Slider

Referensi Bacaan

kajian

Buletin

Informasi

Hikmah

Ibrah

Dokumentasi

» » » Ramadhan; Medan dan Perang Mencari Rahmat Allah

Sumber Google
Dalam kitab Durratun Nasihin, Utsman ibn Hasan Al-Khubawi (w. 1824) menukil sebuah hadis dari Rasulullah yang yang menceritakan bahwa ada seorang laki-laki digiring malaikat ke neraka karena dosa-dosanya yang banyak. Sampai pada 1/3 perjalanan ia menengok ke belakang dan berjalan lagi. Kemudian ia sampai 1/2 perjalanan dan menengok kembali ke belakang. Kemudian ia jalan terus sampai 2/3 perjalanan dan menengok kembali ke belakang. Pada akhirnya Allah memerintahkan kepada malaikat untuk mengembalikan orang itu ke tempatnya semula.

Kemudian orang itu ditanya oleh Allah "Haii.. fulan kenapa kamu menengok ke belakang sampai 3 kali?" Orang itu menjawab : "Yaa Allah di 1/3 perjalanan aku ingat Firman-Mu "Wa rabbuka al-ghafuru dzu al-rahmah” (Tuhan-mu adalah Maha Pengampun yang memiliki kasih sayang) karena itu aku menengok ke belakang untuk mohon ampunan-MU. Aku jalan terus sampai 1/2 perjalanan, aku ingat Firman-Mu "waman yaghfiru al-dzunuba illa Allah " (Siapakah yang mengampuni dosa kecuali Allah?), karena itu aku menengok ke belakang untuk memohon ampunan-Mu.

Lalu aku berjalan terus hingga pada 2/3 perjalanan aku ingat Firman-Mu lagi " Qul li’ibadia alladzina asrafu ‘ala anfusihim la taqnathu min rahmatillah" (Katakanlah kepada Hamba2ku yang banyak berbuat dzolim, janganlah berputus asa dari rahmat Allah), karena itu aku menengok ke belakang untuk mengharapkan pengampunan-Mu. Selanjutnya, Allah berkata: " Aku ampuni kamu pergilah kamu ke surga dengan Rahmat-KU".

Dari kisah di atas, jelaslah bahwa seseorang bisa masuk surga pada dasarnya bukan karena amal ibadahnya yang banyak, tetapi hanya karena rahmat Allah semata. Bahkan Rasul sendiri mengatakan bahwa masuk surganya beliau nanti, bukan karena amalannya, tetapi hanya karena rahmat Allah. Oleh karena itu, yang perlu kita cari sebenarnya, adalah rahmat Allah dan Ridlo Allah.
Lantas muncul pertanyaan, bagaimana dengan amal yang dilakukan setiap hari, seperti shalat, zakat, sedekah, dan puasa,? Apakah amal-amal tersebut lantas tidak memberikan makna apa-apa?

Sungguh, tidak ada amal ibadah yang sia-sia. Sekecil apapun amal, akan dipertimbangkan oleh Allah dan mendapatkan balasan. Hanya saja, amal ibadah manusia, tidak seimbang jika dibandingkan dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepada manusia. Olehkarena itu, amal ibadah hanyalah berfungsi sebagai alat dan proses untuk menjemput rahmat Allah SWT. Itulah fungsi ibadah, ia sebagai salah satu alat ukur seorang hamba mendapatkan rahmat Allah.

Diceritakan dalam sebuah hadis ada seorang hamba Allah yang beribadah selama 500 tahun di atas sebuah bukit yang berada di tengah-tengah lautan. Di situ Allah SWT mengeluarkan sumber air tawar yang sangat segar dan menumbuhkan satu pohon delima. Setiap harinya, hamba Allah tersebut mandi, berwudhu pada mata air tersebut dan makan buah delima. Setelah hamba tersebut meninggal, maka dihisab oleh Allah di hari kiamat. Allah SWT menyuruh malaikat: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut tidak mau dan berkata: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku saja, bukan karena rahmatMu”.

Maka Allah SWT menyuruh malaikat agar menghitung seluruh amal ibadahnya selama 500 tahun dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Setelah dihitung-hitung ternyata kenikmatan Allah SWT tidak sebanding dengan amal ibadah hamba tersebut selama 500 tahun. Maka Allah SWT berfirman: “Masukkan ia ke dalam neraka”. Maka ketika malaikat akan menariknya untuk dijebloskan ke dalam neraka, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena rahmat-Mu”.

Ramadlan, adalah bulan tempat Allah “mengobral” rahmat. Rahmat Allah ada dalam puasa, rahmat Allah ada dalam tarawih, rahmat Allah bersemayam dalam sedekah, dan rahmat allah juga bersemayam dalam membaca al-Qur’an. Olehkarena itu, bagi para pemburu rahmat Allah, carilah rahmatNya yang berserak di setiap nafas ramadlan ini. Bukankah Rasulullah telah bersabda:” Inilah bulan yang permulaannya (10 hari pertama) penuh dengan rahmat, yang pertengahannya (10 hari pertengahan) penuh dengan ampunan, dan yang terakhirnya (10 hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka”.(Amha/)


Ust. M. Roy Purwanto
Tafakkur #3 Ramadlan 1436.
Pertapaan Kawah Condrodimuko.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: