Slider

Referensi Bacaan

kajian

Buletin

Informasi

Hikmah

Ibrah

Dokumentasi

Puasa ; Sedekah Mengentas Kemiskinan

google
Dalam kitab tafsir Mafatih al-Ghaib diceritakan bahwa Malaikat di langit sana ”iri” kepada manusia karena dua amalan yang tidak bisa mereka lakukan. Manusia thawaf, malaikat juga bisa thawaf. Manusia shalat, malaikat juga bisa shalat. Manusia bertasbih, malaikat pun bisa bertasbih. Manusia membaca al-Qur’an, malaikat juga bisa membaca al-Qur’an.

Dua amalan yang tidak bisa dilakukan malaikat adalah pertama, sedekah kepada fakir miskin dan dhuafa. Kedua, rintihan taubatnya manusia setelah berbuat dosa. Sementara Allah mengatakan dalam hadis qudsinya: ”Rintihan taubat hambaKu lebih aku sukai dibandingkan dengan dzikirnya alam semesta ini”.

Puasa merupakan ibadah yang bernilai vertikal, karena untuk Allah semata dan Allah yang akan membalasnya secara langsung, dan juga sekaligus bernilai horizontal, karena manusia dilatih untuk merasakan lapar dan dahaga secara langsung, sehinga mampu merasakan kondisi fakir miskin dan dhuafa. Nilai hakiki (main point) secara horizontal ibadah puasa, agar seorang muslim mempunyai kepedulian kepada fakir miskin dan dhuafa, dengan cara mensedekahkan sebagian hartanya kepada mustadh’afin tersebut.

Muhammad Zakariyya Kandahlawi, menyitir hadits Rasulullah yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya, yang pada intinya bahwa bulan Ramadlan dengan ritual puasanya berarti melatih berbuat kasih sayang terhadap orang-orang miskin dan kekurangan. Kasih sayang yang bersifat amaliyah, aplikatif, tidak hanya teoritis belaka, tetapi benar-benar menyayangi dengan cara memberikan sebagian harta yang dipunya dan disedekahkan kepada mereka.

Ketika semua umat Islam mampu memahami esensi puasa, yaitu menolong dan bersedekah kepada fakir miskin, maka pengentasan kemiskinan, akan berlangsung dalam kehidupan bermasyarakat, minimal di bulan Ramadhan ini. Semangat zakat dan sedekah umat Islam kalau dimanage dengan baik, benar, dan profesional, maka yakinlah dalam beberapa tahun ke depan, tidak ada lagi umat muslim yang fakir, miskin dan kekurangan. Hal ini karena potensi zakat dan sedekah umat Islam sangat luar biasa, hanya saja ini semua belum berjalan dengan baik. Zakat dan sedekah belum dikelola dengan managemen modern, terlebih lagi kesadaran berderma umat Islam masih sangat rendah.

Dengan semangat Ramadhan, diharapkan kita semua umat Islam tergugah hatinya untuk ikut mengentaskan kemiskinan dengan memperbanyak sedekah. Puasa harus mampu memberikan spirit menyayangi fakir, miskin dan mustad’afin dengan cara menyisihkan sebagian harta kita.
Berkaitan dengan ini, Abu Darda’, salah seorang sahabat Nabi memberikan nasehat yang direkam dalam kitab Lathaiful Ma’arif: ”Bershalatlah kamu dalam kegelapan malam dua rakaat untuk menentang kegelapan kubur. Berpuasalah kamu di hari yang sangat panas (Ramadhan) untuk menentang kepanasan di hari kebangkitan (mahsyar). Dan bersedekahlah kamu untuk melawan kesukaran dan kerumitan hari kiamat”.

Puasa yang telah kita lakukan, mudah-mudahan memberikan kecerdasan, bukan hanya spiritual dan emosional, tetapi juga kecerdasan sosial, dengan menjadikan kita manusia yang bisa meneladani para kekasih Allah yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab dari pernyataan Rasululaha bahwa ada lima ratus orang pilihan yang selalu menerima rahmat Allah disamping empat puluh kekasih Allah yang utama. Apabila salah satu diantara mereka meninggal, maka akan digantikan dengan orang lain. Para Shahabat bertanya tentang amalam khusus mereka, maka Rasulullah bersabda:”Mereka memaafkan orang-orang dhalim, berbuat baik kepada orang-orang yang melakukan maksiat, mencintai orang-orang awam, dan berbagi rizki dengan orang-orang miskin”.

Ust. M. Roy Purwanto
Tafakkur 1 Ramadlan.
Pertapaan Kawah Condrodimuko.


Standar Memilih Pasangan Hidup

sumber google
Banyak alasan dari masyarakat saat ini, ketika datang seorang pemuda yang ingin melamar anak perempuannya, mereka menolaknya. Mengapa? Ada yang mengatakan, karena dia berasal dari keluarga ini dan bukan keluarga itu, atau dari kalangan ini dan bukan dari kalangan itu, atau karena begini dan begitu. Suatu standar yang tidak pernah diturunkan oleh Allah.

Dalam setiap masa ada standarnya. Sebagian fuqaha’ pada masa itu ada yang mengatakan bahwa kafa’ah (kesesuaian) itu terdapat dalam nasab, harta, profesi, dan lainnya. Akan tetapi, sebagai fuqaha’ lainnya ada yang menolak syarat ini semua dan berkata, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

Jadi ukurannya adalah agama dan akhlak. Nabi menegaskan, “Apabila datang kepada kalian laki-laki yang kalian ridhai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan besar.” Inilah ciri orang beriman dan inilah yang harus selalu dijaga dan diperhatikan.

Diantara fuqaha’ ada yang mengatakan bahwa orang alim (berilmu) itu kufu’ (sesuai) dengan anak raja, karena ilmu mengangkat derajat pemiliknya dan memuliakannya. Apabila kita menjadikan ukuran kesesuaian pada nasab dan harta, maka berarti kita telah menjadi seperti orang-orang India yang hidup berkasta-kasta, yang mana tidak ada seorang pun yang dapat berpindah kasta. Islam menolak sistem kasta ini.

Dalam masyarakat muslim, seseorang bisa naik derajatnya dengan ilmu dan amalnya. Dan, inilah yang kita lihat sejak masa sahabat.

Atha’ bin Abu Rabah, seorang fakih dari kalangan tabi’in adalah seorang berkulit hitam, hidungnya nyeper, kakinya pincang, dan postur tubuhnya pendek, akan tetapi dia bisa duduk berdampingan dengan Sulaiman bin Abdul Malik, ketika melaksanakan ibadah hajidan berfatwa tentang manasik haji kepada semua orang. Mereka berkata, “Ilmu telah mengangkat derajatnya.”

Kita perlu meninjau kembali standar kita dalam menetapkan kafa’ah dalam pernikahan, “Yang penting adalah anak-anak kita bahagia. Kita tidak perlu mengambil standar lama, karena zaman telah berubah, kehidupan semakin berkembang, dan pola pandang pasti telah berbeda.” Padahal Allah berfirman, “Dan nikahkanlah orang-orang yan sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang patut (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur:32).

Kita harus meninjau kembali pola pandang lama, sehingga kita tidak terpaku kepada standar, “Yang penting anak kita bahagia di dunia.”

Ada beberapa faktor psikologis yang harus diperhatikan pada sebagian remaja putra, termasuk pada remaja putri itu sendiri. Sebagian remaja ada yang berhayal mendapat wanita ideal yang didambakannya untuk dijadikan istrinya. Dia menghayalkannya dengan kecantikan yang memukau dan sempurna. Akan tetapi, tidak ada dalam kenyataan.

Dalam kehidupan jarang sekali kita dapatkan kesempurnaan yang mutlak. Sebagian wanita ada yang hanya cantik, atau hanya kaya atau hanya berasal dari keturunan yang baik. sedangkan wanita yang memiliki semua itu jarang sekali kita dapatkan. Karena itu, Nabi mewasiatkan kepada kita dalam sabdanya, “Nikahilah wanita karena empat hal..” (Hadits).

Wanita yang agamis harus lebih dulu di dahulukan, yaitu yang apabila engkau melihatnya dia membuatmu senang, dan jika engkau menyuruhnya dia menaatimu, serta dia menjaga dirinya ketika engkau pergi, dan takut kepada Allah dalam menjaga kehormatanmu, anak-anakmu, dan hartamu.

Allah berfirman, “Sebab itu maka wanita yang shaleh ialah wanita yang taat kepada Allah lagi memlihara dirinya ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisaa’: 34). Banyak orang yang menciptakan impian-impian yang terlalu tinggi dan idealis, akan tetapi sedikit dari mereka yang dapat mewujudkannya dan berhasil.

Tidak ada gunanya hayalan-hayalan dan sikap berlebihan seperti itu. Seorang remaja putra hendaknya memilih remaja putri yang agamis dan mencari wanita shalehah yang menjaga dan melindunginya, serta hidup bahagia bersamanya. Tidak peduli apakah dari segi materi dia miskin, apabila ida memang kaya akhlak. Dalam hadits dari Aisyah dinyatakan, “Nikahilah wanita, maka akan datang harta kepadamu.”

Ketika Fatimah binti Muhammad menikah dengan Ali bin Abi Thalib, dirumahnya tidak ada lampu listrik, juga tidak ada mesin cuci otomatis, dan tidak ada vacuk celaner. Dia menyapu rumah dengan tangannya, memutar penggiling dengan tangannya karena tidak punya mesin penggiling. Mereka mengambil gandum dan mengelilingnya di atas penggiling batu hingga menjadi tepung yang halus, mengadonnya menjadi roti. Dia memikul air diatas pundaknya hingga membekas di tangannya.

Pernah pada suatu ketika dia dan suaminya pergi kepada Nabi mengadukan keadaannya dengan harapan beliau memberinya pembantu, akan tetapi Rasulullah bersabda kepada keduanya, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik dari pembantu bagi kalian berdua? Jika kalian telah kembali ke tempat tidur kalian dan kalian mau tidur, bertakbirlah tiga puluh tiga kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”

Beliau menasihati keduanya agar mengobati rasa penat dan letihnya dengan kekuatan spiritual, yaitu berdzikir kepada Allah, dan beliau tidak memberinya seorang pembantu.

Mengapa wanita muslimah menginginkan kehidupan bermewah? Alangkah indahnya jika dia sendiri dapat membantu kesibukan suaminya, mengerjakan sendiri tugas-tugas dirumahnya, dan berjuang bersamanya menegakkan pilar-pilar rumah tangga hingga mencapai derajat tinggi?

Mengapa wanita muslimah dari awal menginginkan laki-laki kaya harta? Wallahu a’lam, apakah harta ini berasal dari yang halal atau haram?

Wanita muslimah hendaknya memulai tangga pertama dari impian-impiannya bersama suaminya, hidup bersamanya dalma perjuangan, sebagaimana wanita-wanita muslimah di masa awal Islam, seperti Fatimah Az-Zahra’, Asma’ pemilik dua selendang, dan para sahabat wanita lainnya. [Ah]

Sumber : Islamedia.com


Laporan Infaq Masjid Bulan Maret (contoh)


Laporan Kas Infaq
Masjid Tanbihul Anam Perbulan
-----------------------------------------------------

  No       Tgl/Bln/Thn                      Keterangan                      Dana Masuk            Dana Keluar                Saldo          
101 / Maret / 2015Sisa saldo bulan lalu4.457.000-4.457.000
206 / Maret / 2015Infaq jumat 500.000-4.957.000
308 / Maret / 2015Biaya pengajian -300.0004.657.000
410 / Maret / 2015Beli lampu neon-50.0004.607.000
513 / Maret / 2015Infaq jumat376.000-4.983.000
614 / Maret / 2015Taziah -200.0004.783.000
717 / Maret / 2015Sewa kursi masjid250.000-5.333.000
820 / Maret / 2015Infaq jumat450.000-5.783.000
927 / Maret / 2015Infaq jumat300.000-6.083.000
1030 / Maret / 2015Saldo akhir bulan--6.083.000


Mengetahui Ketua Takmir
H. Abdul Wahab



Dua Pelajaran dari Nyamuk

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil lagi....” (al-Baqarah: 26).

Di dalam Tafsirnya, Ibnu Katsir mengemukakan penjelasan yang sangat menarik. Bahwa, nyamuk itu hidup ketika lapar dan menjadi mati ketika kenyang. Ar-Rabi' bin Anas mengatakan, “Demikian itu adalah perumpamaan bagi mereka (orang-orang kafir, munafik, dan fasik). Mereka hidup hanya memburu dunia. Maka, ketika mereka bergelimang dengan dunia, tiba-tiba Allah membinasakan mereka.

Sebagaimana firman-Nya, “Maka, tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan (dunia) untuk mereka. Sehingga, apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Jadilah ketika itu mereka terdiam tak berkutik lagi.” (al-An'am: 44).

Berkaitan dengan nyamuk ini, paling tidak ada dua pelajaran yang sangat penting. Pertama, kita tak boleh terpesona dengan harta benda yang melimpah ruah dan peradaban materi yang menjulang tinggi yang dimiliki dan dibangun oleh orang-orang yang tak beriman. Tingginya peradaban fisik dan hebatnya kekuatan ekonomi belum tentu sebagai lambang kesuksesan atau kejayaan suatu bangsa.

Manusia, baik dalam skala pribadi, masyarakat, bangsa, maupun negara bila terbuai dengan dunia dan melupakan ajaran-ajaran Allah, niscaya binasa. Sebagaimana nyamuk yang pasti mati ketika sangat menikmati menghisab darah hingga kekenyangan. Itulah, hanya karena capaian materi dan ekonomi yang sangat besar tak boleh membuat kita takjub kepada mereka. Dengan kekayaan yang melimpah bisa saja justru mereka terkubur mengenaskan. (Lihat: at-Taubah: 55).

Kedua, hati-hati dengan perangkap dunia. Yang terperangkap dengan dunia dengan segala bentuknya bukan hanya orang-orang kafir, tapi bisa saja kita orang-orang yang beriman. Bahkan, bisa para aktivis pergerakan dan dakwah. Sepanjang sejarah, gerakan dakwah tidaklah menang karena adanya fasilitas harta. Dan, tidak pernah kalah karena minimnya sarana dan prasarana dunia.

Justru sebaliknya, perjuangan menjadi lemah ketika dunia mulai masuk dalam kehidupan mereka dan akhirnya benar-benar kalah ketika mereka telah bergelimang dengan harta. Lagi-lagi, inilah filosofi nyamuk. Ketika dalam kondisi lapar, sangat lincah, bisa terbang ke sana ke mari dan bisa menggigit dengan tajam sekali. Milintansi luar biasa. Tapi, ketika nyamuk itu sudah terlalu kenyang, ia tak bisa terbang lagi. Tak perlu dibunuh, nyamuk itu dengan sendirinya pasti mati.

Karena itu, para aktivis gerakan dakwah hendaknya selalu waspada dengan jebakan dunia ini. Musuh-musuh dakwah telah banyak yang mengetahui bahwa untuk menghentikan gerakan dakwah tak perlu dibantai para aktivisnya. Cukup beri mainan dunia kepada mereka hingga mereka benar-benar terbuai dengan dunia itu. Bila sudah hanyut dengan dunia, aktivis dakwah niscaya kehilangan militansi.

Bahkan, tak akan berdakwah lagi. Karena itu, Imam Al-Banna Sang Mujahid Dakwah mengajarkan, “Shunduquna juyubuna”. Artinya, meski dengan segala kekurangan, modal dakwah kita adalah dari saku-saku kita sendiri. Ingat, kata Al-Banna, tangan yang suka menerima tak akan bisa memukul. Wallahu a'lam.

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/

Istri-istri Nabi Muhammad; (Salamah Ke 6)


Ummu Salamah.

Nama Ummu Salamah adalah Hindun binti Umayyah. Ia adalah wanita Bani Makhzum anak dari salah seorang yang paling dermawan dari kalangan Quraisy, Umayyah bin al-Mughirah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, suaminya adalah seorang muhajirin yang pertama-tama memeluk Islam, ia adalah Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad al-Makhzumi al-Qurasyi.

Ummu Salam dilahirkan pada tahun 24 sebelum hijrah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya di tahun 4 H. Saat itu usianya menginjak 28 tahun. Hikmah dari pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Salamah adalah pemuliaan terhadap Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Ia dan suaminya adalah orang yang memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam sebagai orang-orang pertama menyambut dakwah Islam. Ummu Salamah juga memiliki 4 orang anak yang menjadi yatim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi penanggungnya dan keempat anaknya.

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha memiliki usia cukup panjang, 85 tahun. Ia wafat pada tahun 61 H, pada saat pemerintahan Yazid bin Muawiyah.

Sumber : kisahmuslim.com

Istri-istri Nabi Muhammad; (Zainab Ke 5)


Zainab binti Khuzaimah.

Keistimewaan ummul mukminin Zainab binti Khuzaimah adalah ringannya beliau dalam berderma. Karena hal ini, ia dijuluki ibunya orang-orang miskin. Zainab binti Khuzaimah adalah seorang wanita Quraisy janda dari pahlawan Perang Uhud, Abdullah bin Jahsy radhiallahu ‘anhu.

Setelah menjanda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya di bulan Ramadhan tahun 3 H. Namun kebersamaannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berlangsung lama. Ummul mukminin Zainab bin Khuzaimah wafat saat pernikahannya dengan Rasulullah baru berumur 8 bulan atau bahkan kurang dari itu. Dan saat itu usia Zainab radhiallahu ‘anha 30 tahun. Dengan demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua kali merasakan wafat ditinggal istrinya.

Sumber : kisahmuslim.com