Slider

Referensi Bacaan

kajian

Buletin

Informasi

Hikmah

Ibrah

Dokumentasi

Puasa; Pembuka Pintu Hidayah

Sumber  iqf.com
Diceritakan dalam manaqibnya, saat al-Syeik ‘Abd al-Qadir al-Jailani tenggelam dalam mujahadah kepada Tuhan, tiba-tiba muncul sinar cemerlang yang memenuhi cakrawala penglihatan. Sinar tersebut berkata: “Wahai Abd al-Qadir, Aku adalah Tuhanmu, setelah beribadah selama puluhan tahun, amalmu sangat banyak sehingga memehuni antara Timur dan Barat, menyesakan antara bumi dan langit, dan memberatkan timbangan mizan di akhirat. Oleh karenanya, mulai sekarang ini, Aku cukupkan ibadah kepadamu. Kamu tidak perlu beribadah lagi kepadaku, karena telah cukup amalmu”.

Mendengar perintah sinar yang mengaku Tuhan seperti itu, Abd al-Qadir berfikir sejenak, benarkah ini wahyu Tuhan khusus kepadaku, benarkah Tuhan memberiku keistimewaan untuk tidak menjalankan perintahNya? Abd al-Qadir sempat ragu, antara meyakini suara Agung nan cemerlang tersebut atau menolaknya. Hatinya yang sedang dilingkupi keterharuan merasa menerima suara tersebut, tetapi akal rasionya tidak menerimanya, mana mungkin Tuhan mencabut perintahNya untuk beribadah, sementara Muhammad Sang Nabi sendiri masih tetap diperintahkan beribadah hingga akhir hayat?

Dalam kebimbangan tersebut, Abd al-Qadir memutuskan untuk memilih akalnya, ia segera ambil terompahnya dan dilemparkan pada sinar agung yang bergulung tersebut; “Pergi, engkau adalah syetan bukan Tuhan, Tuhan tidak mungkin membatalkan firmannya”. Seketika itu juga, sinar putih keperakan tersebut hilang, diiringi dengan suara yang menggema; “ Wahai Abd al-Qadir, engkau selamat dari godaannku, ketauhilah, sudah ribuan salik yang berhasil aku sesatkan dengan cara seperti ini. Engkau selamat karena menggunakan akalmu, sedangkan para salik yang geblinger tersebut karena mereka mengabaikan akalnya.

Puasa sebenarnya merupakan media terbagus manusia berhubungan dengan Tuhan. Puasa menjadi ritual mediator yang menghubungkan keinginan hamba dengan kehendak dan petunjuk Tuhan. Allah dalam hadis qudsiNya mengatakan sendiri: “al-shaumu li wa ana ajzi bihi” (Puasa itu ibadah privat antara hambaKu dengan Aku, dan Aku yang akan membalasnya secara langsung).

Berkaitan dengan ini, seorang hamba yang melakukan puasa jasmani dan rohani, maka dia sebenarnya semakin dekat dengan Sang Pemberi Hidayah (al-Hadi). Oleh karenanya, hidayah, ilham dan petunjuk Allah akan semakin sering menyapanya, membimbingnya dalam jalan yang benar melalui berbagai cara dan dimensi.

Puasa yang benar akan membimbing pelakunya mudah menerima hidayah-hidayah Allah yang tersebar di alam raya ini. Dengan puasa, maka hidayah Allah akan semakin terbuka dan disematkan oleh Allah kepada mukmin yang berpuasa, sebagai ganjaran atas puasanya.

Berkaitan dengan hidayah Allah, Ibn Katsir membagi hidayah menjadi lima, yaitu pertama, hidayah naluri, yaitu petunjuk Allah yang diberikan pada manusia dan binatang, seperti rasa lapar, sakit kalo dipukul, haus dan sebagainya. Hidayah ini menempati hidayah paling bawah.

Kedua, hidayah hawassi, yaitu petunjuk Allah melalui pancaindera, seperti kemampuan melihat, mendengar, membau, dan mengecap. Indera ini diberikan kepada hewan dan manusia. Dengan hidayah hawassi ini manusia mampu melahirkan ilmu-ilmu empirik.

Ketiga, hidayah akal, yaitu petunjuk Allah yang diberikan kepada manusia melalui perantara akal. Akal hanya diberikan kepada manusia, tidak kepada hewan. Keempat, hidayah agama, yaitu petunjuk Tuhan yang diberikan kepada manusia dengan melalui perantara agama. Kelima, hidayah taufiq, yaitu petunjuk Allah yang paling besar, yaitu hidayah yang menggerakan hati hambaNya untuk memeluk Islam.

Kelima macam hidayah Allah ini akan semakin mudah ditangkap oleh hati seorang mukmin yang benar-benar berpuasa di Bulan Ramadhan. Puasa menjadikan hatinya bening dan bersih laksana batu pualam yang mampu menangkap sinar-sinar ketuhanan di alam semesta ini. Puasa adalah medan tempaan jiwa seorang mukmin, sehingga ia berubah dari “tembaga” menjadi “emas” berharga. Maka tidak salah ketika Jalaluddin Rumi, seorang sufi agung dalam kitab Matsnawi-nya mengatakan:
Selalu periksa keadaan batinmu
Menggunakan Sang Raja dari hatimu.
Tembaga tidak pernah mengetahui dirinya tembaga,
Sebelum ia berubah menjadi emas.
Cinta kasihmu tidak akan mengenal Rajanya,
Sebelum ia menyadari ketidakberdayaannya.
Ust. M. Roy Purwanto
Tafakur Ramadlan #5 1436 H.
Pertapaan Kawah Condrodimuko
(Amha/)



Puasa Transformatif

sumber google
Puasa (shaum) merupakan bentuk masdar (gerund) dari kata “shama”, yang memiliki makna menahan diri, berhenti dan tidak bergerak, baik dalam bentuk kegiatan fisik mupun non fisik, serta baik dilakukan manusia maupun mahluk lainnya. Dalam bahasa fiqh, puasa didefinisikan dengan “menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan bersenggama dari mulai terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari”.

Sementara dalam tradisi sufistik, puasa ternyata bukan hanya dimaknai pada aktifitas lahiriyah, tetapi juga aktifitas bathiniyah, yaitu upaya menahan diri dari menuruti keinginan nafsu yang negatif. Makna puasa kaum sufi inilah yang memberikan transformasi makna pada pelakunya. Hal ini, karena puasa menimbulkan tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi cerdas secara emosional. Ia akan membentuk pribadi pelakunya dan membingkainya dalam perilaku positif, seperti sabar, empatik, sosial, penolong, dan sejenisnya.

Berdasarkan ini, maka Syah Ni’matullah Wali dalam kitabnya Rasalah-yi Syah Ni’matullah-i Wali, dan juga al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin membagi puasa Ramadhan dalam tiga macam: pertama, puasa awam, yakni menahan diri dari makan, minum, berhubungan badan, semenjak awal hari hingga akhir hari dengan niat melakukan puasa. Kedua, puasa khusus, yakni menahan diri dari semua dosa dan kesalahan, baik fikiran maupun badan. Ketiga, puasa khususil khusus, yakni puasa para Wali Allah, yaitu tidak ada yang diingat dan dicintai kecuali Allah semata. Setiap tarikan nafas dan hembusan udara, tiada yang keluar kecuali Allah semata.

Puasa yang berarti pengontrolan emosi dan spiritual inilah sebenarnya hakekat terdalam dari puasa. Sehingga tingkatan puasa kedua dan ketiga yang digambarkan oleh Syah Ni’matullah atau al-Ghazali itulah yang seharusnya menjadi target puasa setiap muslim, yaitu puasa hakiki, puasa transformatif yang dapat merubah perilaku, fikiran, dan hatinya menuju Allah Sang Maha Pencipta.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani, seorang sufi agung yang digelari “rajanya para wali” (sulthanul auliya) memberikan tata cara kepada kita semua agar mampu menjalani puasa hakiki, yaitu dengan membutakan mata dan hati dari semua yang ada, kecuali hanya mengingat pada Allah semata. Tidak ada yang patut diharapkan, tidak ada yang dituju, tidak ada yang dicinta di dunia ini, kecuali Allah semata. Jika seberat atom sekalipun selain Allah memasuki kalbu, maka puasa hakiki menjadi rusak.
Berkaitan hanya Allah lah tempat semua bergantung, Yunus Emre, penyair Turki abad ke 13 mengatakan:
Bersama dengan gunung-gunung, dengan batu-batu
Kusebut namaMu, Tuhan, O Tuhan!
Bersama dengan burung-burung di fajar pagi
Kusebut namaMu, Tuhan, O Tuhan!
Bersama dengan ikan-ikan di lautan,
Dengan rusa-rusa di gurun bebas,
Dengan para mistik yang memanggil
Kusebut namaMu, Tuhan, O Tuhan!
Puasa hakiki versi Sang Wali ini memang berat, namun paling tidak, meskipun kita belum mampu ke arah sana, puasa yang kita lakukan harus benar-benar mampu merubah pandangan hidup (worldview) dan perilaku hidup kita setelah berpuasa. Puasa mampu meningkatkan kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan sosial kita dalam melihat realitas sekitar.

Kalau memang puasa yang dilakukan seorang muslim benar-benar mampu mentransformasi hidupnya, maka ia termasuk golongan seperti yang dikatakan oleh Rasululah saw dalam salah satu haditsnya: “Orang yang berpuasa akan memperoleh dua kegembiraan. Kegembiraan pertama adalah ketika berbuka, dan kegembiraan kedua adalah ketika bertemu dengan Tuhannya”. (Amha/)

Ust. M. Roy Purwanto
6 Ramadlan 1436 H
Pertapaan Kawah Condrodimuko

Ramadhan dan Dzikir Akademik

Sumber Google
Muhammad bin Ahmad al-Samarkand, seorang ahli fiqh besar pada zamannya, mempunyai anak perempuan bernama Fatimah. Sejak kecil ia mengaji pada ayahnya sampai menguasi banyak ilmu. Ia dikenal sebagai ulama perempuan. Bila sang ayah dimintai fatwa oleh masyarakatnya, ia meminta putrinya untuk menjawab, sementara dia sendiri ikut mendengarkannya.

Fatimah, di samping cerdas adalah perempuan dengan keelokan rupa yang menawan banyak orang. Bahkan raja-raja di wilayah Turki dan Arab silih berganti datang menemui Muhammad bin Ahmad al-Samarkand untuk meminang putrinya bagi para putra mahkota mereka, akan tetapi tidak satupun yang diterima.

Muhammad bin Ahmad al-Samarkand malah menawarkan putrinya kepada Ala al-Din, salah seorang santrinya yang tawadhu’, cerdas dan rajin ibadah. Ala al-Din sebenarnya merasa tidak pantas menikahi putri guru yang cantik dan pintar itu, sementara ia hanyalah santri miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Namun demikian, permintaan gurunya tidak etis untuk ditolak.

Rupanya sang Guru meskipun meminta kepada Ala al-Din untuk menikahi putrinya, namun mensyaratkan sesuatu, yaitu ia hanya akan menikahkan putrinya, jika Ala al-Din telah selesai menulis syarh (komentar) atas kitab al-Tuhfah al-Fuqaha, karyanya.

Ala al-Din menyanggupi syarat tersebut, dan segera menulis syarah Tuhfah. Dalam waktu yang tidak terlalu lama ia dapat menyelesaikan tulisan itu yang diberinya judul “Badai’ al-Shanai’ fi Tartib al-Syarai’”, terdiri dari 7 jilid, masing-masing 450 halaman. Dan kitab inilah yang kemudian menjadi “mahar” si santri miskin itu untuk menyunting putri cantik-cerdas gurunya itu. Para ulama sezamannya mengatakan bahwa Ala al-Din santri yang sangat beruntung, karena mendapat dua permata nan elok, yaitu Fatimah dan Syarh kitab Tuhfah karyanya. Selanjutnya Ala al-Din al-Kasani mendapatkan gelar Malik al-Ulama (raja para ulama).

Cerita akademis nan romantis itulah yang banyak menghiasi lembaran-lembaran sejarah Islam pada masa lalu. Banyak ulama begitu produktif melahirkan banyak karya, bahkan jumlah karyanya lebih banyak dari bilangan umurnya. Al-Ghazali misalnya, Sang Hujjatul Islam ini berusia sekitar 53 tahun, namun mempunyai karya 457 menurut Abdurrahman Badawi dalam bukunya Muallafah al-Ghazali dan 404 buku menurut Michel Allard, seorang orientalis Barat. Sedangkan menurut Fakhruddin al-Zirikli dalam al-A’lam, al-Ghazali mempunyai 200 judul karya.

Ada juga Najmuddin al-Thufi, meninggal dalam usia sekitar 53 tahun dengan karya yang melebihi 100 judul. Muhyiddin al-Nawawi, imam besar madzhab Syafi’i, meninggal usia sekitar 45 tahun dengan meningalkan karya sebanyak usianya. Salah satu karyanya adalah al-Majmu’ Syarah Muhadzab yang menjadi rujukan terbesar madzhab Syafi’i. Imam Nawawi al-Bantani meninggal dalam usia 84 tahun dengan meninggalkan karya lebih dari 130 buku dalam berbagai bidang ilmu.

Ramadlan sebenarnya adalah waktu yang tepat untuk menjadi produktif secara akademik. Ramadlan seharusnya menjadi bulan berdzkir, berdzikir akademik dengan menghasilkan buku, artikel, tulisan dan semacamnya. Ulama-ulama zaman dahulu menggunakan bulan Ramadlan untuk menulis dan mengkaji karya. Dalam konteks Indonesia misalnya, Syeh Hamzah Fanshuri, Abdurrauf Singkil, dan Nuruddin al-Raniri misalnya, menyelesaikan karya-karyanya di bulan Ramadlan.

Kemudian kitab Mir’at al-Thullab karya Abdurrauf al-Fansuri ditulis ulang juga pada bulan Ramadlan pada era Sultanah Safiyatuddin Tajul Alam. Kitab Syarh al-Baiquni fi Mustalah ‘Ilm al-Hadist dan kitab Bidayat al-Mubtadi bi-Fadhli Allah al-Muhdi juga disalin ulang juga pada bulan Ramadlan.
Di Pesantren-pesantren salaf, bulan Ramadlan juga digunakan untuk mengkaji kitab-kitab klasik sampai khatam. Di Pesantren Tebuireng misalnya, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim habis dibaca dan dikaji dalam satu bulan.

Maka, Ramadlan yang masih panjang ini, harusnya menjadi kawah condrodimuko kita para akademisi, untuk meniru para ulama terdahulu, dalam menelorkan karya-karya yang akan menjadi jariyah dan kenangan buat generasi mendatang.

Tiba-tiba saya menjadi teringat nasehat al-Ghazali, “kalau kalian bukan anak seorang raja besar dan bukan anak orang yang kaya raya, maka jadilah penulis”. Selamat menulis, membuat “mahar-mahar” untuk orang yang dicinta dan generasi di belakang kita. (Amha/)

Ust. M. Roy Purwanto
Tafakkur 7 Ramadlan
Pertapaan Kawahcondrodimuko.


Masuk Surga karena Seekor Lalat

Sumber : Google
Imam al-Ghazali, dalam salah satu kitabnya, Ihya’ Ulum al-Din menceritakan bahwa suatu saat ketika ia mengarang kitab, ada seekor lalat yang terbang mendekat dan hinggap di tinta penanya. Pertama al-Ghazali bermaksud mengusir lalat tersebut karena merasa terganggu. Namun kemudian ia sadar bahwa lalat tersebut sedang kehausan, maka dibiarkanlah lalat itu minum sepuasnya dari tinta al-Ghazali. Setelah lalat tersebut hilang dahaganya, ia lantas terbang entah kemana.

Malam harinya al-Ghazali bermimpi bahwa ia dihisab di padang mahsyar, dan pengadilan akhirat memutuskan untuk memasukan al-Ghazali di surga. Saat itulah muncul suara yang menggema dan berwibawa; “Wahai Ghazali, menurutmu amal apa yang menyebabkan engkau termasuk golongan ahli surga?” al-Ghazali menjawab; “Engkau lebih tahu ya Allah, tetapi kalau aku boleh menebak, maka kitab-kitab karanganku lah yang menyebabkan semua ini”. Suara itu berkata: “bukan wahai Ghazali, karanganmu memang banyak, kitabmu berjilid-jilid, tetapi yang menyebabkan beratnya timbangan pahalamu adalah seekor lalat yang engkau biarkan minum ketika ia kehausan”.

Sekelumit kisah yang akhirnya diabadikan al-Ghazali dalam Ihya’ tersebut memberi kita hikmah bahwa hanya karena membiarkan atau mengasih minum lalat yang kehausan saja menjadikan sebab seseorang masuk surga, apalagi mengasih sodaqah bagi sesama yang benar-benar membutuhkan. Maka, tidak berlebihan ketika Nabi dalam salah satu haditsnya mengatakan: al-Jannatu musytaqat ila arba’ati anfar: talil Qur’an, hafidz al-Lisan, muth’im al-ji’an, wa shaim Ramadlan (Surga selalu merindukan kepada empat golongan manusia; pembaca al-Qur’an, penjaga lisan, pemberi makan orang yang kelaparan, dan orang yang puasa Ramadlan).

Pertama, pembaca al-Qur’an (talil Qur’an). Surga sangat merindukan orang yang rajin membaca al-Qur’an. Al-Qur’an menempati tempat sentral bagi umat Islam dan merupakan kitab yang paling banyak dibaca di dunia, secara berulang-ulang dengan tanpa bosan, bahkan dihafal oleh ribuan orang secara tepat, sampai pada titik komanya. Ini membuktikan betapa agungnya al-Qur’an dan mulianya, sehingga surga sampai merindukan pembacanya.

Syahrul Qur’an merupakan nama lain Ramadlan, karena di dalamnya diturunkan al-Qur’an. Olehkarenanya, memperbanyak membaca al-Qur’an di bulan Ramadlan merupakan amal yang utama. Para Sahabat Nabi ketika memasuki bulan Ramadlan, berlomba-lomba memperbanyak membaca al-Qur’an, ada yang mengkhatamkan seminggu sekali, tiga hari sekali, sehari semalam sekali, bahkan ada yang semalam khatam.

Kedua, Orang yang selalu menjaga lisan. Lidah adalah bagian organ manusia yang lembut dan terlihat lemah, namun memegang peran yang besar bagi hubungan manusia satu dengan lainnya. Di bulan Ramadlan ini, sudah seharusnya seorang yang berpuasa menjaga lisannya, karena lisannya pun harus ikut berpuasa.

Ketiga, Puasa Ramadlan. Romadlan merupakan bulan penuh hikmah, bulan tempat penggodokan, bulan yang merupakan “kawah condrodimuko” bagi sebelas bulan berikutnya. Ketika bulan Ramadlan seseorang mampu mengisi hatinya, menguatkan spirit hidupnya, maka itu akan bermanfaat bagi hari-hari yang akan dijalani berikutnya. Dan bagi orang yang gagal mengambil hikmah di bulan Ramadlan, maka ia pun akan rugi di hari-hari berikutnya, karena bekal yang didapat tidak cukup.

Keempat, orang yang memberi makan orang yang kelaparan. Sodaqah merupakan perbuatan yang mulia. Seperti yang diceritakan oleh al-Ghazali tadi, dengan “bersedekah” pada hewan saja, mampu memperberat amal kebaikan di surga, apalagi bersedekah kepada manusia. Di samping itu pula, ternyata dengan bersedekah secara ihlas akan mendatangkan rizki yang berlipat-lipat bagi pelakunya.

Keempat amalan ini tepat sekali dilakukan pada bulan Ramadlan, sehingga Ramadlan yang dijalani menjadi bulan berkah pembawa selaksa hikmah dan ketakwaan.

Berkaitan dengan ini, Syekh Zainuddin dari Malabar India mendendangkan syair:
Batu-batu ketakwaan di dasar hatimu
Adalah biji-biji nirmala
Yang melahirkan pohon-pohon keagungan
Dengan teduh dan buah yang tidak akan pernah berakhir

Ust. M. Roy Purwanto
Tafakkur #4 Ramadlan 1436.
Pertapaan Kawah Condrodimuko.(Amha/)

Ramadhan; Medan dan Perang Mencari Rahmat Allah

Sumber Google
Dalam kitab Durratun Nasihin, Utsman ibn Hasan Al-Khubawi (w. 1824) menukil sebuah hadis dari Rasulullah yang yang menceritakan bahwa ada seorang laki-laki digiring malaikat ke neraka karena dosa-dosanya yang banyak. Sampai pada 1/3 perjalanan ia menengok ke belakang dan berjalan lagi. Kemudian ia sampai 1/2 perjalanan dan menengok kembali ke belakang. Kemudian ia jalan terus sampai 2/3 perjalanan dan menengok kembali ke belakang. Pada akhirnya Allah memerintahkan kepada malaikat untuk mengembalikan orang itu ke tempatnya semula.

Kemudian orang itu ditanya oleh Allah "Haii.. fulan kenapa kamu menengok ke belakang sampai 3 kali?" Orang itu menjawab : "Yaa Allah di 1/3 perjalanan aku ingat Firman-Mu "Wa rabbuka al-ghafuru dzu al-rahmah” (Tuhan-mu adalah Maha Pengampun yang memiliki kasih sayang) karena itu aku menengok ke belakang untuk mohon ampunan-MU. Aku jalan terus sampai 1/2 perjalanan, aku ingat Firman-Mu "waman yaghfiru al-dzunuba illa Allah " (Siapakah yang mengampuni dosa kecuali Allah?), karena itu aku menengok ke belakang untuk memohon ampunan-Mu.

Lalu aku berjalan terus hingga pada 2/3 perjalanan aku ingat Firman-Mu lagi " Qul li’ibadia alladzina asrafu ‘ala anfusihim la taqnathu min rahmatillah" (Katakanlah kepada Hamba2ku yang banyak berbuat dzolim, janganlah berputus asa dari rahmat Allah), karena itu aku menengok ke belakang untuk mengharapkan pengampunan-Mu. Selanjutnya, Allah berkata: " Aku ampuni kamu pergilah kamu ke surga dengan Rahmat-KU".

Dari kisah di atas, jelaslah bahwa seseorang bisa masuk surga pada dasarnya bukan karena amal ibadahnya yang banyak, tetapi hanya karena rahmat Allah semata. Bahkan Rasul sendiri mengatakan bahwa masuk surganya beliau nanti, bukan karena amalannya, tetapi hanya karena rahmat Allah. Oleh karena itu, yang perlu kita cari sebenarnya, adalah rahmat Allah dan Ridlo Allah.
Lantas muncul pertanyaan, bagaimana dengan amal yang dilakukan setiap hari, seperti shalat, zakat, sedekah, dan puasa,? Apakah amal-amal tersebut lantas tidak memberikan makna apa-apa?

Sungguh, tidak ada amal ibadah yang sia-sia. Sekecil apapun amal, akan dipertimbangkan oleh Allah dan mendapatkan balasan. Hanya saja, amal ibadah manusia, tidak seimbang jika dibandingkan dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepada manusia. Olehkarena itu, amal ibadah hanyalah berfungsi sebagai alat dan proses untuk menjemput rahmat Allah SWT. Itulah fungsi ibadah, ia sebagai salah satu alat ukur seorang hamba mendapatkan rahmat Allah.

Diceritakan dalam sebuah hadis ada seorang hamba Allah yang beribadah selama 500 tahun di atas sebuah bukit yang berada di tengah-tengah lautan. Di situ Allah SWT mengeluarkan sumber air tawar yang sangat segar dan menumbuhkan satu pohon delima. Setiap harinya, hamba Allah tersebut mandi, berwudhu pada mata air tersebut dan makan buah delima. Setelah hamba tersebut meninggal, maka dihisab oleh Allah di hari kiamat. Allah SWT menyuruh malaikat: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut tidak mau dan berkata: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku saja, bukan karena rahmatMu”.

Maka Allah SWT menyuruh malaikat agar menghitung seluruh amal ibadahnya selama 500 tahun dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Setelah dihitung-hitung ternyata kenikmatan Allah SWT tidak sebanding dengan amal ibadah hamba tersebut selama 500 tahun. Maka Allah SWT berfirman: “Masukkan ia ke dalam neraka”. Maka ketika malaikat akan menariknya untuk dijebloskan ke dalam neraka, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena rahmat-Mu”.

Ramadlan, adalah bulan tempat Allah “mengobral” rahmat. Rahmat Allah ada dalam puasa, rahmat Allah ada dalam tarawih, rahmat Allah bersemayam dalam sedekah, dan rahmat allah juga bersemayam dalam membaca al-Qur’an. Olehkarena itu, bagi para pemburu rahmat Allah, carilah rahmatNya yang berserak di setiap nafas ramadlan ini. Bukankah Rasulullah telah bersabda:” Inilah bulan yang permulaannya (10 hari pertama) penuh dengan rahmat, yang pertengahannya (10 hari pertengahan) penuh dengan ampunan, dan yang terakhirnya (10 hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka”.(Amha/)


Ust. M. Roy Purwanto
Tafakkur #3 Ramadlan 1436.
Pertapaan Kawah Condrodimuko.

Puasa dan Pemberantasan Korupsi

google
Diriwayatkan dari Imam Ghazali, suatu saat terjadi percakapan antara Iblis dan syetan tentang nasib manusia. “ Setelah Muhammad menjadi Rasul, pasukan setan datang kepada Iblis dan berkata, “Seorang Rasul telah datang dan satu bangsa telah muncul. Apa yang harus kita lakukan sekarang?“. Iblis berkata, “apakah mereka cinta dunia?“,

Mereka menjawab:“ya“. Iblis berkata: “aku tidak mengkhawatirkan mereka sedikitpun, meski mereka tidak menyembah berhala, asal mereka tetap mencintai dunia. Aku akan datang kepada mereka pada pagi dan sore hari dengan tiga nasehat; (1), carilah harta dengan dhalim. (2) habiskan uang di tempat yang tidak semestinya. (3), kikirlah di tempat-tempat sedekah. Semua dosa berasal dari ketiga hal ini“.

Itulah “nasehat“ Iblis yang perlu diwaspadai oleh manusia. Ketika manusia bisa menghindari kecintaan yang berlebihan pada dunia, maka ia akan selamat, tetapi ketika masih “kumanthil-manthil“ dengan dunia sampai menghalalkan segala cara, maka bersiaplah untuk menjadi pengikut sang Iblis.

Puasa ramadlan berfungsi memenangkan nafsu lawwamah dalam pertempuran abadi antara kebaikan dan keburukan. Dalam diri manusia ada dua nafsu yang selalu mempengaruhi hati sebagai raja penggerak dari Tubuh manusia. Pertama, nafsu lawwamah, yaitu nafsu yang membimbing manusia agar tidak tersesat. Nasfu ini merupakan manifestasi Tuhan dalam diri manusia. Ia meniupkan kebaikan dan membisikan kebenaran pada hati manusia. Menurut sebagian ulama, nafsu ini dalam diri manusia berbentuk akal budi. Kedua, nafsu ammarah, yaitu nafsu yang mengajak manusia untuk berbuat kejahatan, menumpahkan darah di muka bumi, menyebar fitnah, korupsi, dan kebohongan.

Dengan seorang muslim berpuasa, melakukan shalat tarawih, melantunkan kalam Ilahi, dan mendendangkan doa-doa, maka nafsu ammarah akan semakin lemah, dan kekuatan lawwamah semakin kuat, sehingga seorang hamba menjadi semakin terbimbing meniti jalan kebenaran dan keridhaan Tuhan.

Dalam kontek kehidupan berbangsa yang sedang menggalakan pembrantasan korupsi, maka puasa harus dijadikan titik tolak pembrantasan korupsi dari pribadi masing-masing. Nabi berkata: “ibda’ binafsik (mulailah kebaikan dari dirimu sendiri) Puasa bukan hanya dimaknai menahan makan dan minum, tetapi menahan melakukan korupsi.

Korupsi yang merajalela di negeri ini dikarenakan seperti pesan Iblis tadi, bahwa manusia terlalu mencintai dunia (harta benda), sehingga menghalalkan segala cara. Maka tidak salah kalau Syekh Ibn Athaillah dalam kitab al-Hikam mengutip Rasulullah mengatakan: “hubb al-dunya ra’su kulli khathiatin“ (mencintai dunia berlebihan merupakan pangkal kesalahan dan dosa).

Harta benda di dunia bukan berarti dihindari dan ditinggalkan, tetapi kecintaan yang berlebihan sehingga menghalalkan segala cara, seperti korupsi dan kolusi itu yang harus dibuang jauh dari umat Islam. Umat Islam harus bisa mengendalikan kecintaannya kepada harta benda dengan tidak berlebihan. Silahkan mencari harta, mencari rizki, tetapi dengan jalan yang halal lagi benar.

Maka, puasa merupakan cara terbaik seorang muslim mengendalikan hawa nafsu. Rasulullah SAW berpesan: “Setan berlari dalam diri anak Adam melalui darah, maka halangilah tempat berlarinya syetan dengan lapar dan dahaga“. Nabi Isa juga menasehati murid-muridnya: “Biarkan perutmu lapar, haus dan tubuhmu telanjang, semoga kalbumu dapat melihat Allah“. (Amha/)

Ust. M. Roy Purwanto
Tafakkur #2 Ramadlan 1436.
Pertapaan Kawah Condrodimuko.


Puasa ; Sedekah Mengentas Kemiskinan

google
Dalam kitab tafsir Mafatih al-Ghaib diceritakan bahwa Malaikat di langit sana ”iri” kepada manusia karena dua amalan yang tidak bisa mereka lakukan. Manusia thawaf, malaikat juga bisa thawaf. Manusia shalat, malaikat juga bisa shalat. Manusia bertasbih, malaikat pun bisa bertasbih. Manusia membaca al-Qur’an, malaikat juga bisa membaca al-Qur’an.

Dua amalan yang tidak bisa dilakukan malaikat adalah pertama, sedekah kepada fakir miskin dan dhuafa. Kedua, rintihan taubatnya manusia setelah berbuat dosa. Sementara Allah mengatakan dalam hadis qudsinya: ”Rintihan taubat hambaKu lebih aku sukai dibandingkan dengan dzikirnya alam semesta ini”.

Puasa merupakan ibadah yang bernilai vertikal, karena untuk Allah semata dan Allah yang akan membalasnya secara langsung, dan juga sekaligus bernilai horizontal, karena manusia dilatih untuk merasakan lapar dan dahaga secara langsung, sehinga mampu merasakan kondisi fakir miskin dan dhuafa. Nilai hakiki (main point) secara horizontal ibadah puasa, agar seorang muslim mempunyai kepedulian kepada fakir miskin dan dhuafa, dengan cara mensedekahkan sebagian hartanya kepada mustadh’afin tersebut.

Muhammad Zakariyya Kandahlawi, menyitir hadits Rasulullah yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya, yang pada intinya bahwa bulan Ramadlan dengan ritual puasanya berarti melatih berbuat kasih sayang terhadap orang-orang miskin dan kekurangan. Kasih sayang yang bersifat amaliyah, aplikatif, tidak hanya teoritis belaka, tetapi benar-benar menyayangi dengan cara memberikan sebagian harta yang dipunya dan disedekahkan kepada mereka.

Ketika semua umat Islam mampu memahami esensi puasa, yaitu menolong dan bersedekah kepada fakir miskin, maka pengentasan kemiskinan, akan berlangsung dalam kehidupan bermasyarakat, minimal di bulan Ramadhan ini. Semangat zakat dan sedekah umat Islam kalau dimanage dengan baik, benar, dan profesional, maka yakinlah dalam beberapa tahun ke depan, tidak ada lagi umat muslim yang fakir, miskin dan kekurangan. Hal ini karena potensi zakat dan sedekah umat Islam sangat luar biasa, hanya saja ini semua belum berjalan dengan baik. Zakat dan sedekah belum dikelola dengan managemen modern, terlebih lagi kesadaran berderma umat Islam masih sangat rendah.

Dengan semangat Ramadhan, diharapkan kita semua umat Islam tergugah hatinya untuk ikut mengentaskan kemiskinan dengan memperbanyak sedekah. Puasa harus mampu memberikan spirit menyayangi fakir, miskin dan mustad’afin dengan cara menyisihkan sebagian harta kita.
Berkaitan dengan ini, Abu Darda’, salah seorang sahabat Nabi memberikan nasehat yang direkam dalam kitab Lathaiful Ma’arif: ”Bershalatlah kamu dalam kegelapan malam dua rakaat untuk menentang kegelapan kubur. Berpuasalah kamu di hari yang sangat panas (Ramadhan) untuk menentang kepanasan di hari kebangkitan (mahsyar). Dan bersedekahlah kamu untuk melawan kesukaran dan kerumitan hari kiamat”.

Puasa yang telah kita lakukan, mudah-mudahan memberikan kecerdasan, bukan hanya spiritual dan emosional, tetapi juga kecerdasan sosial, dengan menjadikan kita manusia yang bisa meneladani para kekasih Allah yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab dari pernyataan Rasululaha bahwa ada lima ratus orang pilihan yang selalu menerima rahmat Allah disamping empat puluh kekasih Allah yang utama. Apabila salah satu diantara mereka meninggal, maka akan digantikan dengan orang lain. Para Shahabat bertanya tentang amalam khusus mereka, maka Rasulullah bersabda:”Mereka memaafkan orang-orang dhalim, berbuat baik kepada orang-orang yang melakukan maksiat, mencintai orang-orang awam, dan berbagi rizki dengan orang-orang miskin”.

Ust. M. Roy Purwanto
Tafakkur 1 Ramadlan.
Pertapaan Kawah Condrodimuko.


Standar Memilih Pasangan Hidup

sumber google
Banyak alasan dari masyarakat saat ini, ketika datang seorang pemuda yang ingin melamar anak perempuannya, mereka menolaknya. Mengapa? Ada yang mengatakan, karena dia berasal dari keluarga ini dan bukan keluarga itu, atau dari kalangan ini dan bukan dari kalangan itu, atau karena begini dan begitu. Suatu standar yang tidak pernah diturunkan oleh Allah.

Dalam setiap masa ada standarnya. Sebagian fuqaha’ pada masa itu ada yang mengatakan bahwa kafa’ah (kesesuaian) itu terdapat dalam nasab, harta, profesi, dan lainnya. Akan tetapi, sebagai fuqaha’ lainnya ada yang menolak syarat ini semua dan berkata, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

Jadi ukurannya adalah agama dan akhlak. Nabi menegaskan, “Apabila datang kepada kalian laki-laki yang kalian ridhai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan besar.” Inilah ciri orang beriman dan inilah yang harus selalu dijaga dan diperhatikan.

Diantara fuqaha’ ada yang mengatakan bahwa orang alim (berilmu) itu kufu’ (sesuai) dengan anak raja, karena ilmu mengangkat derajat pemiliknya dan memuliakannya. Apabila kita menjadikan ukuran kesesuaian pada nasab dan harta, maka berarti kita telah menjadi seperti orang-orang India yang hidup berkasta-kasta, yang mana tidak ada seorang pun yang dapat berpindah kasta. Islam menolak sistem kasta ini.

Dalam masyarakat muslim, seseorang bisa naik derajatnya dengan ilmu dan amalnya. Dan, inilah yang kita lihat sejak masa sahabat.

Atha’ bin Abu Rabah, seorang fakih dari kalangan tabi’in adalah seorang berkulit hitam, hidungnya nyeper, kakinya pincang, dan postur tubuhnya pendek, akan tetapi dia bisa duduk berdampingan dengan Sulaiman bin Abdul Malik, ketika melaksanakan ibadah hajidan berfatwa tentang manasik haji kepada semua orang. Mereka berkata, “Ilmu telah mengangkat derajatnya.”

Kita perlu meninjau kembali standar kita dalam menetapkan kafa’ah dalam pernikahan, “Yang penting adalah anak-anak kita bahagia. Kita tidak perlu mengambil standar lama, karena zaman telah berubah, kehidupan semakin berkembang, dan pola pandang pasti telah berbeda.” Padahal Allah berfirman, “Dan nikahkanlah orang-orang yan sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang patut (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur:32).

Kita harus meninjau kembali pola pandang lama, sehingga kita tidak terpaku kepada standar, “Yang penting anak kita bahagia di dunia.”

Ada beberapa faktor psikologis yang harus diperhatikan pada sebagian remaja putra, termasuk pada remaja putri itu sendiri. Sebagian remaja ada yang berhayal mendapat wanita ideal yang didambakannya untuk dijadikan istrinya. Dia menghayalkannya dengan kecantikan yang memukau dan sempurna. Akan tetapi, tidak ada dalam kenyataan.

Dalam kehidupan jarang sekali kita dapatkan kesempurnaan yang mutlak. Sebagian wanita ada yang hanya cantik, atau hanya kaya atau hanya berasal dari keturunan yang baik. sedangkan wanita yang memiliki semua itu jarang sekali kita dapatkan. Karena itu, Nabi mewasiatkan kepada kita dalam sabdanya, “Nikahilah wanita karena empat hal..” (Hadits).

Wanita yang agamis harus lebih dulu di dahulukan, yaitu yang apabila engkau melihatnya dia membuatmu senang, dan jika engkau menyuruhnya dia menaatimu, serta dia menjaga dirinya ketika engkau pergi, dan takut kepada Allah dalam menjaga kehormatanmu, anak-anakmu, dan hartamu.

Allah berfirman, “Sebab itu maka wanita yang shaleh ialah wanita yang taat kepada Allah lagi memlihara dirinya ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisaa’: 34). Banyak orang yang menciptakan impian-impian yang terlalu tinggi dan idealis, akan tetapi sedikit dari mereka yang dapat mewujudkannya dan berhasil.

Tidak ada gunanya hayalan-hayalan dan sikap berlebihan seperti itu. Seorang remaja putra hendaknya memilih remaja putri yang agamis dan mencari wanita shalehah yang menjaga dan melindunginya, serta hidup bahagia bersamanya. Tidak peduli apakah dari segi materi dia miskin, apabila ida memang kaya akhlak. Dalam hadits dari Aisyah dinyatakan, “Nikahilah wanita, maka akan datang harta kepadamu.”

Ketika Fatimah binti Muhammad menikah dengan Ali bin Abi Thalib, dirumahnya tidak ada lampu listrik, juga tidak ada mesin cuci otomatis, dan tidak ada vacuk celaner. Dia menyapu rumah dengan tangannya, memutar penggiling dengan tangannya karena tidak punya mesin penggiling. Mereka mengambil gandum dan mengelilingnya di atas penggiling batu hingga menjadi tepung yang halus, mengadonnya menjadi roti. Dia memikul air diatas pundaknya hingga membekas di tangannya.

Pernah pada suatu ketika dia dan suaminya pergi kepada Nabi mengadukan keadaannya dengan harapan beliau memberinya pembantu, akan tetapi Rasulullah bersabda kepada keduanya, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik dari pembantu bagi kalian berdua? Jika kalian telah kembali ke tempat tidur kalian dan kalian mau tidur, bertakbirlah tiga puluh tiga kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”

Beliau menasihati keduanya agar mengobati rasa penat dan letihnya dengan kekuatan spiritual, yaitu berdzikir kepada Allah, dan beliau tidak memberinya seorang pembantu.

Mengapa wanita muslimah menginginkan kehidupan bermewah? Alangkah indahnya jika dia sendiri dapat membantu kesibukan suaminya, mengerjakan sendiri tugas-tugas dirumahnya, dan berjuang bersamanya menegakkan pilar-pilar rumah tangga hingga mencapai derajat tinggi?

Mengapa wanita muslimah dari awal menginginkan laki-laki kaya harta? Wallahu a’lam, apakah harta ini berasal dari yang halal atau haram?

Wanita muslimah hendaknya memulai tangga pertama dari impian-impiannya bersama suaminya, hidup bersamanya dalma perjuangan, sebagaimana wanita-wanita muslimah di masa awal Islam, seperti Fatimah Az-Zahra’, Asma’ pemilik dua selendang, dan para sahabat wanita lainnya. [Ah]

Sumber : Islamedia.com


Laporan Infaq Masjid Bulan Maret (contoh)


Laporan Kas Infaq
Masjid Tanbihul Anam Perbulan
-----------------------------------------------------

  No       Tgl/Bln/Thn                      Keterangan                      Dana Masuk            Dana Keluar                Saldo          
101 / Maret / 2015Sisa saldo bulan lalu4.457.000-4.457.000
206 / Maret / 2015Infaq jumat 500.000-4.957.000
308 / Maret / 2015Biaya pengajian -300.0004.657.000
410 / Maret / 2015Beli lampu neon-50.0004.607.000
513 / Maret / 2015Infaq jumat376.000-4.983.000
614 / Maret / 2015Taziah -200.0004.783.000
717 / Maret / 2015Sewa kursi masjid250.000-5.333.000
820 / Maret / 2015Infaq jumat450.000-5.783.000
927 / Maret / 2015Infaq jumat300.000-6.083.000
1030 / Maret / 2015Saldo akhir bulan--6.083.000


Mengetahui Ketua Takmir
H. Abdul Wahab



Dua Pelajaran dari Nyamuk

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil lagi....” (al-Baqarah: 26).

Di dalam Tafsirnya, Ibnu Katsir mengemukakan penjelasan yang sangat menarik. Bahwa, nyamuk itu hidup ketika lapar dan menjadi mati ketika kenyang. Ar-Rabi' bin Anas mengatakan, “Demikian itu adalah perumpamaan bagi mereka (orang-orang kafir, munafik, dan fasik). Mereka hidup hanya memburu dunia. Maka, ketika mereka bergelimang dengan dunia, tiba-tiba Allah membinasakan mereka.

Sebagaimana firman-Nya, “Maka, tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan (dunia) untuk mereka. Sehingga, apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Jadilah ketika itu mereka terdiam tak berkutik lagi.” (al-An'am: 44).

Berkaitan dengan nyamuk ini, paling tidak ada dua pelajaran yang sangat penting. Pertama, kita tak boleh terpesona dengan harta benda yang melimpah ruah dan peradaban materi yang menjulang tinggi yang dimiliki dan dibangun oleh orang-orang yang tak beriman. Tingginya peradaban fisik dan hebatnya kekuatan ekonomi belum tentu sebagai lambang kesuksesan atau kejayaan suatu bangsa.

Manusia, baik dalam skala pribadi, masyarakat, bangsa, maupun negara bila terbuai dengan dunia dan melupakan ajaran-ajaran Allah, niscaya binasa. Sebagaimana nyamuk yang pasti mati ketika sangat menikmati menghisab darah hingga kekenyangan. Itulah, hanya karena capaian materi dan ekonomi yang sangat besar tak boleh membuat kita takjub kepada mereka. Dengan kekayaan yang melimpah bisa saja justru mereka terkubur mengenaskan. (Lihat: at-Taubah: 55).

Kedua, hati-hati dengan perangkap dunia. Yang terperangkap dengan dunia dengan segala bentuknya bukan hanya orang-orang kafir, tapi bisa saja kita orang-orang yang beriman. Bahkan, bisa para aktivis pergerakan dan dakwah. Sepanjang sejarah, gerakan dakwah tidaklah menang karena adanya fasilitas harta. Dan, tidak pernah kalah karena minimnya sarana dan prasarana dunia.

Justru sebaliknya, perjuangan menjadi lemah ketika dunia mulai masuk dalam kehidupan mereka dan akhirnya benar-benar kalah ketika mereka telah bergelimang dengan harta. Lagi-lagi, inilah filosofi nyamuk. Ketika dalam kondisi lapar, sangat lincah, bisa terbang ke sana ke mari dan bisa menggigit dengan tajam sekali. Milintansi luar biasa. Tapi, ketika nyamuk itu sudah terlalu kenyang, ia tak bisa terbang lagi. Tak perlu dibunuh, nyamuk itu dengan sendirinya pasti mati.

Karena itu, para aktivis gerakan dakwah hendaknya selalu waspada dengan jebakan dunia ini. Musuh-musuh dakwah telah banyak yang mengetahui bahwa untuk menghentikan gerakan dakwah tak perlu dibantai para aktivisnya. Cukup beri mainan dunia kepada mereka hingga mereka benar-benar terbuai dengan dunia itu. Bila sudah hanyut dengan dunia, aktivis dakwah niscaya kehilangan militansi.

Bahkan, tak akan berdakwah lagi. Karena itu, Imam Al-Banna Sang Mujahid Dakwah mengajarkan, “Shunduquna juyubuna”. Artinya, meski dengan segala kekurangan, modal dakwah kita adalah dari saku-saku kita sendiri. Ingat, kata Al-Banna, tangan yang suka menerima tak akan bisa memukul. Wallahu a'lam.

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/

Istri-istri Nabi Muhammad; (Salamah Ke 6)


Ummu Salamah.

Nama Ummu Salamah adalah Hindun binti Umayyah. Ia adalah wanita Bani Makhzum anak dari salah seorang yang paling dermawan dari kalangan Quraisy, Umayyah bin al-Mughirah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, suaminya adalah seorang muhajirin yang pertama-tama memeluk Islam, ia adalah Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad al-Makhzumi al-Qurasyi.

Ummu Salam dilahirkan pada tahun 24 sebelum hijrah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya di tahun 4 H. Saat itu usianya menginjak 28 tahun. Hikmah dari pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Salamah adalah pemuliaan terhadap Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Ia dan suaminya adalah orang yang memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam sebagai orang-orang pertama menyambut dakwah Islam. Ummu Salamah juga memiliki 4 orang anak yang menjadi yatim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi penanggungnya dan keempat anaknya.

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha memiliki usia cukup panjang, 85 tahun. Ia wafat pada tahun 61 H, pada saat pemerintahan Yazid bin Muawiyah.

Sumber : kisahmuslim.com

Istri-istri Nabi Muhammad; (Zainab Ke 5)


Zainab binti Khuzaimah.

Keistimewaan ummul mukminin Zainab binti Khuzaimah adalah ringannya beliau dalam berderma. Karena hal ini, ia dijuluki ibunya orang-orang miskin. Zainab binti Khuzaimah adalah seorang wanita Quraisy janda dari pahlawan Perang Uhud, Abdullah bin Jahsy radhiallahu ‘anhu.

Setelah menjanda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya di bulan Ramadhan tahun 3 H. Namun kebersamaannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berlangsung lama. Ummul mukminin Zainab bin Khuzaimah wafat saat pernikahannya dengan Rasulullah baru berumur 8 bulan atau bahkan kurang dari itu. Dan saat itu usia Zainab radhiallahu ‘anha 30 tahun. Dengan demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua kali merasakan wafat ditinggal istrinya.

Sumber : kisahmuslim.com

Istri-istri Nabi Muhammad; (Hafshah Ke 4)


Hafshah binti Umar bin al-Khattab.

Wanita Quraisy berikutnya yang merupakan ibu dari orang-orang yang beriman adalah Hafshah putri dari Umar al-faruq. Hafshah dilahirkan pada tahun ke-18 sebelum hijrah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, Hafshah adalah istri dari pahlawan Perang Badar, Khunais bin Khudzafah as-Sahmi radhiallahu ‘anhu. Bersama Khunais, Hafshah mengalami dua kali hijrah, ke Habasyah lalu ke Madinah. Khunais radhiallahu ‘anhu wafat karena luka yang ia derita saat Perang Badar.

Setelah Khunais radhiallahu ‘anhu wafat, Umar berusaha mencarikan laki-laki terbaik untuk menjadi suami putrinya ini. Ia mendatangi Abu Bakar dan Utsman, namun keduanya bukanlah jodoh bagi anak perempuannya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminang Hafshah. Betapa bahagianya Umar, selain menjadi sahabat Rasulullah, ia pun mendapatkan kehormatan dengan memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi yang mulia.

Pernikahan Hafshah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi pada tahun ke-3 H. saat itu usia Hafshah adalah 21 tahun. Ia hidup bersama Rasulullah, membangun keluarga selama 8 tahun. Saat usianya menginjak 29 tahun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Dan Hafshah wafat pada usia 63 tahun tahun 45 H, pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Sumber : kisahmuslim.com

Istri-istri Nabi Muhammad; (Aisyah ke 3)




Aisyah binti Abu Bakar

Salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling dikenal oleh umatnya adalah Aisyah radhiallahu ‘anha. Ummul mukminin Aisyah memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ummahatul mukminin yang lain. Di antaranya, dialah satu-satunya istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah turunkan wahyu dari atas langit ketujuh untuk membela kehormatannya. Bukan satu atau dua ayat, tapi Allah firmankan 10 ayat (QS. An-Nur: 11-20) yang membela kehormatan Aisyah radhiallahu ‘anha dan terus-menerus dibaca hingga hari kiamat. Menodai kehormatan Aisyah sama saja mengingkari Alquran. Oleh karena itu, para ulama memvonis kafir orang-orang yang merendahkan kehormatan Aisyah radhiallahu ‘anha.

Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha dilahirkan pada tahun ke-7 sebelum hijrah. Ia adalah seorang wanita Quraisy putri dari laki-laki yang paling mulia setelah para nabi dan rasul, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan ibunya adalah Ummu Ruman radhiallahu ‘anha.

Sebelum menikahi Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya 3 malam berturut-turut dalam mimpinya dan mimpi Nabi adalah wahyu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan mimpinya,

رأيتُك في المنام ثلاث ليال ، جاء بك الملك في سرقة من حرير، فيقول : هذه امرأتك فأكشف عن وجهك فإذا أنت فيه، فأقول : إن يك هذا من عند الله يُمضه

“Aku melihatmu (Aisyah) dalam mimpiku selama tiga malam. Malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih. Malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu’. Lalu kusingkapkan penutup wajahmu, ternyata itu adalah dirimu. Aku bergumam, ‘Seandainya mimpi ini datangnya dari Allah, pasti Dia akan menjadikannya nyata’. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, Nabi menikahi Aisyah adalah perintah dari Allah Ta’ala.

Aisyah dinikahi Rasulullah saat berusia 9 (terhitung sejak Rasulullah bercampur dengan Aisyah) tahun dan rumah tangga yang suci ini berlangsung selama 9 tahun pula. Aisyah menuturkan,

تزوجني رسول الله صلى الله عليه وسلم لست سنين ، وبنى بي وأنا بنت تسع سنين

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku saat aku berusia 6 tahun dan berumah tangga bersamaku (menggauliku) saat aku berusia 9 tahun.” (Muttafaq’ alaihi).

Umur Aisyah yang sangat dini menjadi polemik di masa kini. Karena orang-orang sekarang menimbang masa lalu dengan kaca mata masa kini. Padahal tidak ada satu pun orang-orang kafir Quraisy, Abu Jahal dkk., mencela pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengna Aisyah. Kita ketahui orang-orang kafir Quraisy mengerahkan segala cara untuk menjatuhkan kedudukan Rasulullah, hingga fitnah yang di luar nalar pun akan mereka lakukan demi rusaknya imge Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah manusia. Mereka menyebut beliau pendusta dan tukang sihir setelah mereka sendiri menggelarinya al-amin. Artinya, nalar Abu Jahal dkk. tidak terpikir untuk mencela Rasulullah yang menikahi Aisyah yang masih sangat muda.

Salah satu hikmah dari pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Aisyah radhiallahu ‘anha adalah menghapus anggapan orang-orang terdahulu yang menjadi norma yang berlaku di antara mereka yaitu ketika seseorang sudah bersahabat dekat, maka status mereka layaknya saudara kandung dan berlaku hukum-hukum saudara kandung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sahabat dekat. Ketika Rasulullah hendak menikahi Aisyah, Abu Bakar sempat mempertanyakannya, karena ia merasa apakah yang demikian dihalalkan.

عن عروة أن النبي صلى الله عليه وسلم خطب عائشة إلى أبي بكر فقال له أبو بكر: إنما أنا أخوك، فقال: أنت أخي في دين الله وكتابه وهي لي حلال.

Dari Aurah, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dating kepada Abu Bakar untuk melamar Aisyah. Lalu Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya aku ini saudaramu’. Nabi menjawab, ‘Iya, engkau saudaraku dalam agama Allah Allah dan Kitab-Nya dan ia (anak perempuanmu) itu halal bagiku’.” (HR. Bukhari).

Rasulullah hendak memutus kesalahpahaman ini dan mengajarkan hukum yang benar yang berlaku hingga hari kiamat kelak.

Saat ibunda Aisyah radhiallahu ‘anhu berusia 18 tahun, di pangkuannya, sang suami tercinta wafat meninggalkannya untuk selamanya. Dan saat berusia 65 tahun ia pun baru menyusul sang kekasih pujaan hati. Dengan demikian, selama 47 tahun Aisyah hidup sendiri tanpa suami.

Sumber : kisahmuslim.com

Istri-istri Nabi Muhammad; (Saudah ke 2)




Saudah binti Zam’ah

Saudah binti Zam’ah adalah seorang wanita Quraisy dari Bani ‘Amir. Sebagian sejarawan menyatakan tidak ada catatan yang bisa dijadikan rujukan kuat mengenai tahun kelahiran beliau. Ummul mukmini Saudah binti Zam’ah radhiallahu ‘anha adalah janda dari sahabat as-Sakran bin Amr radhiallahu ‘anhu. Bersama as-Sakran ia memiliki 5 orang anak.

Karena itu tidak diketahui pula usianya saat menikah dengan Nabi dan berapa tahun usianya saat wafat. Namun ada yang mengatakan bahwa usinya saat menikah dengan Nabi adalah 55 tahun. Ibunda Saudah dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat 3 tahun sebelum hijrah.

Pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Saudah binti Zam’ah adalah bantahan yang telak bagi orang-orang yang menuduh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tuduhan keji terkait hubungan beliau dengan wanita. Saat Nabi tengah dirundung duka karena wafat Khadijah sang istri tercinta, Khoulah binti Hakim datang menyarankan agar beliau menikah. Khoulah mengajukan dua nama Saudah atau Aisyah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih Saudah binti Zam’ah. Beliau memilih wanita yang tua usianya dibanding Aisyah yang masih muda. Setelah pernikahan itu berusia 3 tahun lebih barulah Nabi menikahi Aisyah. Kalau tuduhan orang-orang yang dengki terhadap Islam itu benar, niscaya beliau lebih mengutamakan wanita-wanita muda dan gadis untuk dijadikan pedamping beliau setelah Khadijah.

Ummul mukminin Saudah binti Zam’ah wafat di akhir pemerintahan Umar bin al-Khattab tahun 54 H.

Sumber : kisahmuslim.com

Ngaca Dulu, Biar Gak Ngaco

Benda yang satu ini sangat familiar, sering dijual di toko bangunan, bahkan di pinggir jalan. Tetapi sadar atau pun tidak, benda ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan, bagaimana rasanya jika hidup ini tidak ada cermin, tentu kita tidak akan pernah tahu akan rupa diri kita sendiri. Bahkan bagi sebagian perempuan, keberadaan cermin itu tidak bisa lepas dalam aktivitas keseharian, kemana-mana biasanya cermin itu selalu dibawa.

Misalnya saja, untuk membetulkan kerudung yang kurang pas, mereka (perempuan) tak segan untuk izin ke kamar kecil. Padahal tujuannya cukup simple, ya hanya untuk membetulkan kerudungnya. Tanpa ada bantuan cermin rasanya terkesan ribet. Bagi sebagian wanita yang senang dandan tentu cermin kecil selalu menemani kemana pun mereka pergi.

Ketika make-upnya dirasa sudah luntur, alisnya mulai tipis, lurus dan lain-lain, tak segan mereka mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas mungilnya. Sebetulnya, tak jauh berbeda juga dengan laki-laki yang senang dengan fashion. Hanya saja laki-laki biasanya cukup bercermin di rumah, atau malah lebih berani, apapun yang bisa memantul bisa dijadikan cermin.

Inilah fenomena kecil yang sering kita jumpai, yang begitu penting dalam kehidupan sehari-hari dan tak bisa dipisahkan dari hidup kita. Apa jadinya jika hidup ini tidak ada cermin, tentu rasanya ada sesuatu yang hilang. Penulis sempat merasakan pengalaman yang luar biasa dan tidak mengenakkan.

Salah seorang teman pernah mengalami hal ini. Kala itu selama sepuluh hari Ia ditugaskan untuk menjalankan salah satu program dari kantornya. Ia ditempatkan di desa terpencil dan di puncak sebuah bukit yang diapit oleh dua gunung menjulang ke langit. Karena berada di atas ketinggian, rasa dingin adalah santapan setiap hari, tak peduli siang maupun malam hari.

Karena mengalami kondisi alam yang berbeda, banyak sekali perjuangan yang harus dihadapi. Harus terbiasa dengan cuaca dingin, jarang mandi (sehari cukup satu kali, itu pun mandinya dilakukan pada siang hari). Perjuangan yang lain yaitu tidak menemukan cermin, hanya ingin sekedar melihat wajah atau melihat keadaan rambut. Maklum karena akses ke kota lumayan jauh dan jalannya yang rawan.

Ada rasa rindu dan kangen dengan wajah. Bagaimana bentuk dan perubahan, apa saja yang sudah terjadi selama ini. Rasa keingintahuan  itu luar biasa muncul. Alangkah kaget bukan kepalang ketika ia bercermin, ternyata wajahnya mengelupas seperti kulit ular, ada sisik-sisiknya juga. Setelah dicek, ternyata hanya faktor air dan iklim saja, sehingga menyebabkan wajahnya demikian.

Cermin Diri
Itulah pentingnya cermin. Selain untuk mengetahui perubahan dan perkembangan yang ada pada manusia. Cermin juga sering digunakan untuk aktivitas lain, dan pekerjaan itu sangat simple. Merias wajah misalnya, dan ini kebiasaan perempuan. Kalau laki-laki paling mencukur kumis, dan janggut. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw agar selalu merawat diri, salah satunya ilah mencukur rambut, kumis dan lain-lain.

Jika pekerjaan yang satu ini tidak dibantu dengan cermin, tentu harus menggunakan jasa orang lain. Bayangkan jika pengerjaan yang sederhana ini harus dilakukan oleh dua orang saja, terkesan ribet bukan? Dengan adanya cermin, pengerjaannya bisa lebih mudah dan ringan, karena tidak perlu dilakukan dengan banyak orang.

Makna bercermin yang dimaksud adalah cermin yang bermakna  hakiki (hakikat), yaitu cermin yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun bercermin yang bermakna majazi (majas) adalah cermin diri. Cermin ini sering diartikan sebagai introspeksi diri (bercermin ke diri sendiri, setelah melihat/membandingkan ke orang lain yang lebih baik).

Tujuannya ialah membandingkan diri dengan orang lain, apakah yang kita lakukan itu sudah seperti mereka ataukah belum (dalam hal ini terkait kebaikan). Sehingga dengan adanya cermin diri ini, memacu seseorang untuk menjadi lebih baik lagi. Sebagaimana perintah Rasulullah untuk memiliki prinsip, “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin…”

Cermin adalah benda yang paling jujur sedunia. Apa yang ada didepannya ditampilkan secara utuh. Tidak ada manipulasi, atau disembunyikan darinya. Dan yang paling penting adalah, cermin tidak pernah sekalipun memberikan komentar tentang apa yang didepannya. Keistimewaan inilah yang dimiliki oleh sebuah cermin. Apa jadinya jika cermin itu bisa berbicara dan mampu memberikan penilaian bagi siapapun yang ada di depannya?.

Bercerminlah !
‘Bercermin’ ini tentunya harus kita tanamkan dalam diri. Sebab tanpa cermin inilah kita tidak mungkin bisa membandingkan semuanya. Bahkan kita bisa dibuat lupa untuk bercermin, sehingga melahirkan pribadi-pribadi yang sombong, angkuh, congkak dan lupa diri. Inilah sebabnya kebiasaan bercermin harus kita galakan.

Bercermin tidak asal bercermin, tetapi harus betul-betul kepada orang yang baik. Sebab jika bercermin kepada orang yang salah bisa menyebabkan salah jalan. Misalnya seorang tetangga yang selalu bercermin kepada tetangganya yang hidup mewah, sedangkan penghasilannya pas-pasan.

Kalau hal ini dipaksakan bisa merusak dirinya sendiri dan akhirnya menimbulkan masalah yang luar biasa dalam dirinya. Untuk itu, bercermin itu harus bisa menempatkan diri, kepada siapa dan kapan. Dalam hal kebaikan tentu kita sangat dianjurkan untuk iri, tetapi dalam hal keduniaan agama pun melarangnya dengan keras.

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu; Siapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal siapa tuhannya. Ini adalah salah satu cermin diri yang baik. Mengetahui dirinya sendiri dalam rangka mengetahui siapa sang penciptanya. Dengan mengetahui kekurangn diri, maka akan semangkin merasa lemah dan tidak berdayannya diri.

Mengenal Diri, itulah suluk. Suluk adalah fase-fase perjalanan hidup untuk pada akhirnya mengalami realitas sejati. Hanya dengan mengenal jatidiri, maka makhluq mengenal Khaliq. Hanya dengan menyadari ia hina, maka ia mengerti Allah Maha Tinggi.

Hanya dengan mengenal jatidiri, maka makhluq mengenal Khaliq.  Dengan menyadari ia najis, maka ia mengerti Allah Maha Suci. Hanya dengan mengaku telah berbuat salah dan dosa, serta bertobat, maka manusia akan mengerti bahwa Allah Maha Pengampun.

Ihtitām
Orang yang bahagia yaitu orang yang ‘ngaca’ terhadap dirinya. Dai sejuta umat, Alm. Zainudin Mz pernah menyampaikan tausiah tentang ciri-ciri orang yang bahagia. Pertama, ingat akan kesalahan yang pernah diperbuat. Mengingat kesalahan dan dosa untuk menjadi lebih baik, baru kemarin berbuat dosa, ini nambah lagi. Kedua, melupakan kebaikan yang pernah dilakukan (merasa kebaikannya belum cukup). Ia merasa belum pernah berbuat baik, sehingga merasa rugi kalau tidak berbuat baik.

Ketiga, dalam urusan dunia melihat kebawah. Artinya timbul rasa syukur. Masih banyak yang sengsara dari dirinya, ketika menemui kesulitan, ia berpikir masih banyak yang merasakan kesulitan dibandingkan dengannya. Keempat, dalam urusan akhirat ia melihat ke atas. Si Pulan bisa puasa sunah, kenapa saya tidak. Dia bisa ngaji, kok saya enggak. Iri terhadap dunia dilarang, iri dalam kebaikan sangat dianjurkan.

Untuk itu mari bersama-sama kita bercermin, tentunya dengan menggunakan cermin yang baik. Jika selama ini cermin yang kita gunakan itu belum baik, mari mulai detik ini juga diubah dan perlahan untuk meninggalkannya. Semoga kita diberikan kemudahan dan kekuatan oleh Allah SWT untuk selalu berada di jalan yang lurus, wa ihdinsshiratha al-mustaqiim.

Amir Hamzah
Ngaji di UII - Yogyakarta

Istri yang Dijamin Masuk Surga

sumber foto : Google
Tahukah Anda istri yang dijamin masuk surga? dalam hadits shahih, Rasulullah menyebutkan nama-nama mereka. Sebagian disertai penjelasan amal-amal istimewa yang mereka lakukan sehingga mendapatkan jaminan itu.

Misalnya, Bilal bin Rabah. Ketika Rasulullah melakukan isra’ mi’raj, beliau mendengar suara terompah di surga. Ternyata itu adalah suara terompah Bilal. Ia telah dijamin masuk surga. Apa amal istimewanya? Rupanya Bilal senantiasa menjaga wudhu.

Begitu batal, muadzin Rasulullah itu segera mengambil air wudhu dan kemudian shalat sunnah dua rakaat. Demikian seterusnya.

Selain mendengar suara terompah laki-laki, Rasulullah pada isra’ mi’raj itu juga mendengar suara langkah kaki wanita. Siapakah wanita yang dijamin masuk surga itu? Dalam hadits riwayat Muslim, para Malaikat menjawab, “Dia adalah Ghumaisha’ binti Mahlan, ibu Anas bin Malik”. 

Siapakah Ghumaisha’ binti Mahlan? Mungkin nama itu asing bagi kita. Sebab kita lebih mengenalnya dengan nama kunyahnya; Ummu Sulaim. Dalam sirah shahabiyah, dipaparkan amal istimewa Ummu Sulaim. Yakni kesabaran dan romantisnya terhadap suami.

Suatu hari, Abu Thalhah suami Ummu Sulaim berangkat berjihad. Ia tetap berangkat meskipun anaknya pada saat itu sedang demam, sakit. Ditinggal Abu Thalhah, kondisi anak tidak membaik, justru ia kemudian meninggal. Sebagai ibu, Ummu Sulaim tentu merasa kehilangan. Tetapi kesabarannya sungguh luar biasa.

Selang beberapa jam setelah sang anak meninggal, Abu Thalhah pulang. Ummu Sulaim menyambutnya dengan wajah penuh cinta; tanpa rona kesedihan sedikitpun.

Bagaimana kondisi anak kita?” tanya Abu Thalhah.

Sekarang ia lebih tenang” jawab Ummu Sulaim. Dan memang benar, anak yang meninggal pastilah lebih tenang daripada ketika ia sakit. Apalagi anak kecil yang tidak punya dosa, begitu meninggal ia tidak punya beban sama sekali.

Ummu Sulaim mempersilahkan Abu Thalhah makan dulu, apa keperluannya dilayani, rasa lelahnya diobati, tubuh yang capek dipijati, dan sebagainya. Hingga puncaknya, Abu Thalhah diajaknya melepas rindu, bersatu dalam nikmat surga dunia.

Paginya, Ummu Sulaim bertanya kepada Abu Thalhah. “Wahai suamiku, jika ada orang yang menitipkan barang kepada kita, lalu suatu saat orang itu datang mengambilnya, apa yang kita lakukan?”

Tentu kita harus mengembalikan barang titipan itu,” jawab Abu Thalhah.

Sesungguhnya anak kita telah meninggal. Ia titipan Allah, dan telah diambil olehNya sebelum engkau pulang

Abu Thalhah tidak marah. Tetapi, ia merasa terkejut dengan kabar ini. Bagaimana mungkin semalam ia begitu bahagia, padahal anaknya telah tiada. Tidak puas dengan hal ini, ia pun mengadu kepada Rasulullah.

Apa jawaban Rasulullah? Beliau justru memuji sikap Ummu Sulaim yang sangat sabar dan penuh kasih sayang itu. Ummu Sulaim telah melakukan hal istimewa yang tidak bisa dilakukan oleh banyak wanita lainnya.

Ia mampu bersabar atas musibah yang dialaminya. Ia tidak langsung memberitahukan suaminya agar ia istirahat dulu dan menenangkan diri. Bahkan ia dijamu dengan jima’ yang membuatnya berbahagia. “Allah memberkahi apa yang kalian lakukan semalam,” sabda Rasulullah.

Dan benar. Dari hubungan malam itu Abu Thalhah dan Ummu Sulaim dikaruniai anak yang hafal Qur’an. Dan bukan hanya anak itu, seluruh anak mereka yang berjumlah sembilan orang semuanya juga hafal Qur’an. 

Sumber : http://makassar.tribunnews.com/ diambil dari keluargacinta.com


Gelar itu Perlu Gak Sih?

"Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan hidup dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa". (QS. Al-Furqan [25] : 74)
Ketika mengikuti perkuliahan di kampus, banyak karakter dosen pemberi mata kuliah yang berbeda-beda. Dosen A seperti ini, dosen B beda dari A, bahkan dosen C berbeda dari A dan B. Banyak sekali karakater perbedaanya, terutama cara mengajar, menyampaikan materi yang diajarkan, dan ketika ngobrol di luar kelas.

Dari sekian banyak dosen yang mengajar di kelas, tidak sedikit yang sudah sampai menempuh gelar doktor, dengan kata lain sudah dan sedang menempuh strata tiga (s3). Kenapa harus ada gelar yang dijadikan acuan dan tolak ukur seorang dosen. Sebab gelar itu merupakan pencapaian tertinggi yang pernah ditempuh ketika menjalani studinya.

Tak heran jika suatu ketika ada dosen yang jelas-jelas mengatakan bahwa penulisan, peletakan, gelar untuk dirinya tidak boleh salah. Sebab kalau salah, maka nilai Ujian Tengah Semester (UTS) maupun Ujian Akhir Semester (UAS) tidak akan keluar. Sebagai mahasiswa kami merasa takut dan manut saja, toh gelar itu memang buah kerja keras, tidak salahnya kita menghargai kerja keras tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan orang (mesti tidak semuanya) ketika memilih melanjutkan ke jenjang perkuliahan yang pertama kali dicari yaitu untuk mendapatkan gelar. Perjuangan untuk mendapatkan gelar itu tidak mudah, butuh waktu, perjuangan dan konsentrasi tingkat tinggi.

Oleh karenanya, maka gelar tersebut adalah reward atau hadiah dari kerja keras yang sudah ditempuh selama bertahun-tahun. Tidak salah memang ketika ada dosen yang meminta dan begitu mempersoalkan gelar yang sudah diraihnya tersebut. Kerja keras yang sudah dijalaninya harus dihargai dan diapresiasi.

Dalam kisah lain, tapi masih seputar tentang dosen juga. Cerita singkatanya kurang lebih seperti ini. Kala itu salah seorang sahabat (boleh disebut teman dekatlah) yang meminta bantuan untuk dibuatkan dsain sertifikat acara pelatihan. Kebetulan sahabat ini juga sebagai panitia inti dalam acara tersebut.

Setelah dsain dibuat dan dikirim, sahabat tadi mengirimkan balasan. Inti tulisannya adalah meminta supaya gelar dosen yang menjadi pimpinan di kantornya tersebut meminta dihapus. Padahal gelar yang sudah dituliskan tidak bermasakah dan sesuai dengan semestinya. Ketika dikonfirmasi langsung, “katanya buat apa sih pake gelar-gelar segala, tidak terlalu penting”. Demikian jawaban yang saya terima dari salah seorang sahabat.

Gelar Sesungguhnya
Prof. Komarudin Hidayat (mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) pernah menyampaiakan dalam tausiaH. Inti dari tasusiahnya adalah : sebuah kesuksesan itu sebetulnya bukan terletak pada sesuatu yang dimiliki. Sebab sesuatu yang dimiliki itu menyangkut kepada sesuatu yang melekat. Sesuatu yang melekat itu tidak selamanya bisa kita bawa, dalam artian suatu saat akan kita lepaskan.

Pada hakikatnya sesuatu yang saat ini kita miliki bukanlah sebuah kesuksesan. Jabatan, gelar, dan apapun itu hanyalah tempelan semata. Kelak itu akan kita tinggalkan kala jasad dengan ruh telah berpisah. Gelar keduniaan tidak lagi menjadi berarti, tetapi gelar akhiratlah yang paling dicari.

Khusnul khatimah (meninggal dalam keadaan baik) adalah harapan kita, terutama bagi seluruh umat islam (muslim). Hanya saja, ketika mengikuti peroses penjelajahan menapaki khusnul kahtimah, banyak sekali duri, naik turun, tikungan tajam dan lain sebagainya. Sehingga banyak yang akhirnya tersesat bahkan salah jalan.

Perangkap yang ada di dalamnya begitu sulit untuk dibedakan. Jalan kebaikan terasa begitu berat dan susah untuk dijalani ketimbang jalan keburukan yang terkesan lebih mudah dan terbuka lebar. Akhirnya banyak yang memilih jalan keburukan, karena terasa lebih nyaman, enak, dan ada juga karena sudah terlajur jatuh di dalamnya.

Ketika sudah di batas penghujung jatah kehidupan, banyak yang menyesal dan ingin mengubah jalan hidupnya. Kata-kata penyesalan tak lagi berarti, sebab maut sudah datang di depan mata, waktu tak bisa bergulir lagi mengulang masa lalu. Semua keluarga sudah berkumpul dan tak sedikit menangisi. Tetangga berkumpul untuk berta’ziah dan siap mengantakan ke liang lahat. Saat itulah gelar almarhum/ah telah sah kita dapatkan.

Tetapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah gelar almarum/ah itu mendapatkan indeks prestasi cumlaude atau tidak? Ketika semasa hidupnya banyak melaksanakan amal shalih maka predikat cumlaude bisa diterimanya. Tetapi jika sebaliknya, banyak bolosnya, indeks prestasinya hanya 2,0 predikat itupun belum bisa diraihnya.

Taqwa 
Suatu ketika dalam sebuah kelas, seorang sahabat bertanya dengan lantang di depan teman-teman yang lainnya. Siapa yang tau gelar paling tinggi di atas orang yang bertaqwa? Semua teman-teman terdiam dan tak ada yang memberikan jawaban. Salah seorang teman yang duduk di belakang menjawab tidak ada gelar yang paling tertinggi di atas ketaqwaan.

Karena hanya satu orang yang merespon, akhirnya sahabat ini pun menjelaskan kepada teman-teman yang lainnya. Sebetulnya gelar yang paling tinggi di atas orang yang bertaqwa adalah imamnya orang yang bertaqwa. Sebagaimana dalam bait doa yang sering kita memohon kepada Allah SWT.

Rabbanā hablanā min azwajinā wa durriyatinā qurrata’ayun waj;alnā lil muttaqina imamā "Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan hidup dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa". (QS. Al-Furqan [25] : 74)

Taqwa itu menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Inilah makna taqwa yang sudah sangat kita dengar ketika khutbah jum’at. Tapi secara aplikasinya belum tentu bisa dengan mudah. Butuh perjuangan dan tantangan, untuk bisa mencapai tingkatan taqwa yang sebenarnya. Ketaqwaan seseorang terhadap tuhannya tidak bisa ditawar-tawar. Tapi bagi siapa yang betul-betul bertaqwa maka ia balasannya adalah pahala syurga dan rizkinya tidak akan pernah putus.

Makna taqwa yang menurut Sayyidina ‘Ali ra lebih spesifik. Takut akan Allah, Menjalankan isi al-Quran. Qanaah dengan rizqi meskipun sedikit, dan yang terakhir adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan masa depan yang lebih kekal (akhirat). Dari keempatnya ini manakah yang sudah betul-betul kita amalakan?

Ihtitam
Banyak yang dibuai oleh gemerlap dunia. Matanya silau dan tak mampu membedakan mana yang betul-betul baik untuk dirinya hingga jangka panjang atau hanya sesaat saja. Dunia ini membuatnya menjadi terbalik dan orientasinya sudah berubah 180 derajat dibandingkan ketika ia masih duduk di bangku pesantren.

Status seseorang bukan jaminan untuk menjadikannya baik atau malah sebaliknya. Banyak yang awalnya baik, taat dan begitu haus dengan keagamaan, tetapi ketika sudah jatuh kedalam masalah keduniaan semuanya lepas begitu saja. Seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Tak sedikit pula yang awalnya menentang, menolak bahkan terang-terangan menghina agama, nyatanya kini ia menjadi seorang muslim yang taat.

Gelar manusia yang diberikan oleh allah adalah khalifah/pemimpin yang dipasrahi alam dunia untuk dijaga dan dirawat sebaik mungkin. Tapi dengan gelar itu pula ternyata mansuia merusak dan mengeksploitasi anamat yang sudah Allah berikan. Gelar khalifah yang sudah Allah berikan jelas-jelas disalahgunakan, apalagi gelar yang hanya disematkan oleh manusia. Makhluk tempatnya salah dan lupa.

Oleh karena itu, gelar yang disematkan oleh manusia jika dioptimalkan dengan baik dan digunakan untuk menjalankan, mentaati dan mengimani gelar yang sudah Allah berikan maka bukan tidak mungkin predikat cumlaude itu akan didapatkan. Allahu’alam. [Zah]

--------
Terbit di buletin alrasikh.uii.ac.id edisi/Jum'at, 06 Feb 2015



Keutamaan Membaca Alquran

REPUBLIKA.CO.ID.- Siapa pun yang berinteraksi dengan Alquran dengan baik pasti akan mendapatkan pahala yang besar dan balasan yang berlipat-lipat. Orang yang membaca, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan isinya akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT.

Berikut ini beberapa keutamaan membaca Alquran. Pertama, menjadi perniagaan yang tidak akan merugi. Allah berfirman: "Sesungguhnya orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi." (QS al-Fathir: 29).

Kedua, merupakan amal yang terbaik. Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya." ( HR Bukhari).

Ketiga, mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah bersabda: "Orang yang membaca Alquran dengan mahir akan bersama-sama malaikat yang mulia lagi taat (HR Bukhari dan Muslim).

Keempat, mendapat sakinah (ketenangan jiwa) dan rahmat (kasih sayang). Rasulullah bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Alquran kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat serta diliputi oleh malaikat serta Allah sebut di hadapan malaikat (sisi-Nya)." (HR Muslim).

Kelima, mendapat sebaik-baik anugerah Allah SWT. Rasulullah bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Barang siapa yang sibuk dengan Alquran dan zikir dari meminta-Ku, aku akan memberikan kepadanya sebaik-baik anugerah-Ku. Keutamaan kalamullah (Alquran) atas kalam-kalam selainnya seperti keutamaan Allah atas semua makhluk-Nya." (HR Tirmidzi)

Keenam, seperti buah utrujah yang wangi dan lezat. Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang beriman yang membaca Alquran seperti buah utrujah; aromanya wangi dan rasanya lezat, perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Alquran itu seperti kurma; tidak beraroma tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran itu seperti buah raihanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah handhalah (semacam labu) ; tidak beraroma dan rasanya pahit." (HR Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, mendapat kebaikan berlipat ganda. Rasulullah bersabda: "Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah baginya satu kebaikan. Satu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).

Kedelapan, memberikan syafaat ketika hari kiamat kelak. Rasulullah bersabda: " Bacalah Alquran, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan memberikan syafaat kepada pembacanya." (HR Muslim).

Dengan memahami beberapa keutamaan membaca Alquran di atas, semoga kita terinspirasi dan bersemangat dalam menjaga rutinitas kita dalam membaca Alquran. Semoga Allah merahmati kita semua dengan wasilah Alquran yang kita baca.

Oleh: Ahmad Syaiful Anam

Saling Menasihati dalam Kebaikan

Fenomena saling menyalahkan, merasa yang paling benar, serta senang melihat kesengsaraan yang dihadapi oleh sesamanya merupakan penyakit yang harus segera dihilangkan. Manusia merupakan makhluk sosial yang terikat dan bersaudara antara satu dan yang lainnya. Maka, berbuat kebaikan kepada siapa pun menjadi mutlak dilakukan untuk menciptakan hubungan antara sesama manusia yang humanis.

''Demi masa. Sesungguhya, manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.'' (QS Al-Ashr [103]: 1-3).

Seseorang akan merasa beruntung bila ia menggunakan waktunya untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Memang, alangkah indahnya bila kehidupan kita sudah disemarakkan dengan semangat saling menasihati. Betapa tidak? Setiap orang butuh keselamatan. Selamat dari kerusakan, kebodohan, kecelakaan, kekurangan, kelalaian, dan kesalahan. Bentuk cinta dan kasih seseorang terhadap yang lainnya adalah dengan menasihati supaya tidak terjun dalam kubangan kesalahan dan dosa.

Seorang Muslim tidak akan rela melihat saudara se-Muslim lain berbuat kesalahan yang dapat menjauhkan dirinya dari pertolongan syariat.

Makna dari nasihat adalah 'menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran', yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan perbuatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan mengajaknya untuk tidak melakukan perbuatan yang malah dapat menjauhkan diri dari-Nya.

Merupakan tugas setiap Muslim baik perempuan maupun laki-laki untuk saling menasihati seperti dalam firman-Nya, ''Dan, hendaklah ada dari antara kamu segolongan umat yang berseru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan, merekalah orang-orang yang beruntung.'' (QS Ali Imran [3]: 104).

Namun demikian, terkadang banyak yang mau menasihati orang lain, memberikan koreksi, bahkan mengkritik. Tapi, sayangnya, ketika ia sendiri yang dikoreksi dan dinasihati, terkadang sulit sekali untuk berlapang dada menerimanya.

Nasihat yang baik yang boleh kita sampaikan adalah nasihat yang benar, mengandung muatan positif, dan tentunya penuh makna serta manfaat bagi semua orang, yaitu mengajak pada kebajikan dan menjauhi kemungkaran yang berdasarkan Alquran dan sunah.

Dan, bukanlah sebaliknya, menganjurkan kemungkaran dan melarang untuk mengerjakan kebajikan. Apa pun yang kita sampaikan jika itu benar, alangkah baiknya bila cara menyampaikannya pun benar.

Dengan nasihat, kita harus membantu yang lupa agar menjadi ingat, membantu yang lalai agar menjadi semangat, yang tergelincir menjadi bangkit kembali, yang berlumur dosa menjadi bertobat. Intinya, kalau dilandasi niat yang baik, tentu akan melahirkan kebaikan pula.

Oleh : Darul Qotni Abbas