Slider

Referensi Bacaan

kajian

Buletin

Informasi

Hikmah

Ibrah

Dokumentasi

» » » Masuk Surga karena Seekor Lalat

Sumber : Google
Imam al-Ghazali, dalam salah satu kitabnya, Ihya’ Ulum al-Din menceritakan bahwa suatu saat ketika ia mengarang kitab, ada seekor lalat yang terbang mendekat dan hinggap di tinta penanya. Pertama al-Ghazali bermaksud mengusir lalat tersebut karena merasa terganggu. Namun kemudian ia sadar bahwa lalat tersebut sedang kehausan, maka dibiarkanlah lalat itu minum sepuasnya dari tinta al-Ghazali. Setelah lalat tersebut hilang dahaganya, ia lantas terbang entah kemana.

Malam harinya al-Ghazali bermimpi bahwa ia dihisab di padang mahsyar, dan pengadilan akhirat memutuskan untuk memasukan al-Ghazali di surga. Saat itulah muncul suara yang menggema dan berwibawa; “Wahai Ghazali, menurutmu amal apa yang menyebabkan engkau termasuk golongan ahli surga?” al-Ghazali menjawab; “Engkau lebih tahu ya Allah, tetapi kalau aku boleh menebak, maka kitab-kitab karanganku lah yang menyebabkan semua ini”. Suara itu berkata: “bukan wahai Ghazali, karanganmu memang banyak, kitabmu berjilid-jilid, tetapi yang menyebabkan beratnya timbangan pahalamu adalah seekor lalat yang engkau biarkan minum ketika ia kehausan”.

Sekelumit kisah yang akhirnya diabadikan al-Ghazali dalam Ihya’ tersebut memberi kita hikmah bahwa hanya karena membiarkan atau mengasih minum lalat yang kehausan saja menjadikan sebab seseorang masuk surga, apalagi mengasih sodaqah bagi sesama yang benar-benar membutuhkan. Maka, tidak berlebihan ketika Nabi dalam salah satu haditsnya mengatakan: al-Jannatu musytaqat ila arba’ati anfar: talil Qur’an, hafidz al-Lisan, muth’im al-ji’an, wa shaim Ramadlan (Surga selalu merindukan kepada empat golongan manusia; pembaca al-Qur’an, penjaga lisan, pemberi makan orang yang kelaparan, dan orang yang puasa Ramadlan).

Pertama, pembaca al-Qur’an (talil Qur’an). Surga sangat merindukan orang yang rajin membaca al-Qur’an. Al-Qur’an menempati tempat sentral bagi umat Islam dan merupakan kitab yang paling banyak dibaca di dunia, secara berulang-ulang dengan tanpa bosan, bahkan dihafal oleh ribuan orang secara tepat, sampai pada titik komanya. Ini membuktikan betapa agungnya al-Qur’an dan mulianya, sehingga surga sampai merindukan pembacanya.

Syahrul Qur’an merupakan nama lain Ramadlan, karena di dalamnya diturunkan al-Qur’an. Olehkarenanya, memperbanyak membaca al-Qur’an di bulan Ramadlan merupakan amal yang utama. Para Sahabat Nabi ketika memasuki bulan Ramadlan, berlomba-lomba memperbanyak membaca al-Qur’an, ada yang mengkhatamkan seminggu sekali, tiga hari sekali, sehari semalam sekali, bahkan ada yang semalam khatam.

Kedua, Orang yang selalu menjaga lisan. Lidah adalah bagian organ manusia yang lembut dan terlihat lemah, namun memegang peran yang besar bagi hubungan manusia satu dengan lainnya. Di bulan Ramadlan ini, sudah seharusnya seorang yang berpuasa menjaga lisannya, karena lisannya pun harus ikut berpuasa.

Ketiga, Puasa Ramadlan. Romadlan merupakan bulan penuh hikmah, bulan tempat penggodokan, bulan yang merupakan “kawah condrodimuko” bagi sebelas bulan berikutnya. Ketika bulan Ramadlan seseorang mampu mengisi hatinya, menguatkan spirit hidupnya, maka itu akan bermanfaat bagi hari-hari yang akan dijalani berikutnya. Dan bagi orang yang gagal mengambil hikmah di bulan Ramadlan, maka ia pun akan rugi di hari-hari berikutnya, karena bekal yang didapat tidak cukup.

Keempat, orang yang memberi makan orang yang kelaparan. Sodaqah merupakan perbuatan yang mulia. Seperti yang diceritakan oleh al-Ghazali tadi, dengan “bersedekah” pada hewan saja, mampu memperberat amal kebaikan di surga, apalagi bersedekah kepada manusia. Di samping itu pula, ternyata dengan bersedekah secara ihlas akan mendatangkan rizki yang berlipat-lipat bagi pelakunya.

Keempat amalan ini tepat sekali dilakukan pada bulan Ramadlan, sehingga Ramadlan yang dijalani menjadi bulan berkah pembawa selaksa hikmah dan ketakwaan.

Berkaitan dengan ini, Syekh Zainuddin dari Malabar India mendendangkan syair:
Batu-batu ketakwaan di dasar hatimu
Adalah biji-biji nirmala
Yang melahirkan pohon-pohon keagungan
Dengan teduh dan buah yang tidak akan pernah berakhir

Ust. M. Roy Purwanto
Tafakkur #4 Ramadlan 1436.
Pertapaan Kawah Condrodimuko.(Amha/)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: