Slider

Referensi Bacaan

kajian

Buletin

Informasi

Hikmah

Ibrah

Dokumentasi

» » » Puasa; Pembuka Pintu Hidayah

Sumber  iqf.com
Diceritakan dalam manaqibnya, saat al-Syeik ‘Abd al-Qadir al-Jailani tenggelam dalam mujahadah kepada Tuhan, tiba-tiba muncul sinar cemerlang yang memenuhi cakrawala penglihatan. Sinar tersebut berkata: “Wahai Abd al-Qadir, Aku adalah Tuhanmu, setelah beribadah selama puluhan tahun, amalmu sangat banyak sehingga memehuni antara Timur dan Barat, menyesakan antara bumi dan langit, dan memberatkan timbangan mizan di akhirat. Oleh karenanya, mulai sekarang ini, Aku cukupkan ibadah kepadamu. Kamu tidak perlu beribadah lagi kepadaku, karena telah cukup amalmu”.

Mendengar perintah sinar yang mengaku Tuhan seperti itu, Abd al-Qadir berfikir sejenak, benarkah ini wahyu Tuhan khusus kepadaku, benarkah Tuhan memberiku keistimewaan untuk tidak menjalankan perintahNya? Abd al-Qadir sempat ragu, antara meyakini suara Agung nan cemerlang tersebut atau menolaknya. Hatinya yang sedang dilingkupi keterharuan merasa menerima suara tersebut, tetapi akal rasionya tidak menerimanya, mana mungkin Tuhan mencabut perintahNya untuk beribadah, sementara Muhammad Sang Nabi sendiri masih tetap diperintahkan beribadah hingga akhir hayat?

Dalam kebimbangan tersebut, Abd al-Qadir memutuskan untuk memilih akalnya, ia segera ambil terompahnya dan dilemparkan pada sinar agung yang bergulung tersebut; “Pergi, engkau adalah syetan bukan Tuhan, Tuhan tidak mungkin membatalkan firmannya”. Seketika itu juga, sinar putih keperakan tersebut hilang, diiringi dengan suara yang menggema; “ Wahai Abd al-Qadir, engkau selamat dari godaannku, ketauhilah, sudah ribuan salik yang berhasil aku sesatkan dengan cara seperti ini. Engkau selamat karena menggunakan akalmu, sedangkan para salik yang geblinger tersebut karena mereka mengabaikan akalnya.

Puasa sebenarnya merupakan media terbagus manusia berhubungan dengan Tuhan. Puasa menjadi ritual mediator yang menghubungkan keinginan hamba dengan kehendak dan petunjuk Tuhan. Allah dalam hadis qudsiNya mengatakan sendiri: “al-shaumu li wa ana ajzi bihi” (Puasa itu ibadah privat antara hambaKu dengan Aku, dan Aku yang akan membalasnya secara langsung).

Berkaitan dengan ini, seorang hamba yang melakukan puasa jasmani dan rohani, maka dia sebenarnya semakin dekat dengan Sang Pemberi Hidayah (al-Hadi). Oleh karenanya, hidayah, ilham dan petunjuk Allah akan semakin sering menyapanya, membimbingnya dalam jalan yang benar melalui berbagai cara dan dimensi.

Puasa yang benar akan membimbing pelakunya mudah menerima hidayah-hidayah Allah yang tersebar di alam raya ini. Dengan puasa, maka hidayah Allah akan semakin terbuka dan disematkan oleh Allah kepada mukmin yang berpuasa, sebagai ganjaran atas puasanya.

Berkaitan dengan hidayah Allah, Ibn Katsir membagi hidayah menjadi lima, yaitu pertama, hidayah naluri, yaitu petunjuk Allah yang diberikan pada manusia dan binatang, seperti rasa lapar, sakit kalo dipukul, haus dan sebagainya. Hidayah ini menempati hidayah paling bawah.

Kedua, hidayah hawassi, yaitu petunjuk Allah melalui pancaindera, seperti kemampuan melihat, mendengar, membau, dan mengecap. Indera ini diberikan kepada hewan dan manusia. Dengan hidayah hawassi ini manusia mampu melahirkan ilmu-ilmu empirik.

Ketiga, hidayah akal, yaitu petunjuk Allah yang diberikan kepada manusia melalui perantara akal. Akal hanya diberikan kepada manusia, tidak kepada hewan. Keempat, hidayah agama, yaitu petunjuk Tuhan yang diberikan kepada manusia dengan melalui perantara agama. Kelima, hidayah taufiq, yaitu petunjuk Allah yang paling besar, yaitu hidayah yang menggerakan hati hambaNya untuk memeluk Islam.

Kelima macam hidayah Allah ini akan semakin mudah ditangkap oleh hati seorang mukmin yang benar-benar berpuasa di Bulan Ramadhan. Puasa menjadikan hatinya bening dan bersih laksana batu pualam yang mampu menangkap sinar-sinar ketuhanan di alam semesta ini. Puasa adalah medan tempaan jiwa seorang mukmin, sehingga ia berubah dari “tembaga” menjadi “emas” berharga. Maka tidak salah ketika Jalaluddin Rumi, seorang sufi agung dalam kitab Matsnawi-nya mengatakan:
Selalu periksa keadaan batinmu
Menggunakan Sang Raja dari hatimu.
Tembaga tidak pernah mengetahui dirinya tembaga,
Sebelum ia berubah menjadi emas.
Cinta kasihmu tidak akan mengenal Rajanya,
Sebelum ia menyadari ketidakberdayaannya.
Ust. M. Roy Purwanto
Tafakur Ramadlan #5 1436 H.
Pertapaan Kawah Condrodimuko
(Amha/)



«
Next
This is the most recent post.
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: