Slider

Referensi Bacaan

kajian

Buletin

Informasi

Hikmah

Ibrah

Dokumentasi

Standar Memilih Pasangan Hidup

sumber google
Banyak alasan dari masyarakat saat ini, ketika datang seorang pemuda yang ingin melamar anak perempuannya, mereka menolaknya. Mengapa? Ada yang mengatakan, karena dia berasal dari keluarga ini dan bukan keluarga itu, atau dari kalangan ini dan bukan dari kalangan itu, atau karena begini dan begitu. Suatu standar yang tidak pernah diturunkan oleh Allah.

Dalam setiap masa ada standarnya. Sebagian fuqaha’ pada masa itu ada yang mengatakan bahwa kafa’ah (kesesuaian) itu terdapat dalam nasab, harta, profesi, dan lainnya. Akan tetapi, sebagai fuqaha’ lainnya ada yang menolak syarat ini semua dan berkata, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

Jadi ukurannya adalah agama dan akhlak. Nabi menegaskan, “Apabila datang kepada kalian laki-laki yang kalian ridhai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan besar.” Inilah ciri orang beriman dan inilah yang harus selalu dijaga dan diperhatikan.

Diantara fuqaha’ ada yang mengatakan bahwa orang alim (berilmu) itu kufu’ (sesuai) dengan anak raja, karena ilmu mengangkat derajat pemiliknya dan memuliakannya. Apabila kita menjadikan ukuran kesesuaian pada nasab dan harta, maka berarti kita telah menjadi seperti orang-orang India yang hidup berkasta-kasta, yang mana tidak ada seorang pun yang dapat berpindah kasta. Islam menolak sistem kasta ini.

Dalam masyarakat muslim, seseorang bisa naik derajatnya dengan ilmu dan amalnya. Dan, inilah yang kita lihat sejak masa sahabat.

Atha’ bin Abu Rabah, seorang fakih dari kalangan tabi’in adalah seorang berkulit hitam, hidungnya nyeper, kakinya pincang, dan postur tubuhnya pendek, akan tetapi dia bisa duduk berdampingan dengan Sulaiman bin Abdul Malik, ketika melaksanakan ibadah hajidan berfatwa tentang manasik haji kepada semua orang. Mereka berkata, “Ilmu telah mengangkat derajatnya.”

Kita perlu meninjau kembali standar kita dalam menetapkan kafa’ah dalam pernikahan, “Yang penting adalah anak-anak kita bahagia. Kita tidak perlu mengambil standar lama, karena zaman telah berubah, kehidupan semakin berkembang, dan pola pandang pasti telah berbeda.” Padahal Allah berfirman, “Dan nikahkanlah orang-orang yan sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang patut (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur:32).

Kita harus meninjau kembali pola pandang lama, sehingga kita tidak terpaku kepada standar, “Yang penting anak kita bahagia di dunia.”

Ada beberapa faktor psikologis yang harus diperhatikan pada sebagian remaja putra, termasuk pada remaja putri itu sendiri. Sebagian remaja ada yang berhayal mendapat wanita ideal yang didambakannya untuk dijadikan istrinya. Dia menghayalkannya dengan kecantikan yang memukau dan sempurna. Akan tetapi, tidak ada dalam kenyataan.

Dalam kehidupan jarang sekali kita dapatkan kesempurnaan yang mutlak. Sebagian wanita ada yang hanya cantik, atau hanya kaya atau hanya berasal dari keturunan yang baik. sedangkan wanita yang memiliki semua itu jarang sekali kita dapatkan. Karena itu, Nabi mewasiatkan kepada kita dalam sabdanya, “Nikahilah wanita karena empat hal..” (Hadits).

Wanita yang agamis harus lebih dulu di dahulukan, yaitu yang apabila engkau melihatnya dia membuatmu senang, dan jika engkau menyuruhnya dia menaatimu, serta dia menjaga dirinya ketika engkau pergi, dan takut kepada Allah dalam menjaga kehormatanmu, anak-anakmu, dan hartamu.

Allah berfirman, “Sebab itu maka wanita yang shaleh ialah wanita yang taat kepada Allah lagi memlihara dirinya ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisaa’: 34). Banyak orang yang menciptakan impian-impian yang terlalu tinggi dan idealis, akan tetapi sedikit dari mereka yang dapat mewujudkannya dan berhasil.

Tidak ada gunanya hayalan-hayalan dan sikap berlebihan seperti itu. Seorang remaja putra hendaknya memilih remaja putri yang agamis dan mencari wanita shalehah yang menjaga dan melindunginya, serta hidup bahagia bersamanya. Tidak peduli apakah dari segi materi dia miskin, apabila ida memang kaya akhlak. Dalam hadits dari Aisyah dinyatakan, “Nikahilah wanita, maka akan datang harta kepadamu.”

Ketika Fatimah binti Muhammad menikah dengan Ali bin Abi Thalib, dirumahnya tidak ada lampu listrik, juga tidak ada mesin cuci otomatis, dan tidak ada vacuk celaner. Dia menyapu rumah dengan tangannya, memutar penggiling dengan tangannya karena tidak punya mesin penggiling. Mereka mengambil gandum dan mengelilingnya di atas penggiling batu hingga menjadi tepung yang halus, mengadonnya menjadi roti. Dia memikul air diatas pundaknya hingga membekas di tangannya.

Pernah pada suatu ketika dia dan suaminya pergi kepada Nabi mengadukan keadaannya dengan harapan beliau memberinya pembantu, akan tetapi Rasulullah bersabda kepada keduanya, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik dari pembantu bagi kalian berdua? Jika kalian telah kembali ke tempat tidur kalian dan kalian mau tidur, bertakbirlah tiga puluh tiga kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”

Beliau menasihati keduanya agar mengobati rasa penat dan letihnya dengan kekuatan spiritual, yaitu berdzikir kepada Allah, dan beliau tidak memberinya seorang pembantu.

Mengapa wanita muslimah menginginkan kehidupan bermewah? Alangkah indahnya jika dia sendiri dapat membantu kesibukan suaminya, mengerjakan sendiri tugas-tugas dirumahnya, dan berjuang bersamanya menegakkan pilar-pilar rumah tangga hingga mencapai derajat tinggi?

Mengapa wanita muslimah dari awal menginginkan laki-laki kaya harta? Wallahu a’lam, apakah harta ini berasal dari yang halal atau haram?

Wanita muslimah hendaknya memulai tangga pertama dari impian-impiannya bersama suaminya, hidup bersamanya dalma perjuangan, sebagaimana wanita-wanita muslimah di masa awal Islam, seperti Fatimah Az-Zahra’, Asma’ pemilik dua selendang, dan para sahabat wanita lainnya. [Ah]

Sumber : Islamedia.com


Dua Pelajaran dari Nyamuk

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil lagi....” (al-Baqarah: 26).

Di dalam Tafsirnya, Ibnu Katsir mengemukakan penjelasan yang sangat menarik. Bahwa, nyamuk itu hidup ketika lapar dan menjadi mati ketika kenyang. Ar-Rabi' bin Anas mengatakan, “Demikian itu adalah perumpamaan bagi mereka (orang-orang kafir, munafik, dan fasik). Mereka hidup hanya memburu dunia. Maka, ketika mereka bergelimang dengan dunia, tiba-tiba Allah membinasakan mereka.

Sebagaimana firman-Nya, “Maka, tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan (dunia) untuk mereka. Sehingga, apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Jadilah ketika itu mereka terdiam tak berkutik lagi.” (al-An'am: 44).

Berkaitan dengan nyamuk ini, paling tidak ada dua pelajaran yang sangat penting. Pertama, kita tak boleh terpesona dengan harta benda yang melimpah ruah dan peradaban materi yang menjulang tinggi yang dimiliki dan dibangun oleh orang-orang yang tak beriman. Tingginya peradaban fisik dan hebatnya kekuatan ekonomi belum tentu sebagai lambang kesuksesan atau kejayaan suatu bangsa.

Manusia, baik dalam skala pribadi, masyarakat, bangsa, maupun negara bila terbuai dengan dunia dan melupakan ajaran-ajaran Allah, niscaya binasa. Sebagaimana nyamuk yang pasti mati ketika sangat menikmati menghisab darah hingga kekenyangan. Itulah, hanya karena capaian materi dan ekonomi yang sangat besar tak boleh membuat kita takjub kepada mereka. Dengan kekayaan yang melimpah bisa saja justru mereka terkubur mengenaskan. (Lihat: at-Taubah: 55).

Kedua, hati-hati dengan perangkap dunia. Yang terperangkap dengan dunia dengan segala bentuknya bukan hanya orang-orang kafir, tapi bisa saja kita orang-orang yang beriman. Bahkan, bisa para aktivis pergerakan dan dakwah. Sepanjang sejarah, gerakan dakwah tidaklah menang karena adanya fasilitas harta. Dan, tidak pernah kalah karena minimnya sarana dan prasarana dunia.

Justru sebaliknya, perjuangan menjadi lemah ketika dunia mulai masuk dalam kehidupan mereka dan akhirnya benar-benar kalah ketika mereka telah bergelimang dengan harta. Lagi-lagi, inilah filosofi nyamuk. Ketika dalam kondisi lapar, sangat lincah, bisa terbang ke sana ke mari dan bisa menggigit dengan tajam sekali. Milintansi luar biasa. Tapi, ketika nyamuk itu sudah terlalu kenyang, ia tak bisa terbang lagi. Tak perlu dibunuh, nyamuk itu dengan sendirinya pasti mati.

Karena itu, para aktivis gerakan dakwah hendaknya selalu waspada dengan jebakan dunia ini. Musuh-musuh dakwah telah banyak yang mengetahui bahwa untuk menghentikan gerakan dakwah tak perlu dibantai para aktivisnya. Cukup beri mainan dunia kepada mereka hingga mereka benar-benar terbuai dengan dunia itu. Bila sudah hanyut dengan dunia, aktivis dakwah niscaya kehilangan militansi.

Bahkan, tak akan berdakwah lagi. Karena itu, Imam Al-Banna Sang Mujahid Dakwah mengajarkan, “Shunduquna juyubuna”. Artinya, meski dengan segala kekurangan, modal dakwah kita adalah dari saku-saku kita sendiri. Ingat, kata Al-Banna, tangan yang suka menerima tak akan bisa memukul. Wallahu a'lam.

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/

Ngaca Dulu, Biar Gak Ngaco

Benda yang satu ini sangat familiar, sering dijual di toko bangunan, bahkan di pinggir jalan. Tetapi sadar atau pun tidak, benda ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan, bagaimana rasanya jika hidup ini tidak ada cermin, tentu kita tidak akan pernah tahu akan rupa diri kita sendiri. Bahkan bagi sebagian perempuan, keberadaan cermin itu tidak bisa lepas dalam aktivitas keseharian, kemana-mana biasanya cermin itu selalu dibawa.

Misalnya saja, untuk membetulkan kerudung yang kurang pas, mereka (perempuan) tak segan untuk izin ke kamar kecil. Padahal tujuannya cukup simple, ya hanya untuk membetulkan kerudungnya. Tanpa ada bantuan cermin rasanya terkesan ribet. Bagi sebagian wanita yang senang dandan tentu cermin kecil selalu menemani kemana pun mereka pergi.

Ketika make-upnya dirasa sudah luntur, alisnya mulai tipis, lurus dan lain-lain, tak segan mereka mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas mungilnya. Sebetulnya, tak jauh berbeda juga dengan laki-laki yang senang dengan fashion. Hanya saja laki-laki biasanya cukup bercermin di rumah, atau malah lebih berani, apapun yang bisa memantul bisa dijadikan cermin.

Inilah fenomena kecil yang sering kita jumpai, yang begitu penting dalam kehidupan sehari-hari dan tak bisa dipisahkan dari hidup kita. Apa jadinya jika hidup ini tidak ada cermin, tentu rasanya ada sesuatu yang hilang. Penulis sempat merasakan pengalaman yang luar biasa dan tidak mengenakkan.

Salah seorang teman pernah mengalami hal ini. Kala itu selama sepuluh hari Ia ditugaskan untuk menjalankan salah satu program dari kantornya. Ia ditempatkan di desa terpencil dan di puncak sebuah bukit yang diapit oleh dua gunung menjulang ke langit. Karena berada di atas ketinggian, rasa dingin adalah santapan setiap hari, tak peduli siang maupun malam hari.

Karena mengalami kondisi alam yang berbeda, banyak sekali perjuangan yang harus dihadapi. Harus terbiasa dengan cuaca dingin, jarang mandi (sehari cukup satu kali, itu pun mandinya dilakukan pada siang hari). Perjuangan yang lain yaitu tidak menemukan cermin, hanya ingin sekedar melihat wajah atau melihat keadaan rambut. Maklum karena akses ke kota lumayan jauh dan jalannya yang rawan.

Ada rasa rindu dan kangen dengan wajah. Bagaimana bentuk dan perubahan, apa saja yang sudah terjadi selama ini. Rasa keingintahuan  itu luar biasa muncul. Alangkah kaget bukan kepalang ketika ia bercermin, ternyata wajahnya mengelupas seperti kulit ular, ada sisik-sisiknya juga. Setelah dicek, ternyata hanya faktor air dan iklim saja, sehingga menyebabkan wajahnya demikian.

Cermin Diri
Itulah pentingnya cermin. Selain untuk mengetahui perubahan dan perkembangan yang ada pada manusia. Cermin juga sering digunakan untuk aktivitas lain, dan pekerjaan itu sangat simple. Merias wajah misalnya, dan ini kebiasaan perempuan. Kalau laki-laki paling mencukur kumis, dan janggut. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw agar selalu merawat diri, salah satunya ilah mencukur rambut, kumis dan lain-lain.

Jika pekerjaan yang satu ini tidak dibantu dengan cermin, tentu harus menggunakan jasa orang lain. Bayangkan jika pengerjaan yang sederhana ini harus dilakukan oleh dua orang saja, terkesan ribet bukan? Dengan adanya cermin, pengerjaannya bisa lebih mudah dan ringan, karena tidak perlu dilakukan dengan banyak orang.

Makna bercermin yang dimaksud adalah cermin yang bermakna  hakiki (hakikat), yaitu cermin yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun bercermin yang bermakna majazi (majas) adalah cermin diri. Cermin ini sering diartikan sebagai introspeksi diri (bercermin ke diri sendiri, setelah melihat/membandingkan ke orang lain yang lebih baik).

Tujuannya ialah membandingkan diri dengan orang lain, apakah yang kita lakukan itu sudah seperti mereka ataukah belum (dalam hal ini terkait kebaikan). Sehingga dengan adanya cermin diri ini, memacu seseorang untuk menjadi lebih baik lagi. Sebagaimana perintah Rasulullah untuk memiliki prinsip, “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin…”

Cermin adalah benda yang paling jujur sedunia. Apa yang ada didepannya ditampilkan secara utuh. Tidak ada manipulasi, atau disembunyikan darinya. Dan yang paling penting adalah, cermin tidak pernah sekalipun memberikan komentar tentang apa yang didepannya. Keistimewaan inilah yang dimiliki oleh sebuah cermin. Apa jadinya jika cermin itu bisa berbicara dan mampu memberikan penilaian bagi siapapun yang ada di depannya?.

Bercerminlah !
‘Bercermin’ ini tentunya harus kita tanamkan dalam diri. Sebab tanpa cermin inilah kita tidak mungkin bisa membandingkan semuanya. Bahkan kita bisa dibuat lupa untuk bercermin, sehingga melahirkan pribadi-pribadi yang sombong, angkuh, congkak dan lupa diri. Inilah sebabnya kebiasaan bercermin harus kita galakan.

Bercermin tidak asal bercermin, tetapi harus betul-betul kepada orang yang baik. Sebab jika bercermin kepada orang yang salah bisa menyebabkan salah jalan. Misalnya seorang tetangga yang selalu bercermin kepada tetangganya yang hidup mewah, sedangkan penghasilannya pas-pasan.

Kalau hal ini dipaksakan bisa merusak dirinya sendiri dan akhirnya menimbulkan masalah yang luar biasa dalam dirinya. Untuk itu, bercermin itu harus bisa menempatkan diri, kepada siapa dan kapan. Dalam hal kebaikan tentu kita sangat dianjurkan untuk iri, tetapi dalam hal keduniaan agama pun melarangnya dengan keras.

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu; Siapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal siapa tuhannya. Ini adalah salah satu cermin diri yang baik. Mengetahui dirinya sendiri dalam rangka mengetahui siapa sang penciptanya. Dengan mengetahui kekurangn diri, maka akan semangkin merasa lemah dan tidak berdayannya diri.

Mengenal Diri, itulah suluk. Suluk adalah fase-fase perjalanan hidup untuk pada akhirnya mengalami realitas sejati. Hanya dengan mengenal jatidiri, maka makhluq mengenal Khaliq. Hanya dengan menyadari ia hina, maka ia mengerti Allah Maha Tinggi.

Hanya dengan mengenal jatidiri, maka makhluq mengenal Khaliq.  Dengan menyadari ia najis, maka ia mengerti Allah Maha Suci. Hanya dengan mengaku telah berbuat salah dan dosa, serta bertobat, maka manusia akan mengerti bahwa Allah Maha Pengampun.

Ihtitām
Orang yang bahagia yaitu orang yang ‘ngaca’ terhadap dirinya. Dai sejuta umat, Alm. Zainudin Mz pernah menyampaikan tausiah tentang ciri-ciri orang yang bahagia. Pertama, ingat akan kesalahan yang pernah diperbuat. Mengingat kesalahan dan dosa untuk menjadi lebih baik, baru kemarin berbuat dosa, ini nambah lagi. Kedua, melupakan kebaikan yang pernah dilakukan (merasa kebaikannya belum cukup). Ia merasa belum pernah berbuat baik, sehingga merasa rugi kalau tidak berbuat baik.

Ketiga, dalam urusan dunia melihat kebawah. Artinya timbul rasa syukur. Masih banyak yang sengsara dari dirinya, ketika menemui kesulitan, ia berpikir masih banyak yang merasakan kesulitan dibandingkan dengannya. Keempat, dalam urusan akhirat ia melihat ke atas. Si Pulan bisa puasa sunah, kenapa saya tidak. Dia bisa ngaji, kok saya enggak. Iri terhadap dunia dilarang, iri dalam kebaikan sangat dianjurkan.

Untuk itu mari bersama-sama kita bercermin, tentunya dengan menggunakan cermin yang baik. Jika selama ini cermin yang kita gunakan itu belum baik, mari mulai detik ini juga diubah dan perlahan untuk meninggalkannya. Semoga kita diberikan kemudahan dan kekuatan oleh Allah SWT untuk selalu berada di jalan yang lurus, wa ihdinsshiratha al-mustaqiim.

Amir Hamzah
Ngaji di UII - Yogyakarta

Istri yang Dijamin Masuk Surga

sumber foto : Google
Tahukah Anda istri yang dijamin masuk surga? dalam hadits shahih, Rasulullah menyebutkan nama-nama mereka. Sebagian disertai penjelasan amal-amal istimewa yang mereka lakukan sehingga mendapatkan jaminan itu.

Misalnya, Bilal bin Rabah. Ketika Rasulullah melakukan isra’ mi’raj, beliau mendengar suara terompah di surga. Ternyata itu adalah suara terompah Bilal. Ia telah dijamin masuk surga. Apa amal istimewanya? Rupanya Bilal senantiasa menjaga wudhu.

Begitu batal, muadzin Rasulullah itu segera mengambil air wudhu dan kemudian shalat sunnah dua rakaat. Demikian seterusnya.

Selain mendengar suara terompah laki-laki, Rasulullah pada isra’ mi’raj itu juga mendengar suara langkah kaki wanita. Siapakah wanita yang dijamin masuk surga itu? Dalam hadits riwayat Muslim, para Malaikat menjawab, “Dia adalah Ghumaisha’ binti Mahlan, ibu Anas bin Malik”. 

Siapakah Ghumaisha’ binti Mahlan? Mungkin nama itu asing bagi kita. Sebab kita lebih mengenalnya dengan nama kunyahnya; Ummu Sulaim. Dalam sirah shahabiyah, dipaparkan amal istimewa Ummu Sulaim. Yakni kesabaran dan romantisnya terhadap suami.

Suatu hari, Abu Thalhah suami Ummu Sulaim berangkat berjihad. Ia tetap berangkat meskipun anaknya pada saat itu sedang demam, sakit. Ditinggal Abu Thalhah, kondisi anak tidak membaik, justru ia kemudian meninggal. Sebagai ibu, Ummu Sulaim tentu merasa kehilangan. Tetapi kesabarannya sungguh luar biasa.

Selang beberapa jam setelah sang anak meninggal, Abu Thalhah pulang. Ummu Sulaim menyambutnya dengan wajah penuh cinta; tanpa rona kesedihan sedikitpun.

“Bagaimana kondisi anak kita?” tanya Abu Thalhah.

“Sekarang ia lebih tenang” jawab Ummu Sulaim. Dan memang benar, anak yang meninggal pastilah lebih tenang daripada ketika ia sakit. Apalagi anak kecil yang tidak punya dosa, begitu meninggal ia tidak punya beban sama sekali.

Ummu Sulaim mempersilahkan Abu Thalhah makan dulu, apa keperluannya dilayani, rasa lelahnya diobati, tubuh yang capek dipijati, dan sebagainya. Hingga puncaknya, Abu Thalhah diajaknya melepas rindu, bersatu dalam nikmat surga dunia.

Paginya, Ummu Sulaim bertanya kepada Abu Thalhah. “Wahai suamiku, jika ada orang yang menitipkan barang kepada kita, lalu suatu saat orang itu datang mengambilnya, apa yang kita lakukan?”

“Tentu kita harus mengembalikan barang titipan itu,” jawab Abu Thalhah.

“Sesungguhnya anak kita telah meninggal. Ia titipan Allah, dan telah diambil olehNya sebelum engkau pulang”

Abu Thalhah tidak marah. Tetapi, ia merasa terkejut dengan kabar ini. Bagaimana mungkin semalam ia begitu bahagia, padahal anaknya telah tiada. Tidak puas dengan hal ini, ia pun mengadu kepada Rasulullah.

Apa jawaban Rasulullah? Beliau justru memuji sikap Ummu Sulaim yang sangat sabar dan penuh kasih sayang itu. Ummu Sulaim telah melakukan hal istimewa yang tidak bisa dilakukan oleh banyak wanita lainnya.

Ia mampu bersabar atas musibah yang dialaminya. Ia tidak langsung memberitahukan suaminya agar ia istirahat dulu dan menenangkan diri. Bahkan ia dijamu dengan jima’ yang membuatnya berbahagia. “Allah memberkahi apa yang kalian lakukan semalam,” sabda Rasulullah.

Dan benar. Dari hubungan malam itu Abu Thalhah dan Ummu Sulaim dikaruniai anak yang hafal Qur’an. Dan bukan hanya anak itu, seluruh anak mereka yang berjumlah sembilan orang semuanya juga hafal Qur’an. 

Sumber : http://makassar.tribunnews.com/ diambil dari keluargacinta.com


Gelar itu Perlu Gak Sih?

"Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan hidup dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa". (QS. Al-Furqan [25] : 74)
Ketika mengikuti perkuliahan di kampus, banyak karakter dosen pemberi mata kuliah yang berbeda-beda. Dosen A seperti ini, dosen B beda dari A, bahkan dosen C berbeda dari A dan B. Banyak sekali karakater perbedaanya, terutama cara mengajar, menyampaikan materi yang diajarkan, dan ketika ngobrol di luar kelas.

Dari sekian banyak dosen yang mengajar di kelas, tidak sedikit yang sudah sampai menempuh gelar doktor, dengan kata lain sudah dan sedang menempuh strata tiga (s3). Kenapa harus ada gelar yang dijadikan acuan dan tolak ukur seorang dosen. Sebab gelar itu merupakan pencapaian tertinggi yang pernah ditempuh ketika menjalani studinya.

Tak heran jika suatu ketika ada dosen yang jelas-jelas mengatakan bahwa penulisan, peletakan, gelar untuk dirinya tidak boleh salah. Sebab kalau salah, maka nilai Ujian Tengah Semester (UTS) maupun Ujian Akhir Semester (UAS) tidak akan keluar. Sebagai mahasiswa kami merasa takut dan manut saja, toh gelar itu memang buah kerja keras, tidak salahnya kita menghargai kerja keras tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan orang (mesti tidak semuanya) ketika memilih melanjutkan ke jenjang perkuliahan yang pertama kali dicari yaitu untuk mendapatkan gelar. Perjuangan untuk mendapatkan gelar itu tidak mudah, butuh waktu, perjuangan dan konsentrasi tingkat tinggi.

Oleh karenanya, maka gelar tersebut adalah reward atau hadiah dari kerja keras yang sudah ditempuh selama bertahun-tahun. Tidak salah memang ketika ada dosen yang meminta dan begitu mempersoalkan gelar yang sudah diraihnya tersebut. Kerja keras yang sudah dijalaninya harus dihargai dan diapresiasi.

Dalam kisah lain, tapi masih seputar tentang dosen juga. Cerita singkatanya kurang lebih seperti ini. Kala itu salah seorang sahabat (boleh disebut teman dekatlah) yang meminta bantuan untuk dibuatkan dsain sertifikat acara pelatihan. Kebetulan sahabat ini juga sebagai panitia inti dalam acara tersebut.

Setelah dsain dibuat dan dikirim, sahabat tadi mengirimkan balasan. Inti tulisannya adalah meminta supaya gelar dosen yang menjadi pimpinan di kantornya tersebut meminta dihapus. Padahal gelar yang sudah dituliskan tidak bermasakah dan sesuai dengan semestinya. Ketika dikonfirmasi langsung, “katanya buat apa sih pake gelar-gelar segala, tidak terlalu penting”. Demikian jawaban yang saya terima dari salah seorang sahabat.

Gelar Sesungguhnya
Prof. Komarudin Hidayat (mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) pernah menyampaiakan dalam tausiaH. Inti dari tasusiahnya adalah : sebuah kesuksesan itu sebetulnya bukan terletak pada sesuatu yang dimiliki. Sebab sesuatu yang dimiliki itu menyangkut kepada sesuatu yang melekat. Sesuatu yang melekat itu tidak selamanya bisa kita bawa, dalam artian suatu saat akan kita lepaskan.

Pada hakikatnya sesuatu yang saat ini kita miliki bukanlah sebuah kesuksesan. Jabatan, gelar, dan apapun itu hanyalah tempelan semata. Kelak itu akan kita tinggalkan kala jasad dengan ruh telah berpisah. Gelar keduniaan tidak lagi menjadi berarti, tetapi gelar akhiratlah yang paling dicari.

Khusnul khatimah (meninggal dalam keadaan baik) adalah harapan kita, terutama bagi seluruh umat islam (muslim). Hanya saja, ketika mengikuti peroses penjelajahan menapaki khusnul kahtimah, banyak sekali duri, naik turun, tikungan tajam dan lain sebagainya. Sehingga banyak yang akhirnya tersesat bahkan salah jalan.

Perangkap yang ada di dalamnya begitu sulit untuk dibedakan. Jalan kebaikan terasa begitu berat dan susah untuk dijalani ketimbang jalan keburukan yang terkesan lebih mudah dan terbuka lebar. Akhirnya banyak yang memilih jalan keburukan, karena terasa lebih nyaman, enak, dan ada juga karena sudah terlajur jatuh di dalamnya.

Ketika sudah di batas penghujung jatah kehidupan, banyak yang menyesal dan ingin mengubah jalan hidupnya. Kata-kata penyesalan tak lagi berarti, sebab maut sudah datang di depan mata, waktu tak bisa bergulir lagi mengulang masa lalu. Semua keluarga sudah berkumpul dan tak sedikit menangisi. Tetangga berkumpul untuk berta’ziah dan siap mengantakan ke liang lahat. Saat itulah gelar almarhum/ah telah sah kita dapatkan.

Tetapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah gelar almarum/ah itu mendapatkan indeks prestasi cumlaude atau tidak? Ketika semasa hidupnya banyak melaksanakan amal shalih maka predikat cumlaude bisa diterimanya. Tetapi jika sebaliknya, banyak bolosnya, indeks prestasinya hanya 2,0 predikat itupun belum bisa diraihnya.

Taqwa 
Suatu ketika dalam sebuah kelas, seorang sahabat bertanya dengan lantang di depan teman-teman yang lainnya. Siapa yang tau gelar paling tinggi di atas orang yang bertaqwa? Semua teman-teman terdiam dan tak ada yang memberikan jawaban. Salah seorang teman yang duduk di belakang menjawab tidak ada gelar yang paling tertinggi di atas ketaqwaan.

Karena hanya satu orang yang merespon, akhirnya sahabat ini pun menjelaskan kepada teman-teman yang lainnya. Sebetulnya gelar yang paling tinggi di atas orang yang bertaqwa adalah imamnya orang yang bertaqwa. Sebagaimana dalam bait doa yang sering kita memohon kepada Allah SWT.

Rabbanā hablanā min azwajinā wa durriyatinā qurrata’ayun waj;alnā lil muttaqina imamā "Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan hidup dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa". (QS. Al-Furqan [25] : 74)

Taqwa itu menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Inilah makna taqwa yang sudah sangat kita dengar ketika khutbah jum’at. Tapi secara aplikasinya belum tentu bisa dengan mudah. Butuh perjuangan dan tantangan, untuk bisa mencapai tingkatan taqwa yang sebenarnya. Ketaqwaan seseorang terhadap tuhannya tidak bisa ditawar-tawar. Tapi bagi siapa yang betul-betul bertaqwa maka ia balasannya adalah pahala syurga dan rizkinya tidak akan pernah putus.

Makna taqwa yang menurut Sayyidina ‘Ali ra lebih spesifik. Takut akan Allah, Menjalankan isi al-Quran. Qanaah dengan rizqi meskipun sedikit, dan yang terakhir adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan masa depan yang lebih kekal (akhirat). Dari keempatnya ini manakah yang sudah betul-betul kita amalakan?

Ihtitam
Banyak yang dibuai oleh gemerlap dunia. Matanya silau dan tak mampu membedakan mana yang betul-betul baik untuk dirinya hingga jangka panjang atau hanya sesaat saja. Dunia ini membuatnya menjadi terbalik dan orientasinya sudah berubah 180 derajat dibandingkan ketika ia masih duduk di bangku pesantren.

Status seseorang bukan jaminan untuk menjadikannya baik atau malah sebaliknya. Banyak yang awalnya baik, taat dan begitu haus dengan keagamaan, tetapi ketika sudah jatuh kedalam masalah keduniaan semuanya lepas begitu saja. Seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Tak sedikit pula yang awalnya menentang, menolak bahkan terang-terangan menghina agama, nyatanya kini ia menjadi seorang muslim yang taat.

Gelar manusia yang diberikan oleh allah adalah khalifah/pemimpin yang dipasrahi alam dunia untuk dijaga dan dirawat sebaik mungkin. Tapi dengan gelar itu pula ternyata mansuia merusak dan mengeksploitasi anamat yang sudah Allah berikan. Gelar khalifah yang sudah Allah berikan jelas-jelas disalahgunakan, apalagi gelar yang hanya disematkan oleh manusia. Makhluk tempatnya salah dan lupa.

Oleh karena itu, gelar yang disematkan oleh manusia jika dioptimalkan dengan baik dan digunakan untuk menjalankan, mentaati dan mengimani gelar yang sudah Allah berikan maka bukan tidak mungkin predikat cumlaude itu akan didapatkan. Allahu’alam. [Zah]

--------
Terbit di buletin alrasikh.uii.ac.id edisi/Jum'at, 06 Feb 2015



Keutamaan Membaca Alquran

REPUBLIKA.CO.ID.- Siapa pun yang berinteraksi dengan Alquran dengan baik pasti akan mendapatkan pahala yang besar dan balasan yang berlipat-lipat. Orang yang membaca, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan isinya akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT.

Berikut ini beberapa keutamaan membaca Alquran. Pertama, menjadi perniagaan yang tidak akan merugi. Allah berfirman: "Sesungguhnya orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi." (QS al-Fathir: 29).

Kedua, merupakan amal yang terbaik. Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya." ( HR Bukhari).

Ketiga, mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah bersabda: "Orang yang membaca Alquran dengan mahir akan bersama-sama malaikat yang mulia lagi taat (HR Bukhari dan Muslim).

Keempat, mendapat sakinah (ketenangan jiwa) dan rahmat (kasih sayang). Rasulullah bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Alquran kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat serta diliputi oleh malaikat serta Allah sebut di hadapan malaikat (sisi-Nya)." (HR Muslim).

Kelima, mendapat sebaik-baik anugerah Allah SWT. Rasulullah bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Barang siapa yang sibuk dengan Alquran dan zikir dari meminta-Ku, aku akan memberikan kepadanya sebaik-baik anugerah-Ku. Keutamaan kalamullah (Alquran) atas kalam-kalam selainnya seperti keutamaan Allah atas semua makhluk-Nya." (HR Tirmidzi)

Keenam, seperti buah utrujah yang wangi dan lezat. Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang beriman yang membaca Alquran seperti buah utrujah; aromanya wangi dan rasanya lezat, perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Alquran itu seperti kurma; tidak beraroma tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran itu seperti buah raihanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah handhalah (semacam labu) ; tidak beraroma dan rasanya pahit." (HR Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, mendapat kebaikan berlipat ganda. Rasulullah bersabda: "Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah baginya satu kebaikan. Satu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).

Kedelapan, memberikan syafaat ketika hari kiamat kelak. Rasulullah bersabda: " Bacalah Alquran, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan memberikan syafaat kepada pembacanya." (HR Muslim).

Dengan memahami beberapa keutamaan membaca Alquran di atas, semoga kita terinspirasi dan bersemangat dalam menjaga rutinitas kita dalam membaca Alquran. Semoga Allah merahmati kita semua dengan wasilah Alquran yang kita baca.

Oleh: Ahmad Syaiful Anam

Saling Menasihati dalam Kebaikan

Fenomena saling menyalahkan, merasa yang paling benar, serta senang melihat kesengsaraan yang dihadapi oleh sesamanya merupakan penyakit yang harus segera dihilangkan. Manusia merupakan makhluk sosial yang terikat dan bersaudara antara satu dan yang lainnya. Maka, berbuat kebaikan kepada siapa pun menjadi mutlak dilakukan untuk menciptakan hubungan antara sesama manusia yang humanis.

''Demi masa. Sesungguhya, manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.'' (QS Al-Ashr [103]: 1-3).

Seseorang akan merasa beruntung bila ia menggunakan waktunya untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Memang, alangkah indahnya bila kehidupan kita sudah disemarakkan dengan semangat saling menasihati. Betapa tidak? Setiap orang butuh keselamatan. Selamat dari kerusakan, kebodohan, kecelakaan, kekurangan, kelalaian, dan kesalahan. Bentuk cinta dan kasih seseorang terhadap yang lainnya adalah dengan menasihati supaya tidak terjun dalam kubangan kesalahan dan dosa.

Seorang Muslim tidak akan rela melihat saudara se-Muslim lain berbuat kesalahan yang dapat menjauhkan dirinya dari pertolongan syariat.

Makna dari nasihat adalah 'menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran', yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan perbuatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan mengajaknya untuk tidak melakukan perbuatan yang malah dapat menjauhkan diri dari-Nya.

Merupakan tugas setiap Muslim baik perempuan maupun laki-laki untuk saling menasihati seperti dalam firman-Nya, ''Dan, hendaklah ada dari antara kamu segolongan umat yang berseru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan, merekalah orang-orang yang beruntung.'' (QS Ali Imran [3]: 104).

Namun demikian, terkadang banyak yang mau menasihati orang lain, memberikan koreksi, bahkan mengkritik. Tapi, sayangnya, ketika ia sendiri yang dikoreksi dan dinasihati, terkadang sulit sekali untuk berlapang dada menerimanya.

Nasihat yang baik yang boleh kita sampaikan adalah nasihat yang benar, mengandung muatan positif, dan tentunya penuh makna serta manfaat bagi semua orang, yaitu mengajak pada kebajikan dan menjauhi kemungkaran yang berdasarkan Alquran dan sunah.

Dan, bukanlah sebaliknya, menganjurkan kemungkaran dan melarang untuk mengerjakan kebajikan. Apa pun yang kita sampaikan jika itu benar, alangkah baiknya bila cara menyampaikannya pun benar.

Dengan nasihat, kita harus membantu yang lupa agar menjadi ingat, membantu yang lalai agar menjadi semangat, yang tergelincir menjadi bangkit kembali, yang berlumur dosa menjadi bertobat. Intinya, kalau dilandasi niat yang baik, tentu akan melahirkan kebaikan pula.

Oleh : Darul Qotni Abbas

Cara Nabi Membalas Hinaan

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling mulia akhlaknya, sampai-sampai Allah SWT memujinya dan mengabadikan pujiannya tersebut dalam Al quran, "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur". Pertanyaannya, pantaskah manusia yang dipuji Allah SWT dalam Alquran akan melakukan kekejian atau kehinaan yang selama ini sering disematkan oleh musuh-musuh Beliau?

Jawabannya, tentu tidak. Hanya, biasanya orang menghina orang lain dilatarbelakangi beberapa motif. Pertama, orang biasanya menghina orang lain karena tidak tahu hakikat orang yang dihinanya, bagaimana kondisi sebenarnya orang yang dihina tersebut, dan seperti apa sepak terjang dia yang sesungguhnya.

Kedua, orang biasanya menghina orang lain karena benci, iri, dengki, dan perasaan buruk lainnya karena ia tidak memiliki atau tidak seperti orang yang dihinanya tersebut. Ketiga, seseorang biasanya menghina orang lain karena orang yang dihina memang melakukan hal-hal hina.

Di antara ketiga motif di atas hanya motif ketiga yang tidak mungkin menjadi penyebab kebencian seseorang kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, kemungkinannya hanya dua motif pertama yang menjadi penyebab seseorang menghina Nabi Muhammad SAW.

Pertama, orang bisa menghina Nabi Muhammad karena ia tidak tahu Nabi Muhammad yang sebenarnya. Kedua, orang juga bisa menghina Nabi Muhammad karena benci terhadap Beliau. Penyebab kebenciannya bisa bermacam-macam, bisa karena iri dengan pencapaian Beliau.

Dalam kisahnya, serombongan orang-orang Yahudi mengunjungi Nabi Muhammad SAW dan mengucapkan, "Kecelakaan bagimu (Muhammad)." Aisyah, istri Nabi yang ada di dekatnya tidak terima suaminya didoakan tidak baik oleh rombongan tersebut. Ia kemudian membalasnya, "Kecelakaan dan laknat Allah bagi kalian." Mendengar balasan Aisyah tersebut, Nabi menenangkan istrinya, "Santai saja wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai kasih sayang dalam setiap hal."

Aisyah mengingatkan Nabi tentang apa yang diucapkan orang-orang Yahudi yang menghinanya, "Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan tentangmu wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Aku sudah menjawabnya: Dan juga bagi kalian."

Sangat singkat jawaban Nabi terhadap orang-orang yang menghinanya, "Dan juga bagi kalian." Bukan hanya tidak menjawab lebih, Nabi juga melarang orang lain termasuk orang tersayangnya untuk membalas lebih dari apa yang dilakukan oleh orang yang menghinanya.

Alasannya tidak lain karena seperti sabda Beliau, "Ampunilah kaumku ya Allah! Sesungguhnya mereka (menghina/menyakitiku) karena tidak tahu."

(sumber: Republika edisi Jumat, 16 Januari 2015 Hal. 25 Oleh Abdul Syukur)


10 Jenis Sholat yang Tidak Diterima Allah

RASULULLAH saw bersabda: “Islam dibangun di atas lima hal; bersaksi bahwa tidak ada sesembahan  yang berhak disembah dengan benar kecuali Allâh  dan Nabi Muhammad adalah utusan Allâh, menegakkan shalat….”  (HR Bukhâri dan Muslim).

Seorang Muslim tentu sudah paham betul bahwa sholat merupakan tiang dari dien ini. Oleh karena itu, ketika muadzin mengumandangkan adzan, kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi rumah-rumah Allâh Ta’ala, mengambil air wudhu, kemudian berbaris rapi di belakang imam shalat mereka. Mulailah kaum muslimin tenggelam dalam dialog dengan Allâh Ta’ala dan begitu khusyu’ menikmati shalat sampai imam mengucapkan salam. Dan setelah usai, masing-masing kembali pada aktifitasnya.

Imam Hasan al-Bashri rahimahullâh pernah mengatakan: “Wahai, anak manusia. Shalat adalah perkara yang dapat menghalangimu dari maksiat dan kemungkaran. Jika shalat tidak menghalangimu dari kemaksiatan dan kemungkaran, maka hakikatnya engkau belum shalat”.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw juga bersabda: “Barang siapa yang memelihara sholat, maka sholat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara sholat, maka sesungguhnya sholat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya.” (Tabyinul Mahaarim).

Kemudian Rasulullah saw juga bersabda bahwa tanda 10 orang sholatnya tidak diterima oleh Allah swt, di antaranya adalah :

1. Lelaki yang sholat sendirian tanpa membaca sesuatu.
2. Lelaki yang mengerjakan sholat tetapi tidak mengeluarkan zakat.
3. Lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.
4. Lelaki yang melarikan diri.
5. Lelaki yang minum arak tanpa mau meninggalkannya (taubat).
6. Perempuan yang suaminya marah kepadanya.
7. Perempuan yang mengerjakan sholat tanpa memakai tudung.
8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.
9. Orang-orang yang suka makan riba.
10. Orang yang sholatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan munkar.

Sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang sholatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya sholatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah swt dan jauh dari Allah.”

Hassan r. a berkata : “Kalau sholat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan sholat. Dan pada hari kiamat nanti sholatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk.”

Sumber : www.islampos.com


Awan dan Angin dalam Kacamata Al-Quran

“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah mengarak awan kemudian mengumpulkan di antaranya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah menurunkan es dari langit, dari gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Hampir-hampir saja kilauan kilatnya menghilangkan penglihatan” (Q.S. An-Nur: 43).

Allah menjadikan angin sebagai perantara turunnya hujan. Sedemikian rapi Allah ciptakan awan, angin dan hujan untuk kepentingan manusia seluruhnya, baik dia Muslim atau kafir sekali pun, hingga manusia dapat menikmati anugerah Allah ini dengan bebas. Bagaimana proses turunnya hujan dan rahasia apakah yang Allah ungkap dalam ayat berikut ini?

Para Ulama tafsir mengatakan: “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah mengarak awan” dengan sangat lembut dan mudah “kemudian mengumpulkan di antara bagian-bagiannya yang ringan itu kemudian menjadikannya bertindih-tindih sehingga menjadi berat, maka engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah menurunkan es dari langit, dari gunung-gunung yang demikian banyak yang besarnya bagaikan gunung-gunung."

Riset ilmiah yang dilakukan oleh antariksawan dunia saat ini menjelaskan kepada kita tentang pembentukan hujan es di awan. Mereka berpendapat bahwa awan dibentuk oleh angin yang mendorong bahkan bertemu dengan awan lagi, sehingga memenuhi awan satu sama lain oleh arus udara yang disebut pembauran aliran untuk membentuk awan cumulus.

Ketika awan cumulus naik beberapa kilometer, maka tampak di langit gunung-gunung es. Kemudian, dengan bantuan angin, mulailah titik-titik es tersebut turun ke bumi, sebagian masih tetap di atas awan dan sebagian lagi meleleh sebelum mencapai tanah. Para ilmuwan mengatakan bahwa awan cumulus inilah satu-satunya awan yang menghasilkan dingin dan mengandung aliran listrik.

Jika kita perhatikan, apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an sesuai dan tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan modern dan penemuan para ilmuwan tentang angin dingin dan peran angin dalam pembentukan awan cumulus.

Sementara, aliran lisrik terbentuk pada awan yang mengandung angin dingin. Para ilmuwan juga berpendapat bahwa angin dingin tidak terdapat kecuali pada awan cumulus yang timbulnya ke atas. Oleh karena itu, firman Allah SWT “Maka engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah menurunkan es dari langit, dari gunung-gunung” ini adalah sisi ilmiah mukjizat Al-Qur’an.

Sumber : http://www.rumahruqyah.com/


Kembar 3, Semunya Hafal Al-Quran

Sungguh beruntung orang tua mereka. Perjuangan berat sang ibu melahirkan bayi kembar tiga, perjuangan membesarkan serta mendidik tiga anak sekaligus, kini berbuah manis. Bayi kembar tiga itu telah tumbuh menjadi pemuda-pemuda shalih. Yang istimewa, mereka bertiga kini hafal Al Qur’an.

Orang tua patut bangga dengan anak-anak yang hafal Qur’an seperti ini, sebab mereka adalah keluarga Allah di muka bumi. Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah:

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia” Sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits yang lain, disebutkan bahwa para penghafal Qur’an mendapatkan banyak keistimewaan dari Allah. Diantaranya, orang tuanya diberi pakaian indah yang lebih baik daripada dunia dan seisinya.

“Kemudian kedua orang tuanya dipakaikan pakaian yang lebih indah daripada dunia dan seisinya.” Mereka bertanya,”Apa yang menyebabkan kami mendapatkan hal ini ?” Maka dikatakan kepada keduanya,”Karena anak kalian berdua hafal Al-Qur’an.” (HR. Thabrani dan Baihaqi). Hanya saja sebagian ulama menilai hadits ini dhaif.

Lalu, siapa tiga pemuda kembar yang hafal Qur’an dalam foto tersebut? Hanan, Manan dan Ihsan. Demikian nama mereka seperti dirilis rumahruqyah.com. Namun, tidak disebutkan lebih detil identitas mereka dan siapa orang tua yang beruntung memiliki putra-putra hafidz tersebut.

Di laman kesukaan Damai Indonesiaku Online, puluhan ribu pengguna Facebook memberikan apresiasi kepada tiga pemuda kembar yang hafal Qur’an tersebut. Banyak pula yang berharap anak-anaknya kelak bisa hafal Qur’an seperti ketiganya.

“Subhanallah… semoga allah memberiku anak kembar, karena suamiku juga kembar. Dan semoga anak-anakku juga menjadi penghafal alqu’ran,” kata Yetti Suhariani.

“Yaa Rabbanaa, karuniakanlah juga kepada kami keturunan-keturunan yangg sholeh dn sholehah, yang menghafal Al-QuranMu, dan memahami isi kandungannya serta mengamalkannya… Aamiin…,” tulis Rina Mulyana.

“Subhanallah.. moga anakku kelak seperti mereka, amin,” tambah Andi Yuandana.

Sumber : http://www.rumahruqyah.com/



Inilah Khasiat Surat al-Fatihah

foto diambil dari google
Semua surat dalam al-Qur’an adalah istimewa. Penyebutan khasiat dalam judul tulisan ini bukan berarti menafikan khasiat surat yang lain. Melainkan penegasan bahwa ada surat-surat tertentu yang Allah Ta’ala pilih dan memiliki khasiat khusus yang tidak dimilki oleh surat yang lainnya.

Tentunya, penyebutan ini hendaknya membuat seorang hamba semakin mencintai al-Qur’an dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan mempraktekkannya.

Di dalam “Tata Cara Pengobatan Ala Nabi”, Ibnul Qayyim al Jauziyah menjelaskan khasiat surat al-Fatihah sebagai berikut:

1. Surat al-Fatihah mencakup semua makna kitab-kitab Allah Ta’ala dan mengandung Nama-nama Tuhan dan sifatnya yang mendasar, yaitu Allah, Rabb, ar-Rahman dan ar-Rahim.

2. Surat al-Fatihah mengandung penetapan tentang akhirat, penegasan tauhid, dan butuhnya makhluk kepada Allah Ta’ala dalam meminta pertolongan serta petunjuk.

3. Surat al-Fatihah merupakan doa yang paling utama, paling berkhasiat dan paling bermanfaat.

Doa inilah yang amat dibutuhkan oleh hamba-hamba-Nya, sebentuk permohonan agar diberikan jalan yang lurus, yaitu jalan yang mengandung pengetahuan, tauhid, dan penghambaan makhluk kepada Sang Khalik dengan sempurna.

4. Di dalam surat al-Fatihah terdapat tiga golongan manusia.

Pertama, manusia yang diberikan nikmat; mengetahui kebenaran, mengamalkan, mencintai, dan menghargai nikmat tersebut. Kedua, manusia yang dimurkai; mereka yang menyimpang dari kebenaran setelah mengetahuinya. Ketiga, manusia yang sesat; manusia yang tidak mengetahui kebenaran dan enggan mencarinya.

5. Tujuh makna yang terkandung di dalam surat al-Fatihah.

a). Pengukuhan qadar dan syara’ b). Nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala. c). Tempat kembali dan nubuwat. d). Penyucian jiwa. e). Perbaikan hati. f). Penyebutan kebaikan Allah Ta’ala. g). Penolak terhadap semua pelaku bid’ah dan pelaku kebatilan.

6. Surat al-Fatihah bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan dapat digunakan sebagai ruqyah bagi orang yang terkena segatan.

7. Surat al-Fatihah merupakan keikhlasan dalam beribadah, pujian kepada Allah Ta’ala, penyerahan segala urusan kepada-Nya, permohonan kepada-Nya, tawakkal kepada-Nya, dan permintaan atas semua nikmat kepada-Nya.

8. Surat al-Fatihah merupakan sebuah hidayah yang dapat mendatangkan segala kenikmatan dan menolak semua bentuk kemurkaan.

Inilah di antara khasiat surat pertama dalam al-Qur’an tersebut. Surat yang disebut Ummul Kitab, Sab’ul Matsani, dan nama-nama berkah lainnya. Beruntungnya, bagi kita kaum muslimin yang rajin mendirikan shalat, surat al-Fatihah ini otomatis dibaca minimal tujuh belas kali dalam sehari.

Dengan demikian, semoga khasiatnya bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat untuk kehidupan akhirat.

Sumber : http://bersamadakwah.net/


Abu Thalhah; Lalai dalam Shalatnya

Suatu ketika Abu Thalhah ra shalat di kebunnya. Tiba-tiba seekor burung terbang di antara pepohonan. Burung itu terbang kesana kemari. Lalu masuk ke dalam rerimbunan daun yang lebat dan terjebak disana.

Melihat hal ini perhatian Abu Thalhah ra terarah pada tingkah laku burung tersebut sehingga ia lupa jumlah rakaat yang telah ia lakukan. Ia sangat kesal atas hal ini. Ia sadar karena kebunnyalah ia menjadi lalai dalam shalatnya. Dan bagi Abu Thalhah itu merupakan musibah baginya.

Seusai shalat, ia langsung menjumpai Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan semua kejadian tersebut. Lalu ia berkata, “ Ya Rasulullah, kebunku ini telah menyebabkan saya lalai dalam shalat. Oleh karena itu saya sedekahkan kebun ini fî sabilillâh. Gunakanlah sekehendakmu.”

Peristiwa semacam ini juga pernah terjadi pada masa Khalifah Ustman ra. Ketika seorang anshar sedang shalat di kebun kurmanya, matanya terus memandang ke arah kurma yang sedang berbuah lebat. Hatinya senang karena panennya akan bagus. Perhatiannya kepada kurma tersebut menyebabkan ia lupa jumlah rakaat yang telah dilakukannya. Hatinya menjadi sedih. Ia sadar bahwa karena kebunnyalah ia ditimpa musibah dalam shalatnya.

Ia segera menemui Khalifah Ustman ra. dan berkata, “Ya Amirul Mu’minin, saya infakkan kebun ini fi sabilillah. Gunakan sekehendakmu.” Kebun itu akhirnya dijual seharga 50 ribu dirham, dan hasilnya digunakan fi sabilillah. ( Himpunan Fadhilah Amal : 70)

Refleksi
Sungguh luar biasa para sahabat menjaga kualitas shalat mereka. Hal ini dikarenakan kesadaran yang sempurna akan hakikat shalat. Begitu pentingnya shalat sehingga shalat disebutkan pada urutan kedua setelah iman.

Mari kita mengingat hadis Nabi saw dari Abu Hurairah ra, “Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika baik shalatnya maka ia akan beruntung dan selamat. Dan jika buruk shalatnya maka ia akan merugi. Jika ditemui ada kekurangan pada shalat fardhunya maka Rabb (Allâh SWT) akan berkata (kepada malaikat), ”Lihatlah apakah hambaKu memiliki amalan shalat sunah?” Maka kekurangan shalat fardhu akan disempurnakan dengan shalat-shalat sunah. Kemudian amal-amal lainnya akan dihisab seperti itu. (Tirmidzi)

Coba perhatikan shalat kita. Tidak terhitung berapa kali kita lupa rakaat dalam shalat. Alih-alih bersedih dengan “lupa rakaat” shalat, seringkali kita justru menunda shalat karena urusan dunia. Atau bahkan meninggalkan shalat. Astaghfirullahal ‘adzim.

Kita merasa terlalu sibuk sehingga shalat kita terabaikan. Padahal shalatlah yang pertama kali akan dihitung pada hari kiamat.

Dalam konteks berharganya shalat, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barang siapa yang terlepas satu shalatnya, seolah-olah ia telah kehilangan seluruh keluarga dan hartanya. (Ibnu Hibban-At Targhib).  

Kedua kisah di atas selayaknya menyentil hati kita. Mari memperbaiki Shalat. Sholat tidak lagi dikerjakan ketika ”sempat”. Melainkan menjadi amalan utama yang harus paling kita perhatikan.

Bagi yang sudah menjalankan shalat lima waktu, mari kita perbaiki lagi, dengan menjaga shalat di awal waktu. Kemudian kita tingkatkan lagi dengan shalat sunah dan amalan ibadah lain.

Dengan demikian peran shalat dalam mencegah kemunkaran dapat menjadi nyata dalam kehidupan kita. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut : 45) Dalam skala yang lebih luas, Shalat dapat memperbaiki moral bangsa yang kian terpuruk. Allahua’lam.

Sumber : Kompas

Anjing Tunisia; Antara Mazhab Syafii Vs Mazhab Maliki

Salah satu yang membedakan antara Indonesia dan Tunisia adalah anjing.

Di Indonesia, karena mayoritas bermadzhab Syafi'i, yang menganggap anjing adalah najis, maka jarang ditemui anjing berkeliaran bebas.

Anjing diburu, dilempar batu, kalau perlu dibunuh karena berkeliaran di kawasan muslim.

Sementara di Tunis, yang mayoritas penduduknya bermadzhab Maliki, menganggap bahwa anjing itu suci, sehingga banyak yang memelihara dan membiarkannya bebas. Ia menjadi penjaga rumah dan dipelihara seperti halnya orang indonesia memelihara kucing.

Namun ada yang membedakan antara anjing di Indonesia dan anjing di Tunisia. Anjing di Indonesia galak-galak, melewati satu dua ekor anjing saja, kita perlu merapal doa-doa agar tidak digigit, plus membawa batu.

Di sini anjingnya jinak2. Meski berjalan melewati 10 ekor anjing sekalipun, biasa saja. Ia tidak menyalak, menggigit dan mengejar. Ternyata, anjing madzhab Syafi'i berbeda dengan anjing madzhab Maliki..he..he.

Saya tidak bermaksud memelihara anjing, tetapi menurut saya, Malikiyyah lebih "memanusiakan anjing", sehingga anjing pun menghormati manusia siapapun, bukan hanya tuannya.

Saya jadi teringat cerita Ashabul Kahfi dlm al-Qur'an (Surat al-Kahfi 9-26), yang tertidur lebih dari 300 th ditemani seekor anjing bernama Qitmir, ada pula hadis Rasulullah yang menceritakan seorang pelacur masuk surga gara2 memberi minum seekor anjing.

Mengapa harus anjing yang dijadikan sample dalam al-Qur'an dan Hadis, mengapa bukan binatang lainnya???? Jangan...jangan..

Menurut Maliki, air liurnya tidak najis, namun kalau dijilat memang harus dicuci 7 kali. Pencucian 7 kali tersebut karena ta'abbudi saja, menjalankan perintah Rasul, tapi bukan karena najisnya.

Ta'abbudi itu berarti kita menjalankan perintah Allah karena dasar ibadah dan tidak perlu dilogika.

Maka bagi Maliki, kewajiban mencuci 7 kali ketika dijilat anjing itu adalah ta'abbudi, tidak perlu dilogika dan diambil kesimpulan lain.

Sedangkan menurut Syafi'i, perintah membasuh 7 kali itu berarti ada sebabnya, yaitu najis, dan kalau air liurnya najis berarti seluruh badannya juga najis, karena air liur bercampur dengan darah dan menjadi daging dan bulu. Syafi'i pakai logika dalam hal ini, ta'aqquli atau illat al-ahkam.

diambil dari postingan Facebook Ust. Muh. Roy

Hak Anak Yatim

Kewajiban pemenuhan hak berlaku hingga baligh.

Sebelum memaparkan apa saja hak yang wajib dipenuhi untuk anak yatim, Prof Fahd bin Abdurrahman as-Suwaidan dalam artikelnya berjudul, Min Huquq al-Yatim fi al-Islam, menggarisbawahi tentang siapa yang dimaksud yatim.

Menurut definisi syariat, yatim ialah mereka yang tidak memiliki ayah di usia sebelum baligh. Ini sesuai dengan hadis Rasulullah yang menyatakan, bukan termasuk yatim bila telah memasuki usia baligh, sekalipun ulama berselisih pandang terkait usia berapakah seseorang dikategorikan bukan yatim lagi. Ini bisa dirujuk dalam kajian fikih.

Sedangkan, soal hak-hak yatim yang wajib dijaga dan dipenuhi oleh pengasuhnya atau orang yang bertanggung jawab terhadap nasibnya. Kewajiban memenuhi hak tersebut berlaku hingga si yatim memasuki usia akil baligh.

Hak yang dimaksud tersebut, yaitu, pertama, larangan untuk membelanjakan harta yang ia miliki di luar tujuan kemaslahatannya. Ini sesuai dengan ayat: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. al-An'am [6]: 152).

Kedua, larangan menganiaya dan berbuat zalim terhadap yatim, apa pun bentuknya, baik dari segi ucapan maupun perbuatan. Dalam surah ad-Dhuha, Allah SWT melarang berbuat kasar terhadap yatim.

Misalnya, menghardik, mencaci maki, dan menindas mereka. Perbuatan semacam ini dikategorikan sebagai bentuk pendustaan terhadap agama.

Ketiga, hak mereka untuk mendapatkan kehidupan yang layak meliputi sandang, pangan, papan, dan pendidikan. Dalam surah al-Insan ayat 8, Allah menegaskan pentingnya memberi makan kepada anak yatim.

Demikian juga, seruan untuk melindungi mereka seperti termaktub dalam surah ad-Dhuha ayat 6. “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.”

Keempat, ialah hak anak yatim terhadap jatah warisan mereka. Bagian harta waris yang ia terima tersebut wajib dijaga oleh pengasuh atau penanggungjawabnya.

Harta tersebut harus dikembalikan kepada si yatim saat ia telah dewasa. Ini seperi tertuang dalam kisah Nabi Khidir saat menolong dua anak yatim. Cerita itu ada dalam surah al-Kahfi ayat 82.

Dan, kelima, secara garis besar, hak yang mesti diterima oleh yatim ialah perlakuan baik. Anak yatim merupakan ladang untuk menuai kebaikan.

Maka, sepatutnyalah mereka terhindar dari segala bentuk sikap dan perbuatan keji yang ditujukan untuk mereka. “Dan berbuat kebaikanlah kepada ibu-bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim.” (QS al-Baqarah [2]: 83).

Ladang Kebajikan
Keberadaan anak yatim di tengah-tengah masyarakat, ungkap Prof Fahd, adalah ladang kebajikan dalam Islam. Hal ini hanya bisa diketahui oleh mereka yang hati nuraninya jernih. Para yatim tersebut di mata Allah SWT adalah salah satu faktor pemicu kebahagiaan yang diperuntukkan untuk hamba-Nya.

Kebahagiaan itu diperoleh bagi mereka yang menyantuni anak yatim dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang. Kepedulian dan perhatian yang diberikan itu akan mengalihkan kesedihan yatim yang bersangkutan akibat kehilangan ayah atau orang tua.

Berangkat dari fakta inilah, Islam kata Prof Fahd, menekankan pentingnya merangkul anak yatim sebagai bagian tak terlepaskan dari komunitas masyarakat. Bahkan, secara tegas agama mengaitkan kepeduliaan dan sikap acuh tak acuh sebagai tolok ukur pendustaan seseorang terhadap nilai dan prinsip-prinsip agama.

Ini seperti tertuang dalam surah al-Ma'un ayat 1-2: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim.” Penegasan pentingnya memperhatikan nasib dan kondisi anak yatim tak hanya tertumpu pada surah al-Ma'un. Ini terlihat pula dari pengulangan kata yatim sebanyak 23 kali dalam Alquran.

Kesekian ayat tentang anak yatim yang ada dalam Kitab Suci tersebut, berkutat pada lima poin penting, yaitu menjauhkan malapetaka dari yatim, mendatangkan manfaat dalam hartanya, begitu pula jiwanya, dan saat menghadapi mahligai pernikahan. Ayat-ayat tersebut juga menekankan seruan berbuat baik untuk si yatim dan memperhatikan aspek kejiwaan mereka.

Kepedulian terhadap yatim, merupakan tradisi yang telah mengakar di kalangan umat Islam sepanjang sejarah. Bahkan, santunan dan pengayoman terhadap mereka menjadi kebijakan negara.

Pada era pemerintahan Dinasti Mamluk, misalnya. Dinasti yang bercokol di Mesir tersebut memerintahkan bawahannya untuk memberikan paket pakaian lengkap berikut alas kaki, baik ketika musim panas maupun saat musim dingin.

Sewaktu Shalahuddin al-Ayyubi berkuasa, ia menginstruksikan pengelolaan lembaga dengan sejumlah pembina khusus yang fokus mengajar anak yatim. Ia juga membiayai dana operasional lembaga itu berikut biaya hidup mereka.

Seorang petualang Muslim, Ibnu Jabir, menuturkan, kala ia bertandang ke Damaskus, Suriah, ia melihat satu lembaga besar. Institusi swasta tersebut mengurusi anak yatim, mulai dari aspek pendidikan dan kehidupan mereka sehari-hari.

Sumber : Republikaonline (ROL)

Yuk Ngaji Lagi....

Beberapa minggu yang lalu, saya dan teman-teman sempat diminta salah satu sekolah negri untuk ‘ngajar ngaji’ (membaca al-quran) ditingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Untuk lembaga sekolah yang dimaksud sengaja kami sembunyikan identitasnya.

Para guru mengeluhkan bahwa anak muridnya kebanyakan belum bisa mengaji. Ditambah lagi, dari depag ada peraturan baru, yaitu untuk kenaiakan tingkat dari kelas tujuh ke kelas delapan mereka harus sudah ‘bisa’ mengaji. Kami diminta mengajar seminggu sekali, tepatnya setiap hari kamis pukul dua sore.

Awal ketika kami tes, murid-murid bilanganya secara serentak bisa, katanya. Tetapi begitu diminta untuk membaca ayat yang kami tunjukan, hanya beberapa saja yang bacaanya sudah baik dan benar, selebihnya masih banyak yang salah. Inilah fenomena saat ini, sudah usia di atas 12 tahun belum bisa mengaji.

Miris memang, tetapi sebagai kakak, pembimbing, guru atau orangtua, maka tugas kita yaitu terus mengajari mereka sampai betul-betul bisa membaca alquran. Agar adik-adik ini pintar dan cepat bisa, maka kegiatan mengaji ini harus dilakukan setiap hari (pembiasaan). Usahakan waktunya sehabis shalat magrib, karena waktu menjelang Isya ini cukup pendek, atau jika tidak bisa silakan cari waktu yang enakanya kapan saja.

Metode pembiasaan merupakan cara tercepat untuk mengingat dan mengenal huruf. Sehingga akan cepat dan mudah untuk membaca alquran dengan baik dan benar. Proses ini sudah terbukti dan digunakan tempat pengajian kampung-kampung. Meski yang dipelajari hanya sedikit, tetapi karena terus diulang akhirnya cepat bisa.

Lain halnya dengan hanya seminggu sekali, tentu akan lebih sulit. Selain lambat, pelajaran yang ditangkap juga menjadi faktornya. Bahkan, pelajaran yang sudah ia dapatkan di minggu kamarin akan lupa ketika berjumpa di pertemuan hari ini. Belum lagi ditambah dengan rasa malas, hal itu semakin menambah daftar kesulitan yang dijalani.

Dua Metode
Dalam ‘belajar ngaji’ ada dua metode yang digunakan. Keduanya sudah terbukti ampuh dan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bukan kekeurangan lebih tepatnya, tetapi lebih didasarkan kepada sifat ‘malas’nya orang zaman sekarang. Toh metode itu sudah betul-betul ampuh dan teruji.

Pertama, Metode Baghdadiyah. Metode ini menggunakan buku sendiri, bentuknya tipis terdiri dari pengenalan huruf (tanpa syakl), kemudian huruf berharokat pisah-pisah, setelah itu baru huruf berharokat dan bersambung, dan biasanya kalau sudah melewati tahap tersebut langsung ke juz amma.

Metode ini lebih menitikberatkan kepada metode eja. Metode yang menyebutkan huruf dan sekaligus harokatnya (tanda bacanya) ini, terbukti lebih sulit, kata orang zaman sekarang. Tetapi, dari unsur pengenalan huruf, jenis dan bentuknya lebih melekat kuat dalam ingatan. Tak hanya itu, pelajaran tajwid dan panjang pendek bacaan pun bisa mudah dimengerti.

Meskipun pelajaran tajwid itu ada waktunya sendiri waktunya. Bahkan ‘parukunan’ (belajar sholat) itu juga ada waktunya sendiri. Biasanya langsung dipimpin oleh guru ngaji dan diikuti oleh santri-santrinya.

Setiap murid yang sudah dianggap lancar, baik dan benar bacaanya akan mengajari yang belum bisa, setelah semuanya selesai mengaji maka giliran dirinya yang mengaji ke guru ngaji. Ia betul-betul lulus kalau sudah selesai khatam satu alquran, atau 30 juz. Pengesahan itu diberikan oleh guru ngaji sendiri, bukan oleh dirinya sendiri.

Kedua, Metode Iqra. Metode ini diperkenalkan oleh tim dari MM-Yogyakarta. Metode ini menggunakan jenjang bertahap, dari tahap satu hingga tahap enam. Tiap-tiap tahapan memiliki tolak ukur yang jelas, ada penilaian indicator yang jelas.

Siapa yang belajar iqra pasti akan lebih cepat bisa membaca, tapi kelemahannya ialah pengenalan hurufnya kurang kuat. Kebanyakan orang yang sudah menyelesaikan iqra tahap enam, sudah merasa bisa membaca al-quran, sehingga ia enggan untuk melanjutkan ke tahap yang lebih tinggi, yaitu al-quran.

Apapun metodenya asalakan tekun dan terus mengulang pasti bisa. Begitu dianggap bisa, maka jangan pernah berhenti membaca alquran. Silakan cari guru yang lebih fasih dan lebih aqra' dalam membacanya. Pelajari juga Makharijul huruf, Shifatul huruf, Ahkamul huruf, Ahkamul maddi wal qasr, dan Ahkamul waqaf wal ibtida’.

Di tempat saya sendiri, motivasi anak untuk ‘ngaji’ khususnya usia menjelang dewasa (sudah masuk SLTP) sangat kurang. Hanya beberapa orang tua saja yang sadar dan peduli akan pentingnya pendidikan agama ini. Padahal ini adalah modal untuk mereka suatu hari nanti, terlebih untuk dirinya sendiri dan syukur bisa diajarkan kepada orang lain.

#YukNgaji…

Penulis : Amir Hamzah

Ber-Qurban Dengan Perasaan

Tujuan menyembelih hewan pada bulan Dzulhijah, ialah menyembelih sifat kehewaniahan yang terdapat pada diri manusia. Inilah makna mazaji dari ibadah yang satu ini. Tetapi tak hanya itu, tujuan menyembelih hewan juga merupakan bentuk ketaatan/kepatuhan manusia kepada sang khaliq atas apa yang sudah diperintahkan dalam al-Qur’an.

Lalu bagaimana bagi yang tidak mampu untuk menyembelih? Salah satu khotib jum’at beliau menyampaikan bahwa dibolehkan berhutang kepada siapa saja yang tidak mampu untuk berqurban. Tetapi jangan khawatir, saat ini ada yang namanya arisan qurban dan ini merupakan cara alternatif yang diperbolehkan oleh agama. Jika dirasa berhutang itu sangat berat.

Saat ini tidak ada yang sulit jika kita punya kemauan dan kerja keras. Tetapi jika betuli-betul miskin dan tidak punya, maka tidak diwajibkan. Toh perintah ini diwajibkan bagi mereka yang mampu dan berkecukupan. Bagi yang tidak mampu silakan ‘iri’ dengan mereka dapat melaksanakan berqurban. Tetapi iri yang dimaksudkan di sini ialah iri yang positif dan berorientasi kepada kebaikan.

Dengan merasa iri yang baik, dan berkeinginan kuat akhinya ia berniat untuk bisa berqurban tahun depan, dan mulai hari ini ia berjanji yntuk giat dan menabung supaya bisa berqurban. Sikap inilah yang harus kita tiru, bukan malah sebaliknya; yaitu timbul sikap iri yang pasif. Iri yang hanya bisa mengumpat dan menjelek-jelekan kebaikan orang lain, padahal dirinya belum tetntu bisa melakukannya. Hati-hati dengan sifat ini, jangan sampai dipelihara.

Berqurban Perasaan
Ketika menyaksikan orang lain bisa berkurban, sedangkan kita tidak tentu secara emosi kita merasa terbebani. Beban perasaan lebih tepatnya. berarti secara tidak langsung perasaan kita telah ikut berqurban. Bisa jadi inilah berqurban yang sesungguhnya, makna pengorbanan yang sesunguhnya adalah seperti ini. Disaat orang lain merasa mampu melakukan kebaikan, tetapi kita belum bisa, dan lain sebagainya. Yuk mari berdoa kepada Allah supaya diberikan kesempatan berkurban tahun depan.

Tidak usah khawatir dengan tidak bisa berkurban tahun ini disebabkan tidak punya uang yang cukup. Yakinlah kelak Allah akan cukupkan, dan waktunya berkurbanpun tiba. Asal kuncinya mau dan tetap berusaha untuk merealisasikanya. Ungkapan ini terkesan keluar dari orang-orang yang pesimis dan hanya untuk berapologi semata, tetapi bagi orang yang betul-betul percaya dengan kemahakuasaan allah, baginya taka da yang tak mungkin.

Boleh jadi, berkurban perasaan jauh lebih berat ketimbang berkurban dengan harta. Tak sedikit orang yang rela mengelurkan uangnya hanya untuk memperoleh ketenangan, rasa puas dan sebagainya. Tujan mereka hanya satu, yaitu ingin memuaskan perasaan yang mereka rasakan. Bisa jadi orang yang hartanya berlimpah-ruah, tetapi perasaan mereka tidak tenang.

Bahkan sebaliknya, banyak orang yang sederhana tetapi perasaan mereka tentram, tenang dan damai. Meski semuanya serba kekurangan, mereka mampu hidup dengan penuh kebahagiaan, semua kekurangan tersebut bagi mereka hanyalah perhiasan kehidupan yang hanya sesaat saja. Toh kehidupan yang sesungguhnya bukan disini, jadi tak perlu risau dan khawatir.

Orientasi Akhirat
Apapun permasalahannya, jika dikembalikan kepada sebuah hakikat tentu semuanya jadi beres. Begitu pun dengan permasalahan yang saat ini kita hadapi, tersenyum lah dan biarkan semuanya mengalir apa adanya. Masalah itu penting dan dengan masalah itu kita akan belajar akan sebuah arti kehidupan.

Semua permasalahan sejatinya adalah kenikmatan, hanya saja rasanya pahit. Seperti kita minum jamu, rasanya pahit dan cenderung tidak enak. Tetapi dibalik rasa pahit itu ternyata ada nikmat yang tiada tara. Badan menjadi sehat, kuat dan bugar. Jika kita bandingan dengan orang yang meminum anggur, rasanya manis dan wangi. Tetapi dibalik rasa manis itu justru kerusakan lah yang timbul. Pikiran tidak fokus, menjadi mabuk dan jika sudah mabuk apapun bisa saja terjadi.

Orang yang cerdas ialah orang yang berpikir jauh kedepan. Orang yang cerdas dapat dilihat dari caranya mengambil sebuah keputusan, berorientasi pendek atau jangka panjang. Sebab sesuatu yang sifatnya pendek itu tentu memiliki kemanfaatan yang singkat tetapi sebaliknya jika orientasinya jauh ke depan maka nilai kemanfaatannya lebih lama juga.

Penutup
Berqurban pada hakikatnya mudah dan sederhana. Tetapi dibalik kesederhanaan dan kemudahan tersebut ada sebuah nilai yang memiliki makna yang cukup dalam. Berkurban merupakan sebuah ibadah yang memiliki keterkaitan antara ibadah yang sebelumnya. Masih ingat dengan bulan Rajab, Syaban, Ramadhan, Syawal dan Dzul Qo’dah. Kelima bulan ini berkaitan erat dengan bulan Dzulhijah.

Isi dari keenam bulan ini bermakna sebuah penyucian, pengorbanan, penghapusan sifat-sifat hewaniyah yang terdapat dalam tubuh manusia. Dengan adanya bulan ini manusia ‘dipaksa’ untuk bisa keluar dari sifat-sifat yang buruk dan berubah menjadi manusia yang seutuhnya.

Untuk itulah pengorbanan ‘kemanusiaan’ yang sesungguhnya telah diuji. Jika ia mengaku benar sebagai manusia maka akan sadar diri, bahwa selama ini dirinya telah menjadi seekor hewan yang hanya memikirkan perut dan dibawah perut. Orientasinya hanya untuk dunia semata, bukan untuk kehidupan akhirat yang lebih abadi. Allahu’alam []

Kitab Safinah

Kitab yang populer dikalangan masyarakat terutama santri-santri dan ibu-ibu pengajian, khususnya di desa Sukasari dan Panunggulan, Serang - Banten. Isinya tentang tata cara sholat, syarat rukun, sebab boleh-tidak, dan sebabgainya.

Ketentuan-ketentuan tersebut disebutkan dengan pasal-pasal (faslun). Ilmu fiqih sederhana yang ada dalam kitab tipis ini telah diajarkan dengan baik, sehingga dengan kata lain, pemahaman shalat orang desa Sukasari dan Panunggulan cukup baik.

Dari sisi ketauhidan, kitab ini juga begitu kuat. Karena diawal pembukaanya bagaimana manusia diberikan pemahaman terkait rukun iman dan seperti apa menerapkannya. Kitab ini begitu praktis dan bisa dibaca oleh kalangan mana pun.


Masjid - Masjid Tetangga Kampung









*Note : Garis merah atau biru ialah garis yang diambil lurus dari titik Ka'bah (Masjidil haram). Sehingga dengan mudah kita dapat mengukur ketepatan arah kiblat dari masjid tersebut. Apakah melenceng terlalu jauh atau hanya sekian derajat saja. Semoga bermanfaat.

Keutamaan Membaca Al-Qur'an



عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

” مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّة؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ, وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ ؛ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ, وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ, وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ”

صحيح البخاري، برقم:(5427)، واللفظ له، وصحيح مسلم، برقم: (797)

الأُتْرُجَّةِ: هي ثمر شبه التفاحة، وهي من أحسن الثمار الشجرية وأنفسها عند العرب.

الريحانة: هي كل ما يستراح إليه، وقيل: هي كل نبت طيب الريح من أنواع المشموم.

الحنظلة: هي نبات ثمرته في حجم البرتقالة ولونها ، فيها لب شديد المرارة .

في الحديث الشريف بيان بأحوال الناس بالنسبة للقرآن فإن النبي صلى الله عليه وسلم ضرب أمثلة للمؤمن والمنافق، فالمؤمن إما أن يكون قارئا للقرآن أو غير قارئ.

فإن كان قارئاً للقرآن : فنفسه طيبة وقلبه طيب وكله خير في ذاته وفي غيره والجلسة معه خير، فهو كالأترجة ثمرة لها رائحة طيبة زكية وطعمها طيب.

أما المؤمن الذي لا يقرأ القرآن : فهو كمثل التمرة طعمها حلو ولكن ليس لها رائحةزكية كرائحة كالأترجّة، فالمؤمن القارئ للقرآن أفضل بكثير من الذي لا يقرأ القرآن ومعنى لا يقرؤه يعني لا يعرفه ولم يتعلمه.

ومثل المنافق الذي يقرأ القرآن: كمثل الريحانة لها رائحة طيبة لكن طعمها مر لأن المنافق في ذاته خبيث لا خير فيه والمنافق هو الذي يظهر أنه مسلم ولكن قلبه كافر.

والمنافق الذي لا يقرأ القرآن: ضرب النبي صلى الله عليه وسلم له مثلا بالحنظلة طعمها مر وليست لها ريح، فلا خير فيه وليس معه قرآن ينتفع الناس به هذه كانت أقسام الناس في قراءة كتاب الله فاحرصي أختي على أن تكوني من المؤمنين الذين يقرءون القرآن ويتلونه حق تلاوته حتى تكوني كمثل الأترجة ريحها طيب وطعمهاحلو.

المصدر
شروح الأحاديث النبوية من كتاب رياض الصالحين للشيخ العثيمين مع تعديل بسيط مني لتسهيل الفهم وأسال الله أن يجعلنا كالأترجة.

Sumber : http://aldda3yat.wordpress.com/2011
Editor : Hamzah