Slider

Referensi Bacaan

kajian

Buletin

Informasi

Hikmah

Ibrah

Dokumentasi

Masjid - Masjid Tetangga Kampung









*Note : Garis merah atau biru ialah garis yang diambil lurus dari titik Ka'bah (Masjidil haram). Sehingga dengan mudah kita dapat mengukur ketepatan arah kiblat dari masjid tersebut. Apakah melenceng terlalu jauh atau hanya sekian derajat saja. Semoga bermanfaat.

Apa Fungsi Usus Buntu?

Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, "buta") dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar, sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.

Usus buntu dalam bahasa Latin disebut sebagai Appendix vermiformis, organ ini ditemukan pada manusia, mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Pada awalnya organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi, tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) yang memiliki/berisi kelenjar limfoid.

Penyakit Usus Buntu
Appendicitis merupakan nama penyakit yang menyerang usus buntu. Appendicitis terjadi ketika appendix, nama lain dari usus buntu telah meradang dan membuatnya rentan pecah, ini termasuk darurat medis serius. Operasi dilakukan untuk penyembuhan radang usus yang membengkak.

Bila terjadi gejala usus buntu dalam waktu tiga hari berturut-turut, penderita harap segera menghubungi dokter atau datang ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis sehingga bisa langsung dioperasi, akan tetapi jika gejala usus buntu dibiarkan lebih dari satu minggu, maka perawatan medis serius sangat diperlukan untuk meredakan radang usus yang terjadi sebelum penderita melakukan operasi penyembuhan.

Apakah Usus Buntu Memiliki Fungsi?  
Usus buntu adalah organ berbentuk seperti tabung berukuran sekitar 10 cm, terletak di persimpangan usus kecil dan usus besar. Fungsi organ berbentuk seperti cacing ini belum diketahui secara pasti. Namun demikian, banyak orang mengalami peradangan usus buntu atau appendicitis. Usus buntu yang mengalami peradangan menimbulkan rasa sakit sehingga terkadang harus dilakukan tindakan pembedahan untuk mengatasinya.

Apa Fungsi Usus Buntu?
Untuk mengobati radang usus buntu, salah satu cara yang biasa dilakukan adalah dengan memotong usus buntu itu sendiri. Memotong usus buntu diketahui tidak mempengaruhi fungsi tubuh tertentu. Organ ini nampaknya tidak lagi mempunyai fungsi pada manusia modern.

Itu sebab, usus buntu disebut juga organ vestigial, yang berarti organ ini mungkin pernah memiliki fungsi, namun seiring evolusi telah kehilangan fungsi aslinya. Pada nenek moyang manusia, usus buntu diduga berperan dalam pencernaan. Sebagian ilmuwan berspekulasi bahwa manusia primitif mungkin mengkonsumsi kulit pohon, sehingga organ ekstra (usus buntu) diperlukan untuk mencerna makanan tersebut.

Apakah Usus Buntu Tidak Memiliki Fungsi?
Benarkah usus buntu tidak memiliki fungsi sama sekali? Penelitian yang dilakukan Loren G. Martin, profesor fisiologi di Oklahoma State University menyatakan bahwa usus buntu memiliki fungsi tertentu. Dia mengatakan usus buntu memainkan peran dalam tahap perkembangan janin. Saat janin berusia sekitar 11 minggu, usus buntu membantu perkembangan sel endokrin.

Sel-sel endokrin menghasilkan amina biogenik dan hormon peptida, yang merupakan senyawa yang membantu mekanisme homeostatis dalam tubuh janin. Sedangkan pada usia dewasa, usus buntu diyakini berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Penelitian mengungkapkan bahwa jaringan limfoid mulai terakumulasi dalam usus buntu segera setelah bayi lahir.

Akumulasi jaringan limfoid terjadi terus dan mencapai puncaknya pada saat seseorang mencapai usia dua puluhan atau tiga puluhan. Akumulasi ini memungkinkan usus buntu bertindak sebagai organ limfoid dan membantu pematangan satu jenis sel darah putih yang disebut lymphocytes B. Usus buntu juga diduga terkait dengan produksi antibodi yang disebut immunoglobulin A (IgA).

Peneliti lain dari Duke University Medical School juga menemukan bahwa usus buntu memproduksi dan melindungi bakteri baik pada usus, sehingga bertindak sebagai reservoir (tempat tinggal) untuk bakteri baik. []

Sumber : http://id.wikipedia.org/  dan  http://www.amazine.co/

Shalat Tarawih 11 ataukah 23 Raka’at

Sebenarnya dalam permalasalahan jumlah raka’at shalat tarawih tidak ada masalah sama sekali. Tidak ada masalah dengan 23 raka’at atau 11 raka’at. Semoga kita bisa semakin tercerahkan dengan tulisan berikut.
Shalat Tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar.

Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan. Lihat Shalat At Tarawih, hal. 21)

As Suyuthi mengatakan, “Telah ada beberapa hadits shahih dan juga hasan mengenai perintah untuk melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan dan ada pula dorongan untuk melakukannya tanpa dibatasi dengan jumlah raka’at tertentu. Dan tidak ada hadits shahih yang mengatakan bahwa jumlah raka’at tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 20 raka’at. Yang dilakukan oleh beliau adalah beliau shalat beberapa malam namun tidak disebutkan batasan jumlah raka’atnya. Kemudian beliau pada malam keempat tidak   melakukannya agar orang-orang tidak menyangka bahwa shalat tarawih adalah wajib.”

Ibnu Hajar Al Haitsamiy mengatakan, “Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at. Adapun hadits yang mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (tarawih) 20 raka’at”, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9635)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah dho’if. Hadits ‘Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini. Padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 6/295)

Jumlah Raka’at Shalat Tarawih yang Dianjurkan
Jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat.
‘Aisyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يَعْنِى بِاللَّيْلِ
“Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764). Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/123, Asy Syamilah).

Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Tarawih Lebih dari 11 Raka’at?
Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan  bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)

Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut.
Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489)

Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.” (HR. Muslim no. 488)

Dari dalil-dalil di atas menunjukkan beberapa hal: 
Keempat, Pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas. Alasan pertama, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul.

Alasan kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. … Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Alasan ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada pertentangan.

Kelima, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap raka’at. Di zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu raka’at begitu lama. Akhirnya, ‘Umar memiliki inisiatif agar shalat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Keenam, telah terdapat dalil yang shahih bahwa ‘Umar bin Al Khottob pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat tarawih, Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari ditunjuk sebagai imam. Ketika itu mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 21 raka’at. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu shubuh. (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq no. 7730, Ibnul Ja’di no. 2926, Al Baihaqi 2/496. Sanad hadits ini shahih. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/416)

Begitu juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. Dari As Saa-ib bin Yazid, beliau mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khottob memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daariy untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. As Saa-ib mengatakan, “Imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena saking lamanya. Kami selesai hampir shubuh.” (HR. Malik dalam Al Muqatho’, 1/137, no. 248. Sanadnya shahih. Lihat Shahih Fiqih Sunnah 1/418)

Berbagai Pendapat Mengenai Jumlah Raka’at Shalat Tarawih
Jadi, shalat tarawih 11 atau 13 raka’at yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan jumlah raka’at shalat tarawih ada beberapa pendapat.
Pendapat pertama, yang membatasi hanya sebelas raka’at. Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut Tarawaih.
Pendapat kedua, shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir). Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) para sahabat.

Al Kasaani mengatakan, “’Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.”
Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in.”

Ibnu ‘Abidin mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang dilakukan di timur dan barat.”
‘Ali As Sanhuriy mengatakan, “Jumlah 20 raka’at inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan hingga sekarang ini di berbagai negeri.”

Al Hanabilah mengatakan, “Shalat tarawih 20 raka’at inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga hal ini menjadi ijma’ atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9636)

Pendapat ketiga, shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/419)

Pendapat keempat, shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah. (Lihat Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, 3/267)

Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang ada adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

“Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.

Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.

Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Dari penjelasan di atas kami katakan, hendaknya setiap muslim bersikap arif dan bijak dalam menyikapi permasalahan ini.  Sungguh tidak tepatlah kelakuan sebagian saudara kami yang berpisah dari jama’ah shalat tarawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 raka’at karena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 raka’at atau dia sendiri ingin melaksanakan shalat 23 raka’at di rumah.

Orang yang keluar dari jama’ah sebelum imam menutup shalatnya dengan witir juga telah meninggalkan pahala yang sangat besar. Karena jama’ah yang mengerjakan shalat bersama imam hingga imam selesai –baik imam melaksanakan 11 atau 23 raka’at- akan memperoleh pahala shalat seperti shalat semalam penuh. “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga Allah memafkan kami dan juga mereka.

Yang Paling Bagus adalah Yang Panjang Bacaannya
Setelah penjelasan di atas, tidak ada masalah untuk mengerjakan shalat 11 atau 23 raka’at. Namun yang terbaik adalah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun berdirinya agak lama. Dan boleh juga melakukan shalat tarawih dengan 23 raka’at dengan berdiri yang lebih ringan sebagaimana banyak dipilih oleh mayoritas ulama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ
“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.” (HR. Muslim no. 756)
Dari Abu Hurairah, beliau berkata,

عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibnu Hajar –rahimahullah- membawakan hadits  di atas dalam kitab beliau Bulughul Marom, Bab “Dorongan agar khusu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’  dan sujud. (Lihat Syarh Bulughul Marom, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49/3, Asy Syamilah)

Oleh karena itu, tidak tepat jika shalat 23 raka’at dilakukan dengan kebut-kebutan, bacaan Al Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas. Bahkan kadang pula shalat 23 raka’at yang dilakukan lebih cepat selesai dari yang 11 raka’at. Ini sungguh suatu kekeliruan. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah, bukan dengan kebut-kebutan. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Cuplikan dari Buku Panduan Ramadhan
Sumber : http://rumaysho.com/shalat/shalat-tarawih-11-ataukah-23-rakaat-448

Tujuh Golongan Yang Mendapat Perlindungan


A. Hadits

وَ عَنْ أبِي هُرَ يْرَةَ رَ ضِيَي االلهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ الله فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ِظلَّ ِإلاَّ ِظلَّهُ : ِإمَامٌُ عَا ِدلٌ، وَشَا بٌّ نَشَأ ِفي عِبَا دَةِ اللهِ تعلى، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ، اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ اِمْرَأةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَ جَمَالٍ، فَقَاَلَ: إِنِّي َأخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَهٍ، فَأخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ (متفق عليه)

B. Sanad

- حدثنا محمد بن سلام: أخبرنا عبد الله، عن عبيد الله بن عمر، عن خبيب بن عبد الرحمن، عن حفص بن عاصم، عن أبي هريرة،

C. Matan

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ الله فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ِظلَّ ِإلاَّ ِظلَّهُ : ِإمَامٌُ عَا ِدلٌ، وَشَا بٌّ نَشَأ ِفي عِبَا دَةِ اللهِ تعلى، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ، اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ اِمْرَأةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَ جَمَالٍ، فَقَاَلَ: إِنِّي َأخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَهٍ، فَأخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

D. Terjemahan Matan
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw, beliau bersabda: “ Ada tujuh kelompok yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya yaitu: Pemimpin yang adil, remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah ta’alaa, seseorang yang senantiasa hatinya dipertautkan dengan masjid, dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu menjawab: “sesungguhnya saya takut kepada Allah”, seseorang yang mengeluarkan shadakah kemudian ia merahasiakannya sampai-sampai tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya meneteskan air mata”. (HR.Bukhari dan Muslim).

E. Penjelasan Matan
Setiap orang berhak mengeluarkan pendapatnya dan seorang pemimpin berkewajiban mendengarkan. Ia wajib menjalankan hasil musyawarah. Setiap keputusan yang telah disepakati bersama wajib dilaksanakan karena itu merupakan amanat yang dibebankan kepadanya. Dalam hadits diatas diungkapkan keutamaan seorang pemimpin yang adil sehingga mendapatkan posisi pertama orang yang mendapatkan naungan dari Allah pada hari kiamat. Hal ini menunjukkan begitu beratnya menjadi seorang pemimpin untuk selalu adil dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan.

Penjelasannya adalah sebagai berikut.
1. Pemimpin yang adil. Pemimpin di sini bisa saja presiden, gubernur, bupati, camat, lurah atau kepala rumah tangga (suami). Karena setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai Allah swt. pertanggungjawabannya kelak. Untuk itu, seorang pemimpin harus bertindak adil sehingga semua orang yang dipimpinya bisa merasakan pelayanan yang maksimal dan penegakan ketentuan yang benar.

2. Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan (ibadah). Masa muda adalah masa di mana syahwat sedang memuncak sehingga tidak jarang banyak pemuda terjerumus dalam kemaksiatan. Pemuda yang mampu mengisi hari-harinya dengan ibadah adalah yang terselamatkan di hari kiamat. Sebagaimana kisah Ashabul Kahfi (Para pemuda Kahfi) yang menghindari kezaliman penguasa untuk menyelamatkan aqidah mereka.

3. Seorang yang hatinya terikat dengan masjid. Orang yang tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk memakmurkan masjid dengan ibadah dan amal-amal sholeh, terutama sholat fardhu berjama’ah. Hatinya selalu ‘risau’ bila jauh dari masjid, dan merasa sedih bila tak bisa mendatanginya di waktu-waktu sholat berjama’ah dan ketika majelis dzikir diadakan.

4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karena Allah. Tingkatan hubungan keimanan tertinggi adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Bila dua orang saling mencintai karena masing-masing selalu menjaga kecintaannya pada Allah, bertemu dalam kerangka mengingat Allah dan berpisah dengan tetap dalam dzkir pada Allah maka keduanya akan selamat di hari kiamat.

5. Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang perempuan kaya dan cantik tetapi ia menolak dan berkata “Aku takut pada Allah”. Sebagaimana kisah nabi Yusuf as. yang digoda oleh Zulaikha, keduanya saling cenderung sehingga jika bukan karena tanda dari Allah maka keduanya akan bermaksiat sehingga Yusuf berkata: “Ya Allah, lebih baik hamba dipenjara daripada harus bermaksiat kepadamu”. Sesuatu yang saat ini mungkin sangat jarang ditemui.

6. Seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kiri tidak tau apa yang diberikan oleh tangan kanan. Amal yang disertai dengan keikhlasan adalah salah satu syarat diterimanya amal oleh Allah swt. Keikhlasan adalah hal yang sulit dan karenanya hanya orang-orang yang ikhlas saja yang tidak akan disesatkan oleh syaitan.

7. Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam kesunyian sehingga meneteskan air mata. Dzikir bagi orang beriman ibarat nafas bagi makhluk hidup, ketika seseorang tidak lepas dari dzikir baik di siang maupun di malam hari maka seolah makhluk hidup yang selalu bisa bernafas bebas. Mengingat Allah hingga meneteskan air mata adalah sesuatu yang sulit, kecuali bagi orang yang hatinya telah lunak oleh hidayah Allah. Sebagaimana ciri orang beriman, ketika mendengar kalimat Allah maka bergetarlah hatinya dan ketika mendengar Al Qur-an maka bertambahlah iman mereka.

Biografi Perawi

1. Imam Bukhari
Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari Al Ju’fi. Akan tetapi beliau lebih terkenal dengan sebutan Imam Bukhari, karena beliau lahir di kota Bukhara, Turkistan Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M).. Ketika berusia sepuluh tahun, Al Imam Al Bukhari mulai menuntut ilmu, beliau melakukan pengembaraan ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam.

Guru-guru beliau banyak sekali jumlahnya. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Abu ‘Ashim An-Nabiil, Al Anshari, Makki bin Ibrahim, Ubaidaillah bin Musa, Abu Al Mughirah, ‘Abdan bin ‘Utsman, ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, Shadaqah bin Al Fadhl, Abdurrahman bin Hammad Asy-Syu’aisi, Muhammad bin ‘Ar’arah, Hajjaj bin Minhaal, Badal bin Al Muhabbir, Abdullah bin Raja’, Khalid bin Makhlad, Thalq bin Ghannaam, Abdurrahman Al Muqri’, Khallad bin Yahya, Abdul ‘Azizi Al Uwaisi, Abu Al Yaman, ‘Ali bin Al Madini, Ishaq bin Rahawaih, Nu’aim bin Hammad, Al Imam Ahmad bin Hanbal, dan sederet imam dan ulama ahlul hadits lainnya.

Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Al Imam Al Bukhari sangat terkenal kecerdasannya dan kekuatan hafalannya. Beliau pernah berkata, “Saya hafal seratus ribu hadits shahih, dan saya juga hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih”. Pada kesempatan yang lain belau berkata, “Setiap hadits yang saya hafal, pasti dapat saya sebutkan sanad (rangkaian perawi-perawi)-nya”.

Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami’ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al‘Ilal, Raf’ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du’afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami’ as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari.

Imam Bukhari meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau di makamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri.

2. Imam Muslim
Nama lengkap beliau ialah Imam Abdul Husain bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al- Qusyairi an-Naisaburi. Dia dilahirkan di Naisabur tahun 206 H.

Kehidupan dan Pengembaraannya
Beliau merantau ke berbagai negeri untuk mencari hadits. Dia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dia belajar hadits sejak masih kecil, yakni mulai tahun 218 H. Dalam perjalanannya, Muslim bertemu dan berguru pada ulama hadis.

Di Khurasan, dia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih. Di Ray, dia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu Ansan. Di Irak, dia belajar kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Di Hijaz, berguru kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’ab. Di Mesir, belajar kepada ‘Amar bin Sawad dan Harmalah bin Yahya dan berguru kepada ulama hadits lainnya.

Imam Muslim berulangkali pergi ke Baghdad untuk belajar hadits, dan kunjungannya yang terakhir tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering berguru kepadanya. Sebab dia mengetahui kelebihan ilmu Imam Bukhari.

Imam Muslim wafat pada hari Ahad sore, dan di makamkan di kampung Nasr Abad daerah Naisabur pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun.

Kitab Imam Muslim
Imam muslim mempunyai kitab hasil tulisannya yang jumlahnya cukup banyak. Di antaranya:
1. Al-Jamius Shahih
2. Al-Musnadul Kabir Ar-Rijal
3. Kitab al-Asma’ wal Kuna
4. Kitab al-Ilal
5. Kitab al-Aqran
6. Kitab Sualatihi Ahmad bin Hanbal
7. Kitab al-Intifa’ bi Uhubis Siba’
8. Kitab al-Muhadramain
9. Kitab Man Laisa Lahu illa Rawin Wahidin
10. Kitab Auladus Sahabah
11. Kitab Auhamul Muhadisin.

Kitabnya yang paling terkenal sampai kini ialah Al-Jamius Shahih atau Shahih Muslim.


Editor : Hamzah/
Sumber : http://itha911.wordpress.com

Who Is Aisyah?

Rasulullah saw mengatakan kepada Aisyah, “Aku melihat dalam mimpi selama tiga bulan, malaikat mendatangiku dengan membawamu dengan menutupimu dengan kain sutra. Ia berkata: “Inilah istrimu”, maka akupun membuka wajahmu dan ternyata engkaulah wanita yang tertutup kain itu. Maka aku katakan: “Bila ini dari Allah, Dia pasti akan melakukannya (menakdirkannya). Hadist Muttafaqun ‘alaih.

Hadis yang terdapat dalam kitab hadist Bukhari dan Muslim di atas, menunjukkan bahwa Rasulullah saw ditakdirkan untuk menikahi Aisyah melalui berita langsung dari Allah Ta’ala kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam.

Meneladani Kemuliaan Aisyah
Di antara istri-istri Rasulullah saw, Siti Aisyah mempunyai tempat yang sangat istimewa. Ia adalah satu-satunya istri yang dinikahi Nabi dalam keadaan masih gadis. Ialah, yang sejak awal disiapkan oleh Allah SWT untuk menjadi pendamping dan penyokong Rasulullah sebagai Pengemban Risalah. Putri dari sahabat Rasulullah yang paling dicintai, yakni Abubakar Shiddiq, berhasil menjadi istri yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW. Di pangkuannyalah, Rasulullah menghembuskan nafas terakhirnya.

Aisyah adalah figur dan potret wanita ideal nan agung. Ia memiliki hati nan lembut, penuh cinta dan kehangatan, setia, berwawasan tajam, perasa, dan menjadi sentral dalam kehidupan. Ia pun penebar kedamaian, kasih sayang, dan cinta. ”Sungguh aku tahu marah dan lapangmu ketika kamu tenang,” kata Rasulullah kepada Aisyah.

Aisyah bertangan nan lembut dalam damai dan payah, serta cerdas dan ikhlas. Tak heran kalau ia sampai pada derajat seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, ”wanita adalah ‘belahan jiwa pria’.

Keharmonisan Rumah Tangga Rasulullah SAW
Di bawah naungan rumah tangga yang bersahaja di situlah tinggal sang istri, pahlawan di balik layar pembawa ketenangan dan kesejukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah benda (perhiasan) dan sebaik-baik benda (perhiasan) adalah wanita (isteri) yang sholehah. “ (HR. Muslim)

Di antara keelokan budi pekerti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan keharmonisan rumah tangga beliau ialah memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan nama kesayangan dan mengabarkan kepadanya berita yang membuat jiwa serasa melayang-layang.

Aisyah radhiyallah ‘anha menuturkan: “Pada suatu hari Rasu-lullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya:

“Wahai ‘Aisy (panggilan kesayangan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ), Malaikat Jibril shallallahu ‘alaihi wasallam tadi menyampaikan salam buatmu.” (Muttafaq ‘alaih)

Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam selaku Nabi umat ini yang paling sempurna akhlaknya dan paling tinggi derajatnya telah memberikan sebuah contoh yang berharga dalam hal berlaku baik kepada sang istri dan dalam hal kerendahan hati, serta dalam hal mengetahui keinginan dan kecemburuan wanita. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menempatkan mereka pada kedudukan yang diidam-idamkan oleh seluruh kaum hawa. Yaitu menjadi seorang istri yang memiliki kedudukan terhormat di samping suaminya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:
Suatu ketika aku minum, dan aku sedang haidh, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR. Muslim)

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah seperti yang diduga oleh kaum munafikin atau seperti yang dituduhkan kaum orientalis dengan tuduhan-tuduhan palsu dan pengakuan-pengakuan bathil. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lebih memilih etika berumah tangga yang paling elok dan sederhana.

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium salah seorang istri beliau kemudian berangkat menunaikan shalat tanpa memperbaharui wudhu’.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Kedudukan Agung Kaum Wanita
Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menjelaskan dengan gamblang tingginya kedudukan kaum wanita di sisi beliau. Mereka kaum hawa memiliki kedudukan yang agung dan derajat yang tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjawab pertanyaan ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallah ‘anhu seputar masalah ini, beliau jelaskan kepadanya bahwa mencintai istri bukanlah suatu hal yang tabu bagi seorang lelaki yang normal.

Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” beliau menjawab: “‘Aisyah!” (Muttafaq ‘alaih)

Barangsiapa yang mengidamkan kebahagiaan rumah tangga, hendaklah ia memperhatikan kisah- kisah ‘Aisyah radhiyallah ‘anha bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana kiat-kiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membahagiakan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Editor : Hamzah/
Sumber : http://alfanarku.wordpress.com/

Ramadhan, Stabilitas Emosi

“…Hanya orang-orang yang bersabar-lah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS al-Zumar [39]: 10)
Setidaknya ada empat (4) hal yang dapat digunakan untuk mengukur ‘stabilitas emosi’ seseorang. Sebelum melangkah lebih jauh, hal yang harus dipahami adalah bahwa emosi tidak melulu soal amarah atau kemarahan. Emosi sebenarnya adalah terminologi yang sangat general (universal). Emosi—juga—berarti kesedihan, kegembiraan, kegalauan, keriangan, dan seterusnya. Namun tidak dimungkiri pula bahwa dalam realitas sosial kita, emosi lebih dekat dengan makna ‘(a)marah’ atau ‘murka’.

Seorang yang sedikit-sedikit marah biasanya dijuluki dengan pribadi yang ‘emosian’. Orang yang emosian biasanya malah menjadi bahan guyonan, dan bahkan ejekan. Orang yang biasa marah, hanya karena masalah (yang) sepele, sudah kebakaran jenggot. Tentu ini adalah makna kiasan. Tidak semua yang kebakaran jenggot punya jenggot beneran. Simpelnya dapat dipahami bahwa berbicara masalah ‘emosi’ maknanya adalah perihal kemarahan, dan yang senada dengannya.

Lalu, apakah empat (4) hal yang penulis maksudkan di awal? Pertama, stabilitas emosi dapat dilihat dari sudut pandang geografis. Maksudnya, dari mana kita berasal. Contoh sederhananya, antara orang kota dan orang desa. Kalau boleh jujur, kira-kira antara ‘orang kota’ dengan ‘orang desa’ mana yang lebih stabil emosinya? Meskipun belum berdasarkan penelitian yang valid, nampaknya emosi orang desa yang lebih stabil. Emosi orang kota dengan segenap setting kulturalnya biasanya (lebih) tidak stabil.

Kedua, dilihat dari jenis kelamin (gender). Sekali lagi ini adalah renungan bersama, yang tidak memerlukan kernyitan dahi. Jawabannya biarlah mengalir, seperti air sungai yang ‘berjalan’ dari hulu ke hilir. Penulis tekankan lagi ini hanyalah ‘kira-kira’. Kira-kira, antara laki-laki dan perempuan, mana yang lebih stabil emosinya? Jawaban pertanyaan ini memang beragam. Tetapi kalau dipersentase, nampaknya laki-laki yang emosinya lebih stabil. Emosi wanita cenderung fluktuatif.

Mari kita buktikan. Ada satu keluarga. Sudah lima tahun berumah tangga tetapi tidak juga dikaruniai ‘buah hati’. Alhamdulillāh, di tahun ke-6 pernikahannya, Allah menganugerahkan seorang anak laki-laki yang normal sekaligus tampan. Saat berusia sekitar 5 tahun, sang anak sudah biasa bermain-main dengan teman sebayanya. Tanpa pengawasan langsung yang intensif dari kedua orang tuanya. Tanpa dinyana-nyana, suatu siang datang kabar bahwa anak tadi mengalami kecelakaan.

Dalam kasus di atas, siapa yang pertama kali menitikkan air mata: sang ayah atau ibu? Dengan mudah, kita dapat menjawab: pastilah ibunya. Kemudian, mereka berdua memastikan kebenaran kabar tidak baik itu dengan datang ke lokasi. Ternyata benar musibah itu menimpa anaknya, anak satu-satunya. Siapakah yang kemudian menangis (bahkan langsung pingsan) kala itu? Sang ayah atau ibu? Jawaban yang paling logis dan realistis adalah sang ibu. (Ini hanyalah analogi semata)

Setelah itu, sang anak yang terluka tersebut dibawa-lah ke rumah sakit. Selama sebulan dia dirawat dengan intensif. Berkat usaha dokter dan tentu karena pertolongan Allah, sang anak sembuh. Ia dapat tersenyum-bahagia kembali, mampu beraktivitas seperti sebelumnya. Saat itu, siapa yang pertama kali tersenyum? Jawabannya adalah: sang ibu. Lalu, ayahnya kemana dan ngapain? Ayah “menangis” karena harus melunasi tagihan rumah sakit yang lumayan mahal. (Kalimat terakhir ini sekadar guyonan)

Kisah tadi menjadi penegas bahwa antara laki-laki dan perempuan, yang lebih stabil emosinya adalah laki-laki. Laki-laki mengedepankan akal, sementara perempuan mendahulukan perasaan. Dan hal itu tidaklah menunjukkan bahwa perempuan tidak lebih mulia dari laki-laki. Itulah fitrah dan dalam banyak kasus tidak berlaku mutlak. Boleh jadi dalam formasi pasangan suami-istri, yang lebih tahan emosi adalah sang istri. Tetapi dalam tulisan ini, kita berbicara yang (in) general, yang umum, aghlabiyyah.

Ketiga, stabilitas emosi dapat ditilik dari kualitas (ke)ilmu(an). Dalam bahasa yang lebih keren, ‘gizi intelektualitas’ menentukan stabilitas emosi. Pertanyaan yang menegaskan hal itu adalah sebagai berikut. Kira-kira (sekali lagi, kira-kira), antara orang yang pintar dengan yang bodoh (tidak, atau kurang pintar) mana yang lebih stabil emosinya? Sepertinya, orang yang pintar yang lebih stabil. Sebab dia tahu bahwa marah itu ada tempatnya, dan semakin banyak marah semakin menunjukkan kalau dia “bodoh”.

Oleh karena itu, kalau pendidikan seseorang sudah tinggi tetapi tetap saja emosian berarti masih diragukan kepintarannya. Benarkah dia sudah pandai secara hakiki atau sekadar pandai-pandaian. Dalam masalah agama, orang yang lebih tahu khilafiyyah (dalam masalah cabang, furu’iyyah) dia semakin mampu menghargai perbedaan yang ada. Dia paham bahwa orang lain memiliki dalil yang kuat sehingga amaliyyah ibadahnya berbeda. Dia tidak mudah menghakimi, tidak buru-buru menganggap orang lain salah.

Dalam konteks lain, orang yang masih sering marah, tidak kuat mengendalikan emosi, semestinya lebih banyak belajar. Ilmu, pengetahuan, pengalaman, wawasan, dan hal positif lainnya insya Allah akan menghantarkannya pada stabilitas emosi. Logika terbaliknya, supaya kita cepat menjadi orang yang pintar maka mari mengendalikan emosi. Ini memang sukar tetapi akan segera terwujud kalau kita terus belajar. Singkatnya, (karena) derajat kepintaran sebanding dengan stabilitas emosi.

Keempat, masalah isi perut yang menjadi ukuran. Poin terakhir inilah yang sangat relevan untuk dibahas (sedikit) lebih dalam di bulan yang sangat mulia (Ramadhan). Sebelumnya, mari kita bertanya. Kira-kira nich, antara orang yang lapar dengan orang yang kenyang, mana yang lebih stabil emosinya? Nampaknya, orang yang kenyang yang lebih stabil. Sebab, dia sudah selesai dengan urusan perutnya dan dapat menatap hidup secara lebih utuh. Sementara untuk orang yang lapar, urusannya menjadi lain.

Bagi orang yang lapar, jangankan berpikir untuk bekerja dan berkarya, urusan perut saja belum kelar. Bagaimana mau berbuat yang baik dan benar kalau perut dalam keadaan lapar. Begitulah kira-kira kondisi orang yang lapar. Para pembaca yang budiman, disinilah menariknya puasa yang akan atau sedang kita jalankan. Kita justru diminta untuk lebih mengendalikan emosi di saat perut dalam keadaan tidak terisi. Kita harus bersabar dalam kondisi haus dan lapar. Menarik sekali bukan?

Sangat wajar kalau Allah sangat mengistimewakan ibadah puasa. Puasa adalah milik Allah, tidak semata-mata milik hamba-Nya. Dan karena puasa itu milik Allah maka Dia-lah yang akan memberikan pahala langsung. Orang yang ‘kuat’ berpuasa adalah orang yang luar biasa. Merekalah yang mampu menahan dirinya dalam kondisi yang lemah dan tidak berdaya. Merekalah yang berupaya berbuat baik secara terus-menerus meskipun keadaan perutnya sedang tidak ‘terurus’.

Ketika seseorang sudah pandai men-stabilkan emosinya dalam kondisi perut tidak terisi maka pastinya dia lebih bersabar di saat perutnya kenyang. ‘Pesantren Ramadhan’, kalau begitu, akan menghasilkan pribadi yang penyabar dan tahan uji. Pribadi yang karena masalah sepele atau besar sekalipun tetap mampu menahan emosi. Kalau puasa diorientasikan ke sana maka hikmah Ramadhan akan semakin terasa. Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah pandai menahan emosi atau amarahnya.

Puasa: ‘Menahan’
Kalau kita kembali kepada makna dasar puasa maka akan ketemu titik simpulnya. Puasa, sudah sangat jelas dan lugas, secara bahasa artinya menahan. Menahan saat berpuasa dalam kacamata fikih berarti: menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri. Tetapi kalau boleh dikaitkan dengan ‘mudik lebaran’, yang demikian itu hanyalah ‘kelas ekonomi’. Muslim yang baik tentu ingin mendapatkan tiket yang lebih baik: bisnis atau (bahkan) eksekutif.

Lalu bagaimana untuk melampaui ‘kelas ekonomi’? Caranya dengan berpuasa yang bukan hanya ragawi tetapi juga maknawi. Tidak makan, tidak minum, dan tidak bersetubuh itu adalah yang kasat mata. Dengan bahasa lain, itu adalah simbol. Makna filosofisnya tentu lebih dalam. Bahwa yang harus ditahan (di-imsāki) sangatlah universal. Termasuk bagaimana menahan diri kita agar tidak mudah marah, dan sebaliknya berusaha untuk senantiasa bersikap ramah.

Menahan (al-imsāku) dalam artian yang luas adalah menahan diri kita dari hal-hal yang tidak baik. Semakin kuat ‘ketahanan’ kita maka semakin sukses puasa yang kita jalankan. Hal ini mungkin diperoleh dengan penghayatan yang mendalam terhadap substansi dari shaum Ramadhan itu sendiri. Dalam bahasan ini, titik tekannya lebih kepada pencapaian stabilitas emosi, sebagai buah manis Ramadhan. Stabilitas emosi (kesabaran) akan menjadikan manusia lebih mulia dan terjaga.

Demikianlah hikmah Jumat minggu ini. Izinkan penulis mengucapkan terima kasih kepada Ust. Sudarmaji, S.Pd atas inspirasinya. Apa yang tertulis di buletin ini adalah ceramah (jelang) terawih beliau, dengan beberapa improvisasi. Paling terakhir, kita berdoa semoga puasa Ramadhan tahun ini benar-benar mendidik kita untuk lebih tahan uji, lebih mampu menahan (men-stabilkan) emosi, alias semakin pantas disebut sebagai pribadi yang sabar atau ‘penyabar’. Wallāhu a’lamu bi ash-shawāb. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Staf Prodi Hukum Islam FIAI UII

Editor : Hamzah/
Sumber : http://alrasikh.uii.ac.id/

Uwais Al-Qarni

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita mengenai Uwais al-Qarni tanpa pernah melihatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia diberi kesembuhan, tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Jika kamu bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampun (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) untukmu, maka lakukanlah!”

Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu telah menjadi Amirul Mukminin, dia bertanya kepada para jamaah haji dari Yaman di Baitullah pada musim haji, “Apakah di antara warga kalian ada yang bernama Uwais al-Qarni?” “Ada,” jawab mereka.

Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Bagaimana keadaannya ketika kalian meninggalkannya?”

Mereka menjawab tanpa mengetahui derajat Uwais, “Kami meninggalkannya dalam keadaan miskin harta benda dan pakaiannya usang.”

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka, “Celakalah kalian. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita tentangnya. Kalau dia bisa memohonkan ampun untuk kalian, lakukanlah!”

Dan setiap tahun Umar radhiyallahu ‘anhu selalu menanti Uwais. Dan kebetulan suatu kali dia datang bersama jemaah haji dari Yaman, lalu Umar radhiyallahu ‘anhu menemuinya. Dia hendak memastikannya terlebih dahulu, makanya dia bertanya,

“Siapa namamu?”

“Uwais,” jawabnya.

Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Di Yaman daerah mana?’

Dia menjawab, “Dari Qarn.”

“Tepatnya dari kabilah mana?” Tanya Umar radhiyallahu ‘anhu.

Dia menjawab, “Dari kabilah Murad.”

Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Bagaimana ayahmu?”

“Ayahku telah meninggal dunia. Saya hidup bersama ibuku,” jawabnya.

Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Bagaimana keadaanmu bersama ibumu?’

Uwais berkata, “Saya berharap dapat berbakti kepadanya.”

“Apakah engkau pernah sakit sebelumnya?” lanjut Umar radhiyallahu ‘anhu.

“Iya. Saya pernah terkena penyakit kusta, lalu saya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga saya diberi kesembuhan.”

Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Apakah masih ada bekas dari penyakit tersebut?”

Dia menjawab, “Iya. Di lenganku masih ada bekas sebesar dirham.” Dia memperlihatkan lengannya kepada Umar radhiyallahu ‘anhu.

Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu melihat hal tersebut, maka dia langsung memeluknya seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mohonkanlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untukku!”

Dia berkata, “Masa saya memohonkan ampun untukmu wahai Amirul Mukminin?”

Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Iya.”

Umar radhiyallahu ‘anhu meminta dengan terus mendesak kepadanya sehingga Uwais memohonkan ampun untuknya.

Selanjutnya Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepadanya mengenai ke mana arah tujuannya setelah musim haji. Dia menjawab, “Saya akan pergi ke kabilah Murad dari penduduk Yaman ke Irak.”

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya akan kirim surat ke walikota Irak mengenai kamu?”

Uwais berkata, “Saya bersumpah kepada Anda wahai Amriul Mukminin agar engkau tidak melakukannya. Biarkanlah saya berjalan di tengah lalu lalang banyak orang tanpa dipedulikan orang.”

sumber : http://kisahmuslim.com/
Editor : Hamzah/

Ramadhan Bulan Kontemplasi

Salah satu aspek puasa adalah mengubah satu variabel jadwal makan dan minum, tetapi ternyata dampaknya sangat besar bagi kaum muslim di seluruh dunia.

Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah mahdlah atau ibadah pokok yang menjadi kewajiban perseorangan sehingga tidak bisa diwakilkan sekalipun kepada orang terdekatnya. Ini menjadi salah satu indikasi bahwa ibadah puasa merupakan ibadah yang menuntut tanggung jawab pribadi. Keberhasilan menjalaninya pun menjadi indikasi keberhasilan individu dalam menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas rutin sehari-hari yang merusak puasa seperti makan dan minum di siang hari.

Banyak sekali aspek puasa yang telah digali para ahli dengan berbagai perspektif, misalnya aspek psikologis, keagamaan, dan kesehatan. Dari sisi psikologis, puasa memiliki dampak positif karena dianggap mampu membantu mengasah rasa empati kita terhadap mereka yang tidak mampu dan terpaksa harus menahan lapar dan haus hampir setiap hari. Bagi golongan yang kurang beruntung secara ekonomi, derita tidak makan dan minum bukan lagi kewajiban, tetapi menjadi sesuatu keniscayaan pahit yang ditemui setiap hari.

Adapun dari sisi keagamaan, puasa tentu saja hukumnya wajib. Menjalankannya akan mendapatkan pahala dan meninggalkannya adalah dosa. Namun yang lebih penting adalah puasa merupakan sebuah bentuk ibadah yang paling private antara Tuhan dan manusia. Hanya Tuhanlah yang tahu apakah seseorang betul-betul menjalankan ibadah puasa dengan sempurna ataukah tidak. Bisa saja seseorang berpura- pura menahan lapar dan haus di hadapan sesamanya, tetapi dia tak akan bisa menipu Tuhan dalam menjalani ibadah puasanya.

Adapun dari aspek kesehatan, puasa dianggap memiliki dampak positif karena dengan menjalani puasa, organ pencernaan kita rehat sesaat dan ibarat mobil dia mengalami turun mesin setelah bekerja tanpa henti dalam jangka waktu yang cukup panjang. Dengan demikian, ada efek rejuvinasi atau penyegaran yang membuat mesin tersebut akan berfungsi lebih baik dari sebelumnya. Masa jeda tersebut ternyata bukan menurunkan daya, tetapi melipatgandakannya.

Berhenti sejenak dari sebuah rutinitas dan menaruh rutinitas tersebut dalam tanda kurung or bracketing out sesungguhnya menjadi sebuah kebutuhan dan keniscayaan agar kita memiliki kesempatan untuk berkontemplasi menemukan makna dan nilai dari sesuatu yang kita anggap biasa karena saking sudah sedemikian akrabnya.

Sebagaimana halnya dalam berhubungan dengan pasangan, kawan maupun dengan atasan atau bawahan, bila semuanya dijalani hanya sebagai sebuah rutinitas, tanpa upaya menaruhnya dalam sebuah ruang untuk kita renungkan, maka apa yang didapatkan dari hubungan tersebut hanyalah keterpenuhannya sebuah ”kewajiban” atau ”kebiasaan” atau ”kelaziman” semata tanpa kedalaman makna.

Ibarat membaca lembaran-lembaran tulisan dalam buku, kedekatan atau proximity antara pandangan kita dan buku yang kita baca justru bisa mengaburkan apa yang tertulis di sana sehingga tak ada kalimat yang bisa terbaca, apalagi memahami maknanya. Demikian pula halnya dengan cara kita menjalani rutinitas hidup sehari-hari seperti makan, minum, mengekspresikan emosi secara spontan, semuanya seolah sesuatu yang tak memiliki signifikansi apa-apa selain terpenuhinya kebutuhan fisik saja.

Dalam kondisi seperti itu, manusia cenderung untuk menganggap semuanya itu sebagai sebuah kelaziman. Dengan adanya kewajiban puasa, karenanya, manusia diberi kesempatan berhenti sejenak untuk mengobjektivikasi, merenungkan betapa kehilangan kebiasaan makan, minum yang selama ini dianggap rutinitas tersebut ternyata tidak mudah dan betapa dibutuhkan kesabaran untuk menjalaninya.

Dengan demikian, akan tumbuh sebuah penghargaan dan memosisikan aktivitas yang biasa tersebut menjadi sesuatu yang istimewa. Setiap ada kesempatan untuk menikmati hidangan atau minumantidaklagi hanyasebuah aktivitas yang sifatnya pleasure saja, tetapi akan menciptakan ruang-ruang untuk bersyukur dan memetik makna yang lebih mendalam lebih dari sekadar menghilangkan lapar dan haus.

Lewat puasa kita diajak memasuki spektrum kehidupan yang lebih luas dan dalam, tentusaja bagi mereka yang mampu melakukan transendensi diri, bukan sekadar berpuasa secara formal dan rutin. Kalau ini yang terjadi, tak lebih hanya perubahan jadwal makan dan minum belaka.

Ditulis oleh :
Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Sumber : http://www.uinjkt.ac.id/

Leadership dan Followership

Rakyat yang cerdas akan memilih pemimpin yang cerdas. Pemimpin yang cerdas akan membuat rakyatnya ikut cerdas. Jadi, terdapat hubungan kausalitas timbal-balik antara kualitas seorang pemimpin (leader) dan pengikutnya (follower).

Jadi, kalau ada seorang pemimpin dinilai tidak bagus, itu menunjukkan kualitas rakyat yang memilihnya juga tidak bagus. Kalau ada seorang pemimpin memenangi pertarungan karena kekuatan uang, artinya rakyatnya juga bermental mata duitan. Ustaz di kampung saya sering membuat analog hubungan antara pemimpin dan pengikut dengan sembahyang berjamaah. Di situ ada pemimpin (imam) dan ada pengikut (makmum) yang berdiri di belakangnya.

Menurut norma yang berlaku, siapa pun yang menjadi imam diutamakan yang paling baik akhlaknya, paling luas ilmunya, paling senior umurnya, paling baik bacaannya. Setelah imam terpilih, makmum harus taat mengikuti aturan yang berlaku agar prosesi salat jamaah berlangsung baik dan khusyuk.Tentu salat jamaah akan rusak suasananya kalau imamnya tidak benar bacaan dan jumlah rakaatnya atau makmumnya membuat kegaduhan.

Kualitas salat berjamaah ditentukan oleh imamnya dan makmumnya. Ketika makmum mendapati imamnya salah, makmum yang terdekat wajib memperingatkan. Jika masih juga salah berulang kali, padahal telah diperingatkan, ada dua pilihan. Makmum memisahkan diri lalu membuat jamaah sendiri atau imamnya yang menyatakan mundur, lalu makmum yang terdekat menggantikannya maju ke depan tanpa membatalkan salat jamaahnya.

Begitulah hubungan leadership dan followership dalam salat berjamaah, semuanya berlangsung damai tanpa keributan atau huru-hara. Tentu saja dalam panggung politik, variabelnya lebih banyak dan kompleks. Hubungan antara pemimpin dan pengikut terdekatnya saling memengaruhi. Bisa jadi ada seorang pemimpin yang kurang bagus, tetapi rakyatnya bagus sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara berlangsung baik-baik saja.

Atau sebaliknya, berkat pemimpinnya yang hebat dan bagus, rakyat yang semula brengsek tidak taat aturan berubah jadi bagus. Menurut cerita, Singapura berubah begitu tertib berkat kepemimpinan Lee Kuan Yew yang cerdas, berkarakter, dan tegas sehingga perilaku rakyatnya berubah drastis. Dengan pelaksanaan otonomi daerah, sesungguhnya kita memiliki peluang dan tantangan untuk membangun sinergi hubungan yang kreatif, konstruktif, dan produktif antara leadership dan followership untuk memajukan daerah.

Yang repot adalah ketika ruang demokrasi dibuka, rakyat bebas memilih pemimpinnya, tetapi kualitas rakyatnya rendah sehingga pemimpin yang tampil juga kurang bermutu. Akibatnya implementasi dan hasil demokrasi bukannya mendongkrak kesejahteraan dan kemajuan daerah, tetapi malah ramai-ramai menurunkan indeks pembangunan daerah. Pemimpin dan rakyatnya samasama mata duitan, sementara kinerjanya di bawah standar.

Bagaimana dengan kepemimpinan tingkat nasional? Hubungan leadership dan followership yang paling mudah diamati adalah pada lapisan terdekat presiden, yaitu jajaran menteri dan pembantu-pembantunya di lingkaran istana. Komunikasi seorang presiden dengan lingkaran terdekatnya tidak terbatas melalui bahasa verbal, tak kalah pentingnya adalah gestur.
Bagaimana suasana batin dan emosi seorang presiden menjadi bacaan yang lebih penting ketimbang apa yang diucapkan. Lebih dari itu,pembicaraan di luar acara resmi juga menjadi referensi penting bagi orang-orang terdekatnya. Sebaliknya, kepribadian dan mentalitas para follower di seputar presiden akan berpengaruh besar pada hasil kinerja sang leader.

Sepandai-pandai seorang presiden, jika jajaran terdekatnya tidak cepat, tangkas, terampil, dan berani menerjemahkan gagasannya dalam kebijakan dan tindakan, kepemimpinannya tidak akan banyak membawa perubahan dan perbaikan dalam kehidupan bernegara dan masyarakat. Jadi, hubungan leadership dan followership antara presiden dan rakyatnya sesungguhnya akan sangat ditentukan oleh kualitas hubungan pada lingkaran yang lebih kecil, yaitu leadership dan followership antara presiden dan orang-orang terdekatnya di seputar istana dan dengan jajaran para menterinya.

Meminjam ungkapan Pak Jusuf Kalla, memimpin Indonesia yang demikian besar penduduknya dan luas wilayahnya sesungguhnya tak lebih dari mengatur sekitar 500 orang saja. Pegang dan jalin komunikasi yang baik dengan tokoh-tokoh kunci di Republik ini, maka rakyat yang jumlahnya puluhan atau ratusan juta itu akan ikut di belakangnya.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 02 Maret 2012 08:22
Sumber : http://www.uinjkt.ac.id/

Benarkah Kita Berhaji?

Untuk memanjatkan doa kepada Tuhan, mengapa mesti pergi berhaji jauh-jauh ke Mekkah dengan ongkos mahal? Bukankah di mana saja kita berdoa Tuhan pasti mendengarkan?

Tentu saja semua orang yang beriman meyakini, di mana pun dan kapan pun kita berdoa, Tuhan pasti mendengarkan. Bahkan tidak diperlukan ongkos untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Kendati demikian, karena ajaran formal-ritual Islam menetapkan bahwa berhaji wajib dilaksanakan di wilayah Tanah Suci Mekkah dan waktunya pun telah ditentukan, jutaan umat Islam memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW serta mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS.

Aku, Kami, dan Kita
Rangkaian ibadah haji secara lahiriah diawali dengan niat dan menanggalkan pakaian sehari-hari, lalu mengenakan pakaian ihram yaitu kain putih yang amat sederhana. Secara psikologis, pakaian keseharian merupakan refleksi keakuan serta simbol status sosial. Ketika berhaji pakaian artifisial ini kita lepaskan. Kita berusaha melepaskan keakuan, lalu masuk pada kekamian dan kekitaan. Dalam kehidupan ini, mudah sekali orang mengidentikkan jati dirinya dengan pakaian, status sosial ataupun profesi yang disandangnya.

Terlebih lagi jika status sosial yang disandangnya itu dianggap bergengsi dan mendatangkan banyak keuntungan materi. Orang yang telah puluhan tahun menduduki jabatan tinggi di pemerintahan misalnya bisa jadi jabatan yang dipeluknya itu mempribadi dan menyatu ke dalam bawah sadarnya. Kesadaran kelas ini biasanya membias pada gaya hidup keluarganya. Sang istri lalu terlalu sadar dan bangga bahwa dirinya adalah istri pejabat tinggi.

Begitu pun anak-anak, adik, dan cucunya dengan bangga menempelkan label pada dirinya bahwa mereka adalah anggota keluarga pejabat tinggi. Tidak hanya sampai di situ, biasanya tetangganya pun ikut memperkukuh imageyang telah bertahun-tahun melekat pada keluarga itu. Implikasi psikologisnya bisa jadi seorang pejabat tinggi yang sudah lama berkuasa merasa kantor dan segala fasilitas yang ada adalah milik dirinya. Para pegawai yang ada adalah pelayan ataupun abdi dalembagi dirinya.

Pendeknya, pakaian dan status sosial yang begitu lama melekat pada seseorang secara psikologis potensial melahirkan kekuatan imperialisme yang menjajah nurani dan kefitrian seseorang yang paling polos dan mulia bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki derajat yang sama. Pakaian dan jabatan hanyalah tempelan yang setiap saat bisa lepas atau dilepas. Beberapa pejabat tinggi bahkan pakaian kebesarannya dilepas paksa oleh KPK. Yang membedakan derajatnya di hadapan Allah adalah kadar iman dan amal salehnya.

Untuk meraih kembali kesadaran eksistensial itu, seorang muslim diwajibkan pergi haji, meninggalkan rumah dan segala pekerjaan serta status sosialnya agar terbebaskan dari sifat selfcentered, sifat dan sikap yang hanya mementingkan diri sendiri. Untuk ini, ibadah haji diawali dengan menanggalkan pakaian sehari-hari, pakaian dalam arti yang lebih dalam dan luas. Ketika seseorang memulai prosesi ibadah haji, egoisme dan berbagai kesadaran palsu harus dikubur, lalu ditumbuhkan pada dirinya kesadaran baru yaitu penghayatan akan makna kemanusiaan universal.

Masuk dalam kekitaan. Mereka datang dengan niat yang sama dan status yang sama. Tak ada yang lebih unggul di mata Allah dari yang lain kecuali karena kualitas ketakwaannya. Karena itu, ibadah haji secara psikologis merupakan upacara “kematian” dalam agar terlahir kembali dan menemukan makna dan kualitas hidup yang lebih sejati. Kematian kesadaran palsu dan sifat-sifat negatif yang antara lain ditimbulkan oleh mabuk keduniaan yang bisa merendahkan harkat kemanusiaannya.

Orbit Ilahi
Begitu siap dengan pakaian ihram, jamaah haji lalu membaca talbiah yaitu pernyataan kehadiran semata memenuhi panggilan Tuhan. Suasana batin hendaknya hanya diisi dengan kesadaran “aku-Engkau”, dan segala urusan duniawi ditinggalkan agar bisa memasuki orbit kesadaran transendental secara intens. Pikiran, perasaan, ucapan, dan bahkan segala tindakan kini hanya diarahkan untuk mendekati Allah.

Ketika mengenakan pakaian ihram, seseorang tak boleh mengenakan kosmetik, tidak boleh becermin, tidak boleh membunuh hewan, merusak pepohonan, tidak juga melakukan hubungan seksual. Pendeknya, berbagai nafsu egoistik dan jasadi ditekan ke titik nol agar seseorang mampu melakukan mikraj, mendekati sang Pencipta sedekat-dekatnya dalam rangka membangun pribadi yang tangguh, sebuah pribadi yang darinya terpancar sifatsifat ilahi. Upaya mendekati, bahkan memeluk Tuhan ini, lalu secara simbolik diperagakan dalam tawaf, berputar mengelilingi Kakbah.

Batu hitam (Hajar Aswad) yang dijadikan titik tolak gerakantawafinibagaikantangan Tuhan yang terjulurkan menyambutsetiaphamba- Nyayang berkunjung ke Baitullah (Rumah Allah) untukmelakukanaudiensi. Dengan menyambut uluran tangan-Nya, seorang muslim diingatkan akan kampung halamannya yang berada “di seberang sana”, kampung akhirat. Dengan menjabat tangan Tuhan, seorang muslim mempertegas kembali ikrarnya bahwa hidup ini pada hakikatnya milik Allah dan semua fasilitas hidup serta prestasi yang diraihnya ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Kekayaan, kepintaran, jabatan, kekuasaan, bahkan keluarga, semua, akan bermakna selama mendekatkan pemiliknya untuk meningkatkan amal kebajikannya sebagai manifestasi rasa syukuratassegalarahmat Tuhan yang dilimpahkan kepadanya. Dalam suasana batin di mana “aku” dan “Engkau”, tak ada lagi jarak yang menghalangi, seorang muslim yang tengah menunaikan ibadah haji biasanya mencurahkan segala isi hatinya untuk bersyukur, memohon ampun, pertolongan, ataupun kekuatan untuk menjalani hidup selanjutnya.

Makna dan hikmah tawaf yang sejati, oleh karena itu, adalah juga berupa tawaf menjalani siklus kehidupan dari hari ke hari ini. Sebagaimana tawaf di Mekkah, agar aktivitas seharihari ini menjadi bermakna, secara psikologis hendaknya kita mampu mengambil jarak dari rutinitas yang membelenggu. Kita transendensikan semua aktivitas ini sehingga hati nurani memiliki ketajaman untuk membedakan manakah tindakan yang bermakna dan manakah yang menggerogoti harkat kemanusiaan kita.

Wukuf (berdiam diri secara khusyuk) di Arafah yang merupakan puncak ibadah haji tak lain adalah semacam meditasi, merenungkan eksistensi dan posisi kemanusiaan kita di hadapan sang Pencipta dan alam semesta agar kita mendapatkan makrifat atau pengetahuan sejati tentang hidup dan pemilik kehidupan. Dengan wukuf, seorang muslim diharapkan mendapatkan the wisdom of life sehingga ketika kembali ke Tanah Air masing-masing telah terlahir kembali sebagai manusia baru yang penuh kearifan hidup.

Haji dan Kritik Sosial
Demikianlah, di samping prosesi ibadah haji merupakan kewajiban agama, sesungguhnya di balik ritual haji yang sarat simbol itu juga tersimpan banyak sekali pesan sosial untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Secara esensial dan fungsional, berbagai pesan dan sasaran ibadah haji ialah agar kita menang (menundukkan nafsu) dalam pergulatan hidup sehari-hari sehingga meraih makna dan prestasi hidup yang sejati.

Di antara pesan ibadah haji yang fundamental adalah agar seorang muslim menumbuhkan etos pengorbanan. Itulah sebabnya hari raya haji juga disebut sebagai Hari Raya Kurban (Idul Adha). Terdapat petunjuk yang begitu kuat bahwa masyarakat kita dilanda krisis semangat pengorbanan. Sebaliknya, yang ada adalah semangat untuk mengambil (to take) bukan memberi (to give). Lebih parah lagi kalau yang diambil itu sesuatu yang bukan hak miliknya.

Karena itu, menjadi sangat ironis ketika sekian banyak koruptor itu ternyata pernah melakukan ibadah haji. Lewat drama perintah Allah agar Ibrahim menyembelih putranya tersirat sebuah pesan agar seorang pejabat tinggi hatihati terhadap anak dan keluarganya karena sangat bisa jadi demi keluarga dia akan berbuat apa saja. Nafsu seperti itulah yang harus disembelih.

Berapa banyak hak milik orang lain diambil secara tidak sah oleh orang yang sedang memegang kekuasaan (besar ataupun kecil) karena didorong oleh cinta pada anak dan keluarganyasecara tidak proporsional? Munculnya korupsi dan fenomena dinasti-isme politik akhirakhir ini mendorong kita bertanya, lalu bagaimana dengan status haji mereka?

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat  
Jumat, 18 Oktober 2013 08:09
Sumber : http://www.uinjkt.ac.id/

Risiko Memilih Pemimpin

Pemimpin itu ibarat pilot. Jika tidak memiliki keahlian dan rasa tanggung jawab tinggi terhadap tugas yang diembannya, akan mencelakakan seluruh penumpangnya. Pemimpin itu ibarat sopir bus.

Penumpangnya ingin duduk tenang, nyaman, selamat sampai tujuan. Pemimpin itu ibarat imam dalam salat. Jika bacaannya tidak bagus dan tidak punya wibawa ilmu serta akhlak, makmumragu berdiridibelakangnya, salatnya tidak khusyuk. Pemimpin itu pelindung anak buahnya, mesti berani ambil risiko demi keselamatan yang dipimpinnya. Ada teori, bakat kepemimpinan itu bawaan lahir.

Seperti ragam pepohonan yang tumbuh di hutan, memang ada jenis pohon besar yang tumbuh menjulang tinggi di antara pohonpohon lain yang rendah. Namun, ada juga pendapat, pemimpin itu terlahir dan tumbuh berkat pendidikan, baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dengan demikian, pemimpin itu bisa dididik dan dikondisikan.

Semua orang berhak dan berbakat jadi pemimpin. Bahkan ada lagi pandangan, pemimpin itu tugas mulia, merupakan panggilan suci yang mesti diperebutkan untuk sarana memperbanyak amal kebajikan dengan melayani rakyat. Demikianlah, dalam kehidupan sosial diperlukan berbagai ragam jenis jabatan kepemimpinan, baik formal maupun informal. Baik yang berskala besar maupun kecil.

Dalam panggung politik, yang lagi heboh dan selalu heboh adalah peristiwa pilkada untuk memilih bupati, wali kota, atau gubernur. Juga pemilu untuk memilih pasangan presiden dan wakil presiden. Sekarang ini orang bilang kita berada pada tahun politik. Tahun persiapan untuk memilih presiden. Peristiwa ini dianggap sangat penting, bahkan vital, karena rakyat sudah lelah dengan kondisi sosial-politik yang pengap, yang penuh dengan berita korupsi, kriminal, peredaran narkoba, serta pembengkakan angka pengangguran dan kemiskinan.

Tahun politik ini juga terasa semakin hangat karena para parpol yang maju menjadi kontestan semakin agresif mempromosikan calon-calon wakil rakyat untuk duduk di DPR serta jago-jagonya untuk bertanding menjadi capres-cawapres. Tak kalah aktif adalah peranan media televisi, lembaga survei, dan konsultan politik yang ikut mengondisikan munculnya industri politik.

Media dan parpol adalah mesin untuk menyulap agar sebuah figur menjadi populer, mirip mempromosikan sebuah produk industri mobil agar terkenal dan membangkitkan minat masyarakat untuk membeli. Padahal produk industri mobil dan produk parpol sangat berbeda kualitas dan peran sosialnya. Jika kita salah memilih dan membeli motor atau mobil, tak akan berdampak besar secara sosial. Tapi, salah memilih wali kota, bupati, gubernur, atau presiden sangatlah besar implikasinya.

Sedihnya, rakyat tidak cukup punya pengetahuan akurat terhadap tokoh-tokoh yang ditawarkan parpol. Lebih menyedihkan lagi kalau rakyat memilih hanya karena dibagi uang yang diistilahkan ”serangan fajar” menjelang hari pencoblosan. Di beberapa daerah dilaporkan, malam hari sebelum hari pemilihan warga desa sudah menunggu ”uang pembagian”, siapa calon yang paling besar membagi uang, dia yang akan dipilih.

Praktik ini jelas menipu dan merusak proses demokrasi, baik yang memilih maupun yang dipilih berkonspirasi menghancurkan etika dan tatanan politik yang menyuburkan korupsi dan akan menyengsarakan rakyat. Menjelang pemilu ini menarik diamati sikap politik anak-anak muda yang apatis terhadap pemilu. Kalau saja jumlah mereka yang sekitar 50 juta itu mau menggunakan haknya untuk mencoblos, lalu tertuju untuk memilih presiden yang benar dan tepat, sesungguhnya mereka punyaandilbesarmengubahsejarah bangsanya.

Karena itu, menjadi sangat penting merangkul anakanak muda agar menggunakan haknya. Di pihak lain parpol agar menampilkan putra bangsa yang benar-benar bermutu dan memiliki semangat dedikasi membangun bangsa, bukan berebut jadi presiden dengan kalkulasi bisnis. Dalam setiap pilkada maupun pemilu, nasib bangsa dan rakyat dalam pertaruhan.

Apakah akan bangkit untuk maju ataukah akan semakin terpuruk. Peristiwa pencoblosannya hanya dalam hitungan menit. Namun, akibat yang ditimbulkan bagi kehidupan sosial-politik amat sangat besar dan berlangsung lama. Kalaupun yang terpilih adalah pemimpin yang bagus, itu pun memerlukan waktu lama dan kerja keras untuk memperbaiki kondisi bangsa ini.

Tapi, jika salah memilih, proses kerusakan dan kemunduran akan berlangsung sangat cepat. Lebih mudah dan cepat merusak keadaan ketimbang membangun dan memperbaiki keadaan.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat
Jumat, 20 September 2013 14:52
Sumber : http://www.uinjkt.ac.id/

10 Masjid Termegah di Dunia

INILAH.COM, Jakarta - Masjid adalah rumah tempat ibadah umat Islam. Ditinjau dari segi etimologi, masjid berasal dari Bahasa Arab, yaitu dari kata sajada-sujud-masjad. Sujud mengandung arti taat, patuh, dan tunduk dengan hormat.

Selain merupakan tempat ibadah, masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas Muslim. Berbagai kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di mesjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Biasanya bangunan masjid memiliki kubah dan beberapa menara untuk membedakannya dengan bangunan lainnya. Selain itu, kubah dan menara mesjid ini juga merupakan tanda kebudayaan dan gaya arsitektur Islam.

Masih dalam suasana Hari Raya Idul Fitri, berikut adalah daftar 10 masjid termegah di dunia yang berhasil dirangkum oleh INILAH.COM:

1. Masjidil Haram (Arab Saudi)

Masjidil Haram adalah masjid yang terletak di tengah kota Mekkah, Arab Saudi, yang ditengah-tengahnya terdapat bangunan Ka’bah. Merupakan tempat tersuci yang ada di dunia bagi umat Islam.

Setiap tahunnya, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia berdatangan terutama untuk melaksanakan ibadah Haji sebagai rukun Islam ke-5.

Ka'bah merupakan patokan atau kiblat saat menunaikan sholat. Jadi, jika di masjid-masjid yang lain semua berbaris menghadap ke satu arah yaitu ke Kiblat, lain halnya dengan di Masjidil Haram. Orang-orang yang menunaikan ibadah sholat di sini tinggal mengelilingi Ka’bah.

Masjid yang memiliki kapasitas empat juta jemaah ini memiliki sembilan menara dan telah mengalami banyak renovasi dan ekstensi yang dilakukan oleh otoritas masjid selama bertahun-tahun.

2. Masjid Nabawi (Arab Saudi)

Masjid ini terletak di kota Madinah, Arab Saudi. Masjid Nabawi merupakan masjid terbesar kedua di dunia karena bisa menampung sebanyak satu juta orang. Masjid ini memiliki 10 menara setinggi 105 meter.

Arsitektur yang paling menarik dari masjid ini adalah adanya atap yang menyerupai payung berbentuk segi empat yang dapat membuka tutup untuk melindungi orang yang ibadah dari terik matahari.

Memiliki luas bangunan sekitar 100 ribu m2, di dalam masjid ini juga terdapat makam Nabi Muhammad SAW.


Sumber : inilah.com

Selamat Jalan Guru Kami....

Bagi kampung Pancur dan sekitarnya, tentu tidak asing lagi dengan sosok yang begitu teduh ini. Selain terkenal karena rendah hati, beliau juga terkenal karena kharismanya. Kyai pemilik pesantren di kampung Nanggor, Desa Paniis, Pandeglang - Banten ini sering dipanggil dengan sebutan Abah Haji Ahmad. 

Abah Haji Ahmad memiliki sifat yang begitu santun dan tawadhu. Sifat ini selalu muncul ketika beliau ditanya seputar penanggalan awal dan akhir bulan ramadhan. Semenjak perayaan ini berbeda-beda, Abah Haji selalu dimintai fatwanya seputar penanggalan. Sebab beliau adalah ahli dalam bidang ilmu falak satu-satunya di tempat kami. 

Ketika para untusan kampung atau ustadz bertanya terkait kapan awal dan akhir bulan ramadhan beliau selalu mengatakan : "kalau dalam hitungan tanggal sekian dan sekian... yang mau ikut dengan perhitungan ini monggo tidak juga ya tidak apa-apa...(red/)" Demikian ucapan Abah Haji. 

Dalam penghitungan Abah Haji kadang sesuai dengan pemerintah bahkan tidak juga. Karena kami merasa yakin dan percaya dengan Abah Haji, biasanya mengikuti penanggalan yang beliau tentukan. Entah itu berbarengan dengan pemerintah atau tidak, tak jadi masalah bagi kami. 

Katanya Abah Haji Ahmad memiliki ilmu Laduni. selain itu juga, cerita terkait kehebatan ilmu beliau juga sempat terdengar ke telinga saya. Konon, Abah Haji itu tahu kapan kelapa yang tua itu akan jatuh dari pohonnya. Secara tidak langsung beliau mampu membaca makhluk Allah terkait masa depannya. Apakah cerita ini benar atau pun salah, allahu'alam. 

Dalam pandangan saya, dari penampilan yang beliau tampilkan, justru Abah Haji Ahmad lebih ke arah ilmu tasawuf. Dalam artian lebih mengutamakan ibadah ketimbang mencari dunia. Ketika dimintai untuk membantu, dengan keikhlasan, misalkan mendoakan mereka yang punya kegalauan, kehidupannya dilanda masalah, bahkan sering dimintai do'anya supaya yang bersangkutan diberikan kemudahan. 

Abah Haji tidak memiliki sifat keras, Kasar dan saklek. Meski di kampung yang beliau tempati sering mengadakan hiburan malam, rasanya beliau tetap memberikan kebebasan. Bahkan di pesantren beliau juga sering mengadakan pengajian rutin untuk para ustadz, biasanya seminggu sekali. Pengajian ini membahas kita-kitab kuning sebagai tambahan pengetahuan bagi para ustadz yang lainnya. 

Pada malam Kamis bertepatan dengan tanggal 04 Silih Syawal 1433 H atau 20 September 2012, kami digemparkan dengan wafatnya Abah Haji Ahmad bin Haji Martaja. Kami merasa kehilangan dan sedih. Karena sosok beliau selama ini menjadi penentram jiwa dan tempat bertanya kami. 

Semua ini sudah takdir Allah swt, semoga beliau mendapatkan tempat yang paling mulia di Sisi Allah. Dan semoga Allah menempatkan di tempat yang terbaik, sebagaimana atas kebaikannya kepada kami ketika di dunia ini. Amiiin. []  

Melihat Arah Kiblat Masjid-Masjid di Panunggulan

Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah swt, karena setelah melihat sebuah informasi di salah satu blog [lupa nama blognya] akhirnya saya mencoba dan mencari tahu semua tentang hal itu.

Baiklah supaya tidak penasaran, yang saya maksudkan disini adalah mengukur ketepatan arah kiblat pada sebuah mesjidyang terletak di sekitar Desa Sukasari  Kecamatan, Tunjung Teja, Serang - Banten, yang tak lain kampung tersebut adalah tempat saya dilahirkan dan sekaligus tempat yang begitu bersejarah.

Adapun arah kiblat dipindahkan oleh Allah, silakan bisa baca disini dan disini. Sebagai referensi sumber bacaan dan sekaligus informasi tambahan bagi pembaca. Hasil pengukuran masjid-masjid Panunggulan dan Sukasari bisa KLIK DISINI

Dari pengamatan saya, melalui google maps di atas. Dari ke tujuh masjid tersebut yang yang paling sedikit memiliki kemiringannya (sekian mili) dari garis Merah (di atas) adalah Masjid Kampung Nanggor. Kemudian Masjid Pancur, yaitu kurang ke sebelah utara sedikit, diikuti masjid Kubang, Masjid Kupluk, Masjid Ancol dan masjid Kp. Sukasari. Sedangkan Masjid Kp. Kalong (kebablasan) lebih miring ke Utara dan kurang miring ke selatan.

Garis merah tersebut ialah garis yang langsung ditarik dari ka'bah. sehingga ke tepatannya bisa dikatakan tepat. Berikut ini hasil dari percobaan yang saya lakukan : disini

Dari penelusuran yang saya lakukan, sedikitpun tidak ada unsur apapun. Apalagi merasa paling benar sehingga menyalahkan orang lain. Hanya gara-gara salah sedikit dan masalah furuiyahmalah dibesar-besarkan.

Mengutip perkataan para Imam : "pendapatku benar, tapi bisa saja salah, dan pendapat mereka mungkin salah, tapi bisa juga benar." Allâhu’alam []