda dalam memandang keluarga, harta, dan pergaulan. Ada orang yang yakin dengan banyak bederma, bersedekah ,maka jalan rezeki akan semakin terbuka. Namun ada yang berpandangan sebaliknya. Inilah yang dimaksud dengan personal values.

Sebuah kerangka berpikir dan keyakinan hidup yang sangat berpengaruh dalam perilaku seseorang, termasuk dalam berumah tangga, bekerja,dan bermasyarakat. Sebagai pribadi saya yakin kerja dan harta yang tidak halal tidak akan mendatangkan berkah dan kebahagiaan. Jika harta haram masuk ke mulut kemudian mengalir bersama darah dalam tubuh,maka harta haram tadi akan masuk disertai energy negative (setan) sehingga perilaku seseorang juga akan seperti setan.

Pikirannya, tangannya, kakinya,mulutnya akan dikendalikan oleh setan. Makanya sebagai orang tua mesti hati-hati memberikan rezeki atau nafkah kepada keluarga. Hindari membawa barang haram ke rumah jika kita benar-benar sayang kepada keluarga. Jangan membawa racun kehidupan.

Ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat  
Jumat, 27 April 2012 08:28
Sumber : http://www.uinjkt.ac.id/

Andaikan Tak Ada Cermin

Kelihatannya sepele dan murah harganya, namun fungsi cermin sangat vital dalam kehidupan sehari-hari. Mobil tanpa dilengkapi cermin pun sangat merepotkan dan membahayakan bagi pengemudinya.Terlebih jika kendaraan itu bernama perusahaan ataupun pemerintahan.

Perempuan pasti lebih banyak becermin ketimbang laki-laki untuk bersolek mematut-matutkan diri. Setiap kesempatan setiap orang selalu ingin melihat potret dirinya lewat cermin. Ini biasa dilakukan sebelum turun dari mobil. Atau ketika jalan-jalan di mal ada pintu kaca, orang sejenak melihat pantulan dirinya sambil berusaha berwajah manis, tersenyum pada diri sendiri.

Pendeknya, ada naluri bawaan, setiap orang memiliki sifat cinta diri, selalu ingin memuji dirinya, dan disebut narsistik jika berlebihan. Yang krusial adalah bagaimana caranya agar kita bisa melihat potret diri nonfisik secara objektif, adakah pantulan bayangannya itu seindah yang kita harapkan ataukah sebaliknya? Potret diri dalam aspek kepribadian ini sangat penting diperhatikan terutama oleh seorang pemimpin, baik dalam ranah keluarga, perusahaan, maupun pemerintahan.

Untuk ini, agenda pertama adalah bagaimana menemukan atau menciptakan cermin sosial yang mampu memantulkan wajah kita seobjektif mungkin. Kedua, andaikan pantulan itu ternyata mengecewakan, akankah kita memperbaiki diri ataukah–mirip pepatah lama–“buruk muka cermin dibelah”? Untuk mengetahui karakter seseorang, salah satu cara termudah dengan menanyakan kesan dan penilaian orangorang terdekatnya.

Apakah itu anak buah, teman akrab, tetangga, sopir, atau pembantu rumah tangga. Orang-orang yang berada di sekeliling kita sesungguhnya cermin hidup yang akan memantulkan karakter siapa diri kita. Kalau pantulan itu buruk, kita benahi wajah kita sebagaimana ketika becermin di depan kaca. Masalahnya, kita seringkali enggan menerima pantulan wajah kita yang mungkin tidak enak.

Akibatnya orang-orang di sekeliling kita memantulkannya pada orang lain sehingga muncullah gosip dan cerita negatif tentang kita. Ini tidak akan terjadi kalau saja kita membiasakan diri menerima masukan dan kritik, atau bahkan secara sadar kita minta, sehingga persahabatan berkembang sehat, konstruktif. Sesama teman dekat saling mengkritik dan mengapresiasi apa yang kita lakukan.

Pesan moral demokrasi sesungguhnya seperti itu. Manusia tidaklah sempurna sehingga diperlukan forum dan mekanisme kritik yang terlembagakan agar kesalahan dan penyimpangan tidak kebablasan karena akan merugikan semua. Begitupun dalam kehidupan rumah tangga dan tempat kerja, mesti dibiasakan dialog terbuka untuk menyampaikan kesan, pesan, dan penilaian tentang diri kita masing-masing layaknya kita selalu memerlukan cermin untuk melihat wajah sendiri.

Bukankah memperindah wajah kepribadian jauh lebih fundamental ketimbang paras muka? Banyak cara dapat ditempuh untuk mengetahui pantulan wajah kita dari orang-orang sekeliling. Kalau dalam lingkup pemerintahan dan kantor, bisa dilakukan survei untuk menanyakan penilaian rakyat, teman, dan anak buah terhadap seorang pimpinan. Dalam lingkungan kerja metode ini bagus dilakukan sebagai bahan pertimbangan promosi jabatan seseorang.

Ada lagi cara lain yaitu forum evaluasi bersama yang dilakukan dengan ikhlas dan jujur, semata untuk menciptakan kemajuan dan perbaikan bersama. Iklim keterbukaan ini sebaiknya juga dilakukan dalam kehidupan rumahtangga. Orang tua mesti mau mendengar apa kata anak-anaknya karena seringkali terjadi orang tua yakin merasa dirinya selalu okay di mata anak-anaknya, yang ternyata meleset.

Dengan membiasakan dialog dan saling becermin, berbagai konflik dan gosip akan terhindarkan dan sebaliknya justru menjadi masukan untuk perbaikan bersama. Saya ingat sabda Rasulullah: “Al-mar-atu, mir- atun li akhihi-l mukmin”.  Setiap orang itu sesungguhnya cermin bagi saudaranya.  Cermin di sini bisa bermakna positif atau negatif. Yang pasti,  apa pun yang kita lakukan akan terekam oleh orang-orang terdekat dan kemudian terpantul keluar.

Karena itu, sangat tepat nasihat Rasulullah yang lain: “Sebaik-baik teman adalah yang mau menunjukkan pada jalan kebenaran, sekalipun kamu merasa pahit ketika dia menunjukkan kekuranganmu”. Dalam kehidupan bernegara modern, mekanisme kritik ini lalu dilembagakan dalam sistem demokrasi.Salah satu agenda berdemokrasi adalah musyawarah, berasal dari bahasa Arab, yang seakar dengan kata “isyarat” yang arti dasarnya “menunjuk”.

Jadi dalam musyawarah semua peserta saling menunjukkan sisi baik dan buruk dari sebuah keadaan dan kepemimpinan. Tujuannya untuk perbaikan bersama, bukan didasari kebencian untuk mempermalukanatau menjatuhkan.

Formula ini oleh Alquran juga disebut “saling berwasiat” di jalan kebenaran dengan disertai kesabaran.Watawashau bilhaqqi watawashau bisshabri. Hendaknya kita saling memberi wasiat atau nasihat tentang kebenaran dan kesabaran atau konsistensi.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat
Jumat, 11 Januari 2013 07:16
Sumber : http://www.uinjkt.ac.id/