Slider

Referensi Bacaan

kajian

Buletin

Informasi

Hikmah

Ibrah

Dokumentasi

Awan dan Angin dalam Kacamata Al-Quran

“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah mengarak awan kemudian mengumpulkan di antaranya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah menurunkan es dari langit, dari gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Hampir-hampir saja kilauan kilatnya menghilangkan penglihatan” (Q.S. An-Nur: 43).

Allah menjadikan angin sebagai perantara turunnya hujan. Sedemikian rapi Allah ciptakan awan, angin dan hujan untuk kepentingan manusia seluruhnya, baik dia Muslim atau kafir sekali pun, hingga manusia dapat menikmati anugerah Allah ini dengan bebas. Bagaimana proses turunnya hujan dan rahasia apakah yang Allah ungkap dalam ayat berikut ini?

Para Ulama tafsir mengatakan: “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah mengarak awan” dengan sangat lembut dan mudah “kemudian mengumpulkan di antara bagian-bagiannya yang ringan itu kemudian menjadikannya bertindih-tindih sehingga menjadi berat, maka engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah menurunkan es dari langit, dari gunung-gunung yang demikian banyak yang besarnya bagaikan gunung-gunung."

Riset ilmiah yang dilakukan oleh antariksawan dunia saat ini menjelaskan kepada kita tentang pembentukan hujan es di awan. Mereka berpendapat bahwa awan dibentuk oleh angin yang mendorong bahkan bertemu dengan awan lagi, sehingga memenuhi awan satu sama lain oleh arus udara yang disebut pembauran aliran untuk membentuk awan cumulus.

Ketika awan cumulus naik beberapa kilometer, maka tampak di langit gunung-gunung es. Kemudian, dengan bantuan angin, mulailah titik-titik es tersebut turun ke bumi, sebagian masih tetap di atas awan dan sebagian lagi meleleh sebelum mencapai tanah. Para ilmuwan mengatakan bahwa awan cumulus inilah satu-satunya awan yang menghasilkan dingin dan mengandung aliran listrik.

Jika kita perhatikan, apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an sesuai dan tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan modern dan penemuan para ilmuwan tentang angin dingin dan peran angin dalam pembentukan awan cumulus.

Sementara, aliran lisrik terbentuk pada awan yang mengandung angin dingin. Para ilmuwan juga berpendapat bahwa angin dingin tidak terdapat kecuali pada awan cumulus yang timbulnya ke atas. Oleh karena itu, firman Allah SWT “Maka engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah menurunkan es dari langit, dari gunung-gunung” ini adalah sisi ilmiah mukjizat Al-Qur’an.

Sumber : http://www.rumahruqyah.com/


Kembar 3, Semunya Hafal Al-Quran

Sungguh beruntung orang tua mereka. Perjuangan berat sang ibu melahirkan bayi kembar tiga, perjuangan membesarkan serta mendidik tiga anak sekaligus, kini berbuah manis. Bayi kembar tiga itu telah tumbuh menjadi pemuda-pemuda shalih. Yang istimewa, mereka bertiga kini hafal Al Qur’an.

Orang tua patut bangga dengan anak-anak yang hafal Qur’an seperti ini, sebab mereka adalah keluarga Allah di muka bumi. Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah:

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia” Sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits yang lain, disebutkan bahwa para penghafal Qur’an mendapatkan banyak keistimewaan dari Allah. Diantaranya, orang tuanya diberi pakaian indah yang lebih baik daripada dunia dan seisinya.

“Kemudian kedua orang tuanya dipakaikan pakaian yang lebih indah daripada dunia dan seisinya.” Mereka bertanya,”Apa yang menyebabkan kami mendapatkan hal ini ?” Maka dikatakan kepada keduanya,”Karena anak kalian berdua hafal Al-Qur’an.” (HR. Thabrani dan Baihaqi). Hanya saja sebagian ulama menilai hadits ini dhaif.

Lalu, siapa tiga pemuda kembar yang hafal Qur’an dalam foto tersebut? Hanan, Manan dan Ihsan. Demikian nama mereka seperti dirilis rumahruqyah.com. Namun, tidak disebutkan lebih detil identitas mereka dan siapa orang tua yang beruntung memiliki putra-putra hafidz tersebut.

Di laman kesukaan Damai Indonesiaku Online, puluhan ribu pengguna Facebook memberikan apresiasi kepada tiga pemuda kembar yang hafal Qur’an tersebut. Banyak pula yang berharap anak-anaknya kelak bisa hafal Qur’an seperti ketiganya.

“Subhanallah… semoga allah memberiku anak kembar, karena suamiku juga kembar. Dan semoga anak-anakku juga menjadi penghafal alqu’ran,” kata Yetti Suhariani.

“Yaa Rabbanaa, karuniakanlah juga kepada kami keturunan-keturunan yangg sholeh dn sholehah, yang menghafal Al-QuranMu, dan memahami isi kandungannya serta mengamalkannya… Aamiin…,” tulis Rina Mulyana.

“Subhanallah.. moga anakku kelak seperti mereka, amin,” tambah Andi Yuandana.

Sumber : http://www.rumahruqyah.com/



Inilah Khasiat Surat al-Fatihah

foto diambil dari google
Semua surat dalam al-Qur’an adalah istimewa. Penyebutan khasiat dalam judul tulisan ini bukan berarti menafikan khasiat surat yang lain. Melainkan penegasan bahwa ada surat-surat tertentu yang Allah Ta’ala pilih dan memiliki khasiat khusus yang tidak dimilki oleh surat yang lainnya.

Tentunya, penyebutan ini hendaknya membuat seorang hamba semakin mencintai al-Qur’an dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan mempraktekkannya.

Di dalam “Tata Cara Pengobatan Ala Nabi”, Ibnul Qayyim al Jauziyah menjelaskan khasiat surat al-Fatihah sebagai berikut:

1. Surat al-Fatihah mencakup semua makna kitab-kitab Allah Ta’ala dan mengandung Nama-nama Tuhan dan sifatnya yang mendasar, yaitu Allah, Rabb, ar-Rahman dan ar-Rahim.

2. Surat al-Fatihah mengandung penetapan tentang akhirat, penegasan tauhid, dan butuhnya makhluk kepada Allah Ta’ala dalam meminta pertolongan serta petunjuk.

3. Surat al-Fatihah merupakan doa yang paling utama, paling berkhasiat dan paling bermanfaat.

Doa inilah yang amat dibutuhkan oleh hamba-hamba-Nya, sebentuk permohonan agar diberikan jalan yang lurus, yaitu jalan yang mengandung pengetahuan, tauhid, dan penghambaan makhluk kepada Sang Khalik dengan sempurna.

4. Di dalam surat al-Fatihah terdapat tiga golongan manusia.

Pertama, manusia yang diberikan nikmat; mengetahui kebenaran, mengamalkan, mencintai, dan menghargai nikmat tersebut. Kedua, manusia yang dimurkai; mereka yang menyimpang dari kebenaran setelah mengetahuinya. Ketiga, manusia yang sesat; manusia yang tidak mengetahui kebenaran dan enggan mencarinya.

5. Tujuh makna yang terkandung di dalam surat al-Fatihah.

a). Pengukuhan qadar dan syara’ b). Nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala. c). Tempat kembali dan nubuwat. d). Penyucian jiwa. e). Perbaikan hati. f). Penyebutan kebaikan Allah Ta’ala. g). Penolak terhadap semua pelaku bid’ah dan pelaku kebatilan.

6. Surat al-Fatihah bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan dapat digunakan sebagai ruqyah bagi orang yang terkena segatan.

7. Surat al-Fatihah merupakan keikhlasan dalam beribadah, pujian kepada Allah Ta’ala, penyerahan segala urusan kepada-Nya, permohonan kepada-Nya, tawakkal kepada-Nya, dan permintaan atas semua nikmat kepada-Nya.

8. Surat al-Fatihah merupakan sebuah hidayah yang dapat mendatangkan segala kenikmatan dan menolak semua bentuk kemurkaan.

Inilah di antara khasiat surat pertama dalam al-Qur’an tersebut. Surat yang disebut Ummul Kitab, Sab’ul Matsani, dan nama-nama berkah lainnya. Beruntungnya, bagi kita kaum muslimin yang rajin mendirikan shalat, surat al-Fatihah ini otomatis dibaca minimal tujuh belas kali dalam sehari.

Dengan demikian, semoga khasiatnya bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat untuk kehidupan akhirat.

Sumber : http://bersamadakwah.net/


Asal Muasal Kaligrafi

Ungkapan kaligrafi (dari bahasa Inggris yang disederhanakan Calligrafhy) diambil dari kata Latin ”kalios” yang berarti indah dan, ”graph” yang berarti tulisan atau aksara. Arti seutuhnya kata kaligrafi adalah : kepandaian menulis indah, atau tulisan yang indah. Bahasa Arab sendiri menyebut khat yang berarti garis atau tulisan indah.

Ungkapan kaligrafi (Calligraphy), secara etimolgis berasal dari bahasa Yunani yaitu Kalios (indah) dan graphia (coretan atau tulisan) dan disebutlah dengan tulisan indah. Kaligrafi ditemukan pertama kali di Mesir. Kemudian kaligrafi tersebar ke Asia, Eropa, dan telah mengalami perubahan.

Akar kaligrafi Arab (kaligrafi Islam) adalah tulisan hieroglif Mesir (Kanaan, Semit) lalu, terpecah menjadi khat Feniqi (Fenisia) yang terpecah lagi menjadi Arami (Aram) dan Musnad (kitab yang memuat segala macam hadits). Dalam Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam (1993 : 1).

Kaligrafi Masjid
Ilmu seni tulisan Arab lazim disebut dengan ilmu Khat. Pengetahuan tentang tulis menulis ini sebahagian dari apa yang dinamakan dengan pengetahuan huruf-huruh abjad, bentuk huruf, tata cara merangkaikannya, halus dan kasarnya serta tinggi rendahnya.

Dalam dunia Islam, kaligrafi sering disebut dengan seninya Islam (The Art Of Islam), suatu kualifikasi dan penilaian yang menggambarkan kedalam makna yang ensensinya berasal dari konsep keimanan.

Oleh karena keimanan telah mendorong kaum muslimin memperindah kaligrafi dalam menyalin Al-Quran, maka penamaan kaligrafi Islam menurut tokoh kaligrafi Libanon, Kamil Al- Baba dapat diterima. Mengingat bahwa peranan Islam dalam usaha pengembangan kaligrafi Arab, maka dalam berbagai literatur sebutan Seni Kaligrafi Islam jauh lebih populer dari pada sebutan Seni Kaligrafi Arab. (Ensiklopedia Islam 3 : 1994 : 6).

Kaligrafi Islam erat kaitannya dengan sejarah muncul dan berkembangnya huruf Arab sampai huruf tersebut dipilih untuk menuliskan Al-Quran dan menjadi alat komunikasi, sehingga dikenal hampir diseluruh pelosok dunia dengan perkembangan dan dinamika masyarakat Islam.

Perkembangan tersebut erat kaitannya dengan tulis menulis yang mendapat sokongan tak sedikit dari para intelektual dan penguasa di kota – kota pusat budaya islam di Arabia, Andalusia, Sudan, Persia bahkan di India, Cina, sehingga kota dan wilayah tertentu muncul jenis-jenis tulisan dan huruf yang mampu menjadi identitas sendiri.

Seni Kaligrafi Islam merupakan kebesaran seni Islam, lahir di tengah-tengah dunia arsitektur dengan penuh keindahan . Ini dapat dibuktikan pada keanekaragaman hiasan kaligrafi yang memenuhi masjid-masjid dan bangunan yang lainya, yang ditumpahkan dalam paduan ayat-ayat Al-Quran yang mulia, hadist, atau kata-kata hikmah para ulama yang bijaksana. Demikian pula mushaf-mushaf Al-Quran banyak ditulis dengan pelbagai model Kaligrafi yang disapu corak-corak hias yang mempesona.

Sewaktu Islam berkembang dengan pesat, banyak bangsa-bangsa kelas wahid berduyun-duyun masuk Islam. Di antara orang-orang Persia, Syiria Mesir dan India, yang memilih Islam sebagai panutan terakhir, terdapat seniman-seniman mahir kenamaan di negerinya. Lantas mereka menumpahkan kepandaian seni yang dimlikinya ke dalam Islam.

Keadaan tersebut telah mendorong seni kaligrafi Islam menjadi semacam “tempat penampungan” karya arsitektur yang dikagumi. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa penerimaan seni kaligrafi sebagai model dan primadona yang merata di sebahagian kalangan umat Islam adalah karena pengaruh motivasi Al- Quran untuk mempelajarinya. Pena, tinta kertas, adalah materi-materi pokok untuk menyalurkan kaligrafi.

Kaligrafi 
Di antara semua perwujudan seni budaya Islam di Indonesia, agaknya seni kaligrafi berada pada kedudukan yang sangat menentukan. Sebab kaligrafi merupakan bentuk seni kebudayaan Islam yang untuk pertama kali ditemukan di Indonesia.

Kaligrafi menandai bahwa Islam telah masuk di Indonesia. Ini dibuktikan dari hasil penelitian tentang arkeologi kaligrafi Islam di Indonesia yang di lakukan oleh Dr. Hasan Muarif Ambary. Menurutnya setelah mengkaji secara etikgrafis, telah berkembang kaligrafi gaya Kufi (abad IX-XV M), gaya Sulus dan Nasta’lik (abad XII- XIX M) serta gaya kontemporer lain (sejak abad XIX sampai beberapa abad kemudian).

Data-datanya ditemukan pada batu nisan, makam raja-raja Islam Aceh, kompleks makam di Troloyo, Mojokerto, Keraton, Cirebon, Mataram, Ternate, Jawa, Madura, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Namun dalam kesenian kaligrafi itu sendiri memiliki rumus–rumus kaligrafi yang paling banyak digunakan, mencakup bentuk-bentuk huruf tunggal, gaya sambung, kemudian mengolahnya menjadi rangkaian kata-kata atau kalimat. Ketujuh rumus ini adalah : Gaya Sulus, Naskhi, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Kufi, Dan Riq’ah.

Sumber : anekakubahmasjid.com

Membaca Ayat-Ayat Tuhan

Salah satu jalan untuk menelusuri jejak kehadiran dan karya Tuhan adalah melalui kitab suci (kitabiyah). Bagi umat Islam tentu saja Alquran. Namun, Alquran menunjuk paling tidak ada tiga macam ayat Tuhan yang mesti dibaca dan dikaji, yaitu ayat-ayat kauniyah berupa hamparan alam semesta ini.

Keindahan dan kebesaran semesta ini tandatanda keindahan dan kebesaran Sang Penciptanya. Lainnya lagi Alquran juga menyatakan, ayat Tuhan itu tertulis dalam diri manusia (nafsiyah) yang kadang disebut mikro kosmos atau jagat cilik. Dalam diri manusia terdapat keunikan luar biasa, yang tak pernah habis-habisnya digali oleh berbagai disiplin ilmu. Puluhan ilmu pengetahuan menempatkan manusia sebagai objek kajiannya dan selalu saja berkembang dari waktu ke waktu serta memperoleh temuan baru, khususnya dalam bidang neurologi dan biomolekuler.

Satu lagi ayat-ayat kebesaran Tuhan yang terlihat dalam peristiwa-peristiwa sejarah(tarikhiyah). Berulangkali Alquran menyuruh umat Islam agar mempelajari sejarah untuk mengetahui perjalanan pasang surut sebuah bangsa. Kekuasaan Allah akan terlihat dalam peristiwaperistiwa sejarah bagi mereka yang mempelajarinya dengan melibatkan mata hati (bashirah). Empat macam ayat-ayat Tuhan tersebut saling menafsirkan, menjelaskan, dan menguatkan yang satu terhadap yang lain.

Di situlah salah satu keunikan Alquran, dirinya menyuruh agar umat Islam tidak berhenti membaca lembaran-lembaran Alquran, tapi juga mempelajari sains yang tersimpan dan tertulis di alam semesta untuk membuka dan mengetahui pesan dan kebenaran ayatayat kitabiyah, kauniyah, nafsiyah,dan tarikhiyah. Dengan demikian, bagi umat Islam, tak ada hambatan mencari ilmu pengetahuan di mana pun dan kepada siapa pun karena semua ilmu itu sumbernya dari Allah.

Kalaupun terjadi konflik antara bangsa dan umat beragama, biasanya bukan bersumber dari ilmu pengetahuan, melainkan dari dahaga dan ambisi politik serta kekuasaan. Mereka yang mendalami ilmu kedokteran dan Alquran akan sangat mudah mempertemukan atau mengintegrasikan statement kitab suci serta proses kejadian dan pertumbuhan janin. Belakangan ini bahkan ditemukan data kuantitatif yang paralel antara jumlah kata daratan dan lautan dalam Alquran berbanding sama dengan luasnya lautan dan daratan pada planet Bumi ini.

Atau pernyataan Alquran bahwa di dalam lautan terdapat pulung dengan air tawar yang jernih dan segar membuat beberapa peneliti terkaget-kaget, bagaimana bisa Alquran yang terhimpun di abad ke-6 dan Muhammad (SAW) yang hidup di padang pasir mampu membuat pernyataan demikian. Demikianlah, kemukjizatan Alquran sebagai kitab tertulis memang merupakan konsumsi dan objek penalaran, bukan mukjizat yang menantang penglihatan sebagaimana mukjizat para rasul sebelumnya.

Konsekuensi dari mukjizat kitabiyah adalah mendorong riset dan tafsiran atas kehendak Tuhan yang tersimpan di dalam teks. Maka itu, salah satu ciri budaya Islam adalah budaya teks. Alquran ditafsirkan oleh Hadits yaitu teks himpunan sabda Rasul Muhammad, sementara Alquran dan Hadits ditafsirkan terus-menerus oleh para ulama sehingga melahirkan sekian banyak mazhab.

Dalam bidang teologi, filsafat, tasawuf, fikih, politik, semuanya terdapat mazhab (school of thought) sebagai produk penafsiran atas ayat-ayat kitabiyah dan ayat tarikhiyah. Semua mazhab itu menunjukkan kekayaan, kebebasan, dan kreativitas ulama dalam upaya memahami pesan ayatayat Tuhan yang tumbuh dalam dunia Islam. Mereka sepakat pada sumber pokok ajaran Islam yaitu Alquran yang mengajarkan tauhid, namun berbeda tafsiran ketika menyangkut kontekstualisasi mengingat perbedaan zaman dan ruang serta masyarakat yang dihadapi.

Ketika umat Islam berkembang di daerah masyarakat bahari yang banyak tinggal di lautan atau sebagian umat Islam yang hidupnya lebih banyak melakukan penerbangan dari negara yang satu ke negara lain tentu kitab fikih yang disusun penduduk daratan di wilayah padang pasir dalam beberapa hal tidak cocok. Misalnya dalam hal bagaimana menentukan waktu salat dan puasa.

Begitupun fikih politik dalam sebuah negara kesultanan Islam, sistem republik seperti di Indonesia, atau pemerintahan sekuler seperti di Barat diperlukan tafsiran kontekstual terhadap ayat-ayat kitabiyah dan tarikhiyah. Karena namanya ijtihad dan tafsiran, hasilnya tidak absolut, namun merupakan usaha optimal berdasarkan nalar dan ayat-ayat Tuhan untuk meraih kebenaran.

Mengingat begitu beragam cabang ilmu dan begitu banyak intelektual dan ulama, sangat logis lalu muncul beragam pendapat. Itu sebuah kewajaran dari dinamika ilmu dan sosial. Bisa dimaklumi kalau masyarakat awam kadang menjadi bingung mau memilih pendapat yang mana. Belum lagi kadang terjadi perdebatan yang kurang bijak dari sebagian orang yang mengaku ulama untuk memaksakan kehendaknya sehingga membuat masyarakat semakin bingung.

Semua itu pada urutannya akan memperkaya khazanah pengalaman dan pengetahuan sejarah bagaimana manusia membaca ayat-ayat Tuhan untuk mendapatkan kebenaran dan memantapkan iman.

Ditulis oleh :
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Jumat, 12 Juli 2013 07:00
Editor : Hamzah
Sumber : http://www.uinjkt.ac.id/ 

Selamat Jalan Guru Kami....

Bagi kampung Pancur dan sekitarnya, tentu tidak asing lagi dengan sosok yang begitu teduh ini. Selain terkenal karena rendah hati, beliau juga terkenal karena kharismanya. Kyai pemilik pesantren di kampung Nanggor, Desa Paniis, Pandeglang - Banten ini sering dipanggil dengan sebutan Abah Haji Ahmad. 

Abah Haji Ahmad memiliki sifat yang begitu santun dan tawadhu. Sifat ini selalu muncul ketika beliau ditanya seputar penanggalan awal dan akhir bulan ramadhan. Semenjak perayaan ini berbeda-beda, Abah Haji selalu dimintai fatwanya seputar penanggalan. Sebab beliau adalah ahli dalam bidang ilmu falak satu-satunya di tempat kami. 

Ketika para untusan kampung atau ustadz bertanya terkait kapan awal dan akhir bulan ramadhan beliau selalu mengatakan : "kalau dalam hitungan tanggal sekian dan sekian... yang mau ikut dengan perhitungan ini monggo tidak juga ya tidak apa-apa...(red/)" Demikian ucapan Abah Haji. 

Dalam penghitungan Abah Haji kadang sesuai dengan pemerintah bahkan tidak juga. Karena kami merasa yakin dan percaya dengan Abah Haji, biasanya mengikuti penanggalan yang beliau tentukan. Entah itu berbarengan dengan pemerintah atau tidak, tak jadi masalah bagi kami. 

Katanya Abah Haji Ahmad memiliki ilmu Laduni. selain itu juga, cerita terkait kehebatan ilmu beliau juga sempat terdengar ke telinga saya. Konon, Abah Haji itu tahu kapan kelapa yang tua itu akan jatuh dari pohonnya. Secara tidak langsung beliau mampu membaca makhluk Allah terkait masa depannya. Apakah cerita ini benar atau pun salah, allahu'alam. 

Dalam pandangan saya, dari penampilan yang beliau tampilkan, justru Abah Haji Ahmad lebih ke arah ilmu tasawuf. Dalam artian lebih mengutamakan ibadah ketimbang mencari dunia. Ketika dimintai untuk membantu, dengan keikhlasan, misalkan mendoakan mereka yang punya kegalauan, kehidupannya dilanda masalah, bahkan sering dimintai do'anya supaya yang bersangkutan diberikan kemudahan. 

Abah Haji tidak memiliki sifat keras, Kasar dan saklek. Meski di kampung yang beliau tempati sering mengadakan hiburan malam, rasanya beliau tetap memberikan kebebasan. Bahkan di pesantren beliau juga sering mengadakan pengajian rutin untuk para ustadz, biasanya seminggu sekali. Pengajian ini membahas kita-kitab kuning sebagai tambahan pengetahuan bagi para ustadz yang lainnya. 

Pada malam Kamis bertepatan dengan tanggal 04 Silih Syawal 1433 H atau 20 September 2012, kami digemparkan dengan wafatnya Abah Haji Ahmad bin Haji Martaja. Kami merasa kehilangan dan sedih. Karena sosok beliau selama ini menjadi penentram jiwa dan tempat bertanya kami. 

Semua ini sudah takdir Allah swt, semoga beliau mendapatkan tempat yang paling mulia di Sisi Allah. Dan semoga Allah menempatkan di tempat yang terbaik, sebagaimana atas kebaikannya kepada kami ketika di dunia ini. Amiiin. []  

Nasehat Bagi Pelaku Maksiat

Suatu ketika seorang lelaki mendatangi Ibrohim bin Ad-ham… ia mengatakan: “Wahai Abu Ishaq (panggilan kesayangan Ibrohim)! Sungguh, aku ini orang yang terlalu menuruti hawa nafsuku, maka ku mohon berikan aku nasihat yang dapat mencegah dan menyelamatkan hatiku!

Maka Ibrohim mengatakan: “Jika kamu setuju dan mampu menerapkan lima perkara ini, maka kemaksiatan tidak lagi membahayakanmu, dan kenikmatan tidak lagi menjerumuskanmu”.

Lelaki itu mengatakan: “Wahai Abu Ishaq, Sebutkanlah lima perkara itu!”

Ibrohim mengatakan: “Yang pertama: Jika kamu ingin melakukan maksiat kepada Alloh azza wajall, maka janganlah makan dari rizki-Nya!”

Maka lelaki itu mengatakan: “Lantas dari mana aku akan makan, sedang semua yang ada di bumi ini termasuk rizki-Nya?!”

Ibrohim menimpali: “Jika demikian, Apakah pantas kamu makan dari rizki-Nya, lalu kamu melakukan maksiat pada-Nya?!”

Lelaki itu mengatakan: “Tentunya tidak… Sebutkanlah yang kedua!”

Ibrohim mengatakan: “Jika kamu ingin bermaksiat pada-Nya, maka jangan menempati negeri milik-Nya!”

Maka lelaki itu mengatakan: “Ini malah lebih berat dari yang pertama… Jika semua negeri dari timur sampai barat itu milik-Nya, lantas dimana aku akan bertempat?!”

Ibrohim menimpali: “Jika demikian, Apakah pantas kamu makan dari rizki-Nya dan menempati negeri milik-Nya, lalu kamu melakukan maksiat pada-Nya?!”

Lelaki itu mengatakan: “Tentunya tidak… Sebutkanlah yang ketiga!”

Ibrohim mengatakan: “Jika kamu ingin bermaksiat pada-Nya, sedang kamu mendapat rizki dari-Nya dan menempati negeri milik-Nya, maka carilah tempat yang tidak bisa terlihat oleh-Nya, lalu lakukanlah maksiat di tempat itu!”

Maka lelaki itu mengatakan: “Wahai Ibrohim, bagaimana ini mungkin, sedang Dia bisa melihat apapun yang tersembunyi?!”

Ibrohim menimpali: “Jika demikian, apakah pantas kamu makan dari rizki-Nya, dan menempati negeri milik-Nya, kemudian kamu melakukan maksiat kepada-Nya padahal Dia melihatmu dan semua gerak-gerikmu?!”.

Lelaki itu menjawab: “Tentunya tidak… Sebutkanlah yang keempat!”

Ibrohim mengatakan: “Jika nanti datang Malaikat Kematian untuk mencabut nyawamu, maka katakan padanya: ‘Tanggguhkanlah kematianku, sehingga aku bisa menjalani taubat nasuha dan melakukan amalan-amalan yang baik’!”

Maka lelaki itu mengatakan: “Ia takkan menuruti permintaanku”

Ibrohim menimpali: “Jika kamu tidak mampu menolak kematian untuk bertaubat, dan kamu tahu bahwa jika datang kematian maka tidak mungkin lagi ditangguhkan, lantas bagaimana kamu akan menyelamatkan diri?!”

Lelaki itu mengatakan: “Sebutkanlah yang kelima!”

Ibrohim mengatakan: “Jika Malaikat Zabaniyah nanti datang untuk menggiringmu ke Neraka, maka jangan mau pergi bersamanya!”

Lelaki itu mengatakan: “Mereka tidak akan membiarkan dan mendengarkan ucapanku”

Ibrohim menimpali: “Lantas bagaimana kamu mengharapkan keselamatan?!”

Maka lelaki itu mengatakan: “Wahai Ibrohim, cukup… cukup… Aku sekarang mohon ampun dan bertaubat kepada-Nya”

Akhirnya lelaki itu selalu menemani Ibrohim dalam ibadah, hingga kematian memisahkan keduanya…

(Diterjemahkan oleh: Abu Abdillah Addariny, MA . dari Kitab at-Tawwaabiin, karya al-Muwaffaq Ibnu Qudamah al-Maqdisi, hal: 285-286)

Sumber : http://www.konsultasisyariah.com/

Melihat Arah Kiblat Masjid-Masjid di Panunggulan

Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah swt, karena setelah melihat sebuah informasi di salah satu blog [lupa nama blognya] akhirnya saya mencoba dan mencari tahu semua tentang hal itu.

Baiklah supaya tidak penasaran, yang saya maksudkan disini adalah mengukur ketepatan arah kiblat pada sebuah mesjidyang terletak di sekitar Desa Sukasari  Kecamatan, Tunjung Teja, Serang - Banten, yang tak lain kampung tersebut adalah tempat saya dilahirkan dan sekaligus tempat yang begitu bersejarah.

Adapun arah kiblat dipindahkan oleh Allah, silakan bisa baca disini dan disini. Sebagai referensi sumber bacaan dan sekaligus informasi tambahan bagi pembaca. Hasil pengukuran masjid-masjid Panunggulan dan Sukasari bisa KLIK DISINI

Dari pengamatan saya, melalui google maps di atas. Dari ke tujuh masjid tersebut yang yang paling sedikit memiliki kemiringannya (sekian mili) dari garis Merah (di atas) adalah Masjid Kampung Nanggor. Kemudian Masjid Pancur, yaitu kurang ke sebelah utara sedikit, diikuti masjid Kubang, Masjid Kupluk, Masjid Ancol dan masjid Kp. Sukasari. Sedangkan Masjid Kp. Kalong (kebablasan) lebih miring ke Utara dan kurang miring ke selatan.

Garis merah tersebut ialah garis yang langsung ditarik dari ka'bah. sehingga ke tepatannya bisa dikatakan tepat. Berikut ini hasil dari percobaan yang saya lakukan : disini

Dari penelusuran yang saya lakukan, sedikitpun tidak ada unsur apapun. Apalagi merasa paling benar sehingga menyalahkan orang lain. Hanya gara-gara salah sedikit dan masalah furuiyahmalah dibesar-besarkan.

Mengutip perkataan para Imam : "pendapatku benar, tapi bisa saja salah, dan pendapat mereka mungkin salah, tapi bisa juga benar." Allâhu’alam []